Peternak Melawan Iklim Ekstrem: Kisah Pangan dan Penghidupan di Semenanjung Arab

Peternakan memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat di kawasan Semenanjung Arab, baik sebagai sumber pangan, penghidupan, maupun penopang budaya lokal. Wilayah ini menghadapi tantangan iklim yang semakin berat, sehingga perubahan iklim tidak lagi menjadi isu lingkungan semata, melainkan persoalan ekonomi dan sosial yang nyata bagi para peternak. Suhu yang terus meningkat, curah hujan yang semakin jarang, dan keterbatasan air bersih memengaruhi cara manusia memelihara ternak dan memenuhi kebutuhan pangan sehari hari.

Semenanjung Arab dikenal sebagai kawasan yang kering dengan kondisi alam ekstrem. Dalam beberapa dekade terakhir, suhu udara meningkat lebih cepat dibandingkan rata rata global. Gelombang panas menjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini memberi tekanan besar pada ternak seperti sapi, kambing, dan domba yang sensitif terhadap panas. Ternak yang mengalami stres panas cenderung makan lebih sedikit, mudah terserang penyakit, dan menghasilkan daging maupun susu dalam jumlah lebih rendah. Dampak ini langsung terasa pada pendapatan peternak, terutama mereka yang bergantung pada usaha skala kecil.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Air menjadi persoalan utama dalam peternakan di wilayah ini. Sumber air tawar semakin menipis akibat penurunan curah hujan dan pengambilan air tanah secara berlebihan. Peternakan membutuhkan air tidak hanya untuk minum ternak, tetapi juga untuk membersihkan kandang dan mendukung produksi pakan. Ketika air langka, biaya produksi meningkat karena peternak harus membeli air atau bergantung pada teknologi mahal seperti desalinasi. Kondisi ini mempersempit keuntungan dan memperlebar kesenjangan antara peternak kecil dan usaha peternakan besar yang memiliki modal lebih kuat.

Ketersediaan pakan ternak juga menghadapi tantangan serius. Lahan subur di Semenanjung Arab terbatas, sementara perubahan iklim memperburuk kualitas tanah dan menurunkan hasil tanaman pakan. Banyak negara di kawasan ini mengandalkan impor pakan dari luar negeri. Ketergantungan ini membuat sektor peternakan rentan terhadap fluktuasi harga global dan gangguan rantai pasok. Ketika harga pakan naik, biaya produksi ikut melonjak, dan harga produk ternak pun cenderung meningkat bagi konsumen.

Perubahan iklim berdampak langsung dan tidak langsung pada pertanian melalui cuaca ekstrem yang menurunkan hasil panen, mengganggu rantai pasok pangan, serta memperbesar risiko kerawanan pangan, kemiskinan, dan masalah sosial ekonomi secara global (Rouf & Tanveer, 2026).

Dampak perubahan iklim pada peternakan tidak berhenti pada aspek produksi. Masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidup pada ternak menghadapi risiko sosial yang besar. Penurunan produktivitas ternak berarti berkurangnya pendapatan rumah tangga. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mendorong urbanisasi karena generasi muda memilih meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota. Perubahan pola hidup ini berpotensi mengikis pengetahuan tradisional tentang beternak yang selama berabad abad menjadi bagian dari identitas budaya kawasan.

Kesehatan hewan juga menjadi perhatian utama. Suhu tinggi dan perubahan pola musim menciptakan lingkungan yang lebih mendukung penyebaran penyakit ternak. Beberapa penyakit yang sebelumnya jarang muncul kini menjadi lebih sering ditemukan. Peternak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan dan pencegahan penyakit, termasuk vaksinasi dan obat obatan. Tanpa dukungan layanan kesehatan hewan yang memadai, risiko kerugian ekonomi semakin besar, terutama bagi peternak kecil.

Meski tantangan tersebut berat, berbagai negara di Semenanjung Arab mulai mengembangkan strategi adaptasi. Peternak dan pemerintah mendorong penggunaan sistem peternakan yang lebih efisien dalam penggunaan air dan energi. Contohnya, kandang dirancang dengan ventilasi dan naungan yang lebih baik untuk mengurangi stres panas pada ternak. Beberapa wilayah juga mulai memanfaatkan limbah peternakan untuk menghasilkan energi biogas, sehingga biaya operasional dapat ditekan sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Inovasi dalam manajemen pakan menjadi kunci penting. Penelitian mendorong pemanfaatan pakan lokal yang lebih tahan terhadap kondisi kering, serta penggunaan sisa hasil pertanian sebagai pakan alternatif. Pendekatan ini membantu mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan sistem peternakan. Selain itu, perbaikan manajemen pemberian pakan dapat meningkatkan efisiensi, sehingga ternak menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit.

Peran kebijakan publik sangat menentukan arah masa depan peternakan di kawasan ini. Pemerintah dapat mendukung peternak melalui subsidi teknologi hemat air, pelatihan adaptasi iklim, dan penguatan layanan kesehatan hewan. Investasi pada riset dan penyuluhan membantu peternak memahami cara menghadapi perubahan iklim secara praktis. Kolaborasi antara sektor pertanian, peternakan, energi, dan air juga menjadi penting karena tantangan yang dihadapi bersifat saling terkait.

Kesadaran masyarakat turut memengaruhi keberhasilan adaptasi. Konsumen yang memahami keterbatasan lingkungan cenderung lebih menghargai produk peternakan lokal dan mendukung praktik berkelanjutan. Perubahan pola konsumsi, seperti mengurangi pemborosan pangan, dapat menurunkan tekanan pada sistem produksi secara keseluruhan. Langkah kecil di tingkat rumah tangga memberi dampak besar ketika dilakukan secara luas.

Masa depan peternakan di Semenanjung Arab bergantung pada kemampuan manusia menyeimbangkan kebutuhan pangan dengan keterbatasan alam. Perubahan iklim memang membawa risiko besar, tetapi juga membuka peluang untuk berinovasi dan membangun sistem peternakan yang lebih tangguh. Dengan pendekatan yang tepat, peternakan tetap dapat menjadi sumber penghidupan, penjaga ketahanan pangan, dan bagian penting dari pembangunan sosial ekonomi di kawasan yang kering ini.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Rouf, Zaiema & Tanveer, Aasimah. 2026. Socio-Economic Dimensions of Climate Change in the Arabian Peninsula: Challenges and Strategic Responses. Climate Change in the Arabian Peninsula: Challenges and Pathways to Solutions, 129-160.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top