Peternakan domba memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat Afrika Barat. Hewan ini bukan sekadar sumber daging, tetapi juga tabungan hidup, simbol status sosial, dan penyangga ekonomi keluarga. Di wilayah perkotaan dan pinggiran kota seperti di selatan Benin, peternakan domba berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan pangan hewani. Namun, pertanyaan besar muncul: bagaimana cara menilai apakah sistem peternakan ini benar benar berkelanjutan.
Banyak lembaga internasional menilai keberlanjutan peternakan menggunakan indikator yang dikembangkan di negara negara maju. Indikator ini biasanya menekankan efisiensi produksi, emisi gas rumah kaca, dan penggunaan teknologi modern. Masalahnya, pendekatan seperti ini sering tidak sesuai dengan realitas lokal Afrika. Peternakan domba di Afrika Barat memiliki tujuan, tantangan, dan konteks sosial yang sangat berbeda dari peternakan di Eropa atau Amerika Utara.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penilaian keberlanjutan yang efektif harus melibatkan peternak sebagai aktor utama. Studi ini menempatkan peternak bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai mitra dalam merancang indikator keberlanjutan. Pendekatan ini dikenal sebagai co designing sustainability assessment, yaitu merancang indikator keberlanjutan secara bersama sama antara peneliti dan pelaku lapangan.
Para peneliti melakukan studi di wilayah urban dan peri urban selatan Benin, kawasan yang mengalami pertumbuhan pesat peternakan domba. Mereka melibatkan seratus peternak dari tiga tipe sistem produksi yang berbeda. Sistem pertama adalah specialized sheep fattening, yaitu usaha penggemukan domba secara intensif untuk pasar. Sistem kedua adalah emerging sheep farms, yaitu peternakan yang sedang berkembang dan mulai mengadopsi praktik semi modern. Sistem ketiga adalah traditional sheep farms, yaitu peternakan tradisional berbasis rumah tangga.
Peneliti menggunakan pendekatan partisipatif berbasis analisis Strengths Weaknesses Opportunities Threats atau SWOT. Pendekatan ini mengajak peternak mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam sistem usaha mereka sendiri. Dari proses diskusi dan wawancara terbuka, peneliti menyusun indikator keberlanjutan yang benar benar mencerminkan kondisi lokal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak memiliki cara pandang yang luas tentang keberlanjutan. Bagi mereka, keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga ekonomi, sosial, dan budaya. Peternak menilai sistem yang berkelanjutan sebagai sistem yang mampu memberi penghasilan stabil, menjaga kesehatan ternak, mempertahankan hubungan sosial, dan tetap bertahan dalam kondisi krisis.
Dalam aspek ekonomi, peternak menekankan pentingnya akses pakan yang terjangkau, kestabilan harga domba, dan kemampuan menjual ternak saat dibutuhkan. Mereka tidak selalu mengejar produksi maksimum. Banyak peternak justru mengutamakan fleksibilitas, yaitu kemampuan menjual domba sebagai respon cepat terhadap kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah atau pengobatan.
Dalam aspek lingkungan, peternak memandang pengelolaan limbah dan ketersediaan pakan sebagai isu utama. Mereka menyadari bahwa kepadatan ternak yang terlalu tinggi dapat menimbulkan bau, penyakit, dan konflik dengan tetangga. Oleh karena itu, peternak menilai keberlanjutan dari kemampuan menjaga kebersihan kandang, memanfaatkan limbah secara aman, dan menghindari gangguan lingkungan sekitar.
Aspek sosial menjadi komponen yang sangat menonjol dalam hasil penelitian. Peternakan domba sering melibatkan seluruh anggota keluarga. Perempuan dan anak anak berperan dalam pemberian pakan, pembersihan kandang, dan pemasaran. Peternak menilai sistem yang berkelanjutan sebagai sistem yang tidak membebani keluarga secara berlebihan dan tetap memungkinkan anak anak bersekolah.
Menariknya, peternak juga memasukkan kesehatan hewan sebagai indikator utama keberlanjutan. Mereka mengaitkan kesehatan ternak dengan akses terhadap layanan veteriner, pengetahuan tentang penyakit, dan kemampuan membeli obat. Sistem yang sering mengalami wabah penyakit dianggap tidak berkelanjutan, meskipun secara ekonomi terlihat menguntungkan dalam jangka pendek.
Studi ini juga menunjukkan perbedaan prioritas antar tipe peternakan. Peternak penggemukan intensif lebih fokus pada keuntungan ekonomi dan efisiensi pakan. Peternak tradisional lebih menekankan ketahanan sistem dan peran sosial ternak. Sementara itu, peternak yang sedang berkembang berada di tengah tengah, berusaha menyeimbangkan modernisasi dengan keterbatasan sumber daya.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi kebijakan peternakan. Program pembangunan sering gagal karena menggunakan indikator keberlanjutan yang tidak relevan dengan kebutuhan lokal. Dengan melibatkan peternak dalam merancang indikator, kebijakan dapat menjadi lebih tepat sasaran dan mudah diterima.
Pendekatan partisipatif juga membantu membangun rasa memiliki terhadap konsep keberlanjutan. Peternak tidak lagi melihat keberlanjutan sebagai tuntutan eksternal dari pemerintah atau lembaga internasional. Mereka memahaminya sebagai alat untuk memperbaiki usaha dan kualitas hidup mereka sendiri.
Bagi dunia peternakan global, penelitian ini memberi pelajaran penting. Keberlanjutan bukan konsep tunggal yang bisa diterapkan secara seragam di semua tempat. Setiap wilayah memiliki cara sendiri dalam menyeimbangkan produksi, lingkungan, dan kehidupan sosial. Indikator keberlanjutan yang baik harus tumbuh dari bawah, dari pengalaman nyata para peternak.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan pertumbuhan penduduk, peternakan domba Afrika Barat menunjukkan bahwa sistem kecil dan menengah tetap memiliki masa depan. Dengan pendekatan yang menghargai pengetahuan lokal dan realitas sosial, peternakan dapat berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan bukan hanya soal angka dan grafik. Keberlanjutan adalah tentang manusia, hewan, dan lingkungan yang hidup berdampingan. Dengan mendengarkan suara peternak, sains peternakan dapat menjadi lebih relevan, adil, dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Medenou, CMEH dkk. 2026. Co-designing sustainability assessment indicators for sheep farming in West Africa using a Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threats analysis approach. Animal-Open Space 5, 100126.


