Para peneliti peternakan kini menghadapi tantangan besar ketika sektor sapi harus tetap produktif sekaligus menekan emisi gas metana yang berkontribusi pada perubahan iklim. Metana berasal terutama dari proses pencernaan sapi dan sering disebut sebagai gas rumah kaca yang kuat. Di Jepang, perhatian terhadap emisi metana dari sapi potong semakin meningkat karena jumlah emisinya bahkan lebih besar dibandingkan sapi perah. Sebuah riset terbaru tentang sapi Japanese Black menawarkan cara baru yang lebih cerdas untuk memahami dan memprediksi emisi metana dengan melihat kondisi fisiologis tubuh sapi itu sendiri.
Sapi Japanese Black dikenal luas sebagai penghasil daging wagyu berkualitas tinggi. Peternak memelihara sapi ini dengan perhatian besar terhadap pakan, kesehatan, dan pertumbuhan. Namun kualitas daging yang unggul tidak berarti sektor ini bebas dari tantangan lingkungan. Proses fermentasi di dalam rumen atau lambung sapi menghasilkan metana sebagai produk samping alami. Gas ini keluar melalui sendawa sapi dan terlepas ke atmosfer. Jika peternak dan ilmuwan mampu memperkirakan berapa banyak metana yang dihasilkan setiap sapi, mereka dapat merancang strategi pakan dan manajemen ternak yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Selama ini, pengukuran emisi metana sering membutuhkan alat mahal dan rumit. Metode yang umum memerlukan kandang khusus atau peralatan laboratorium yang tidak praktis untuk digunakan secara luas di peternakan. Penelitian terbaru ini mencoba pendekatan berbeda. Para ilmuwan mengembangkan persamaan prediksi yang memanfaatkan ciri fisiologis sapi, seperti zat kimia dalam darah dan rumen, untuk memperkirakan emisi metana harian. Pendekatan ini membuka peluang baru karena pengukuran fisiologis relatif lebih mudah dilakukan dalam sistem peternakan modern.
Penelitian ini melibatkan lebih dari seratus lima puluh sapi Japanese Black, termasuk sapi betina muda dan sapi jantan. Para peneliti mengukur emisi metana menggunakan metode penciuman gas pernapasan yang membandingkan konsentrasi metana dengan karbon dioksida. Selain itu, mereka mengumpulkan data tentang berbagai indikator fisiologis, seperti kadar amonia rumen, asam lemak volatil, urea darah, dan beberapa senyawa lain yang mencerminkan proses metabolisme sapi. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan statistik canggih untuk menemukan hubungan paling kuat dengan produksi metana.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi metana tidak hanya berkaitan dengan jumlah pakan yang dimakan atau pertambahan bobot badan. Kondisi fisiologis sapi memainkan peran penting. Misalnya, kadar asam lemak tertentu di rumen mencerminkan bagaimana mikroba mencerna pakan dan menghasilkan energi. Proses ini secara langsung berkaitan dengan pembentukan metana. Ketika peneliti memasukkan data fisiologis tersebut ke dalam persamaan prediksi, tingkat akurasi perkiraan emisi metana meningkat secara signifikan dibandingkan model lama yang hanya mengandalkan data konsumsi pakan.
Temuan ini membawa pesan penting bagi peternak. Tubuh sapi menyimpan banyak informasi tentang dampak lingkungannya. Dengan memantau indikator kesehatan dan metabolisme, peternak dapat memperkirakan emisi metana tanpa harus mengukur gas secara langsung. Pendekatan ini sejalan dengan konsep peternakan presisi, di mana teknologi dan data membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat dan efisien. Peternak dapat menyesuaikan pakan, memilih ternak dengan karakteristik fisiologis tertentu, dan mengelola kandang dengan cara yang lebih berkelanjutan.
Dari sudut pandang kesejahteraan hewan, pendekatan ini juga memberi keuntungan. Sapi yang memiliki metabolisme lebih efisien sering kali menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik. Dengan demikian, upaya mengurangi emisi metana dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan sapi. Peternakan tidak perlu memilih antara lingkungan dan keuntungan ekonomi. Penelitian ini menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan bersama jika didukung oleh pemahaman ilmiah yang tepat.
Dampak lebih luas dari riset ini juga penting untuk kebijakan dan perencanaan sektor peternakan. Pemerintah dan lembaga terkait memerlukan data yang akurat untuk merancang target pengurangan emisi. Persamaan prediksi berbasis fisiologi memberikan alat baru yang lebih fleksibel dan aplikatif. Model ini dapat disesuaikan dengan kondisi lokal, jenis sapi, dan sistem pemeliharaan yang berbeda. Dalam jangka panjang, pendekatan serupa dapat diterapkan di negara lain dengan modifikasi sesuai kondisi setempat.
Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan, dan kualitas pakan dapat memengaruhi kondisi fisiologis sapi. Oleh karena itu, model prediksi perlu terus diperbarui dengan data baru agar tetap akurat. Kolaborasi antara ilmuwan, peternak, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk menerjemahkan temuan ilmiah ini ke dalam praktik lapangan.
Penelitian tentang sapi Japanese Black ini mencerminkan perubahan cara pandang dalam peternakan modern. Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya fokus pada produksi semata, tetapi juga pada dampak lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan memahami hubungan antara tubuh sapi dan emisi metana, sektor peternakan dapat bergerak menuju sistem yang lebih cerdas, efisien, dan bertanggung jawab. Langkah kecil dalam memahami fisiologi sapi dapat membawa perubahan besar bagi iklim, pangan, dan masa depan peternakan global.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Lee, Huseong dkk. 2026. Prediction Equation Development for Methane‐Related Traits Accounting for Physiological Traits in Japanese Black Cattle. Animal Science Journal 97 (1), e70144.


