Peternak di Mesir menghadapi ancaman serius yang terus berulang dari penyakit mulut dan kuku. Penyakit ini bukan penyakit baru, tetapi dampaknya tetap besar hingga hari ini. Wabah yang muncul berulang kali menyebabkan kerugian ekonomi, menurunkan produksi susu dan daging, serta meningkatkan angka kematian ternak muda. Sebuah kajian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa perubahan virus penyakit mulut dan kuku menjadi tantangan utama yang harus dihadapi sektor peternakan di negara tersebut.
Penyakit mulut dan kuku menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kerbau, domba, dan kambing. Virus ini sangat mudah menular melalui kontak langsung, udara, peralatan, hingga manusia yang berpindah dari satu kandang ke kandang lain. Gejala utamanya berupa lepuh di mulut dan kaki yang membuat hewan sulit makan dan berjalan. Pada ternak dewasa, penyakit ini jarang menyebabkan kematian, tetapi menurunkan produktivitas secara drastis. Pada ternak muda, risiko kematian jauh lebih tinggi.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Sejak dekade 1950 an, Mesir mengalami berbagai gelombang wabah penyakit mulut dan kuku. Beberapa tipe virus seperti O, A, dan SAT2 muncul silih berganti. Setiap tipe memiliki karakteristik berbeda dan tidak selalu bisa dicegah dengan vaksin yang sama. Masalah semakin rumit karena virus ini terus berubah dari waktu ke waktu. Perubahan kecil pada struktur virus dapat membuat vaksin lama menjadi kurang efektif.
Penelitian terbaru menyoroti munculnya garis keturunan virus baru yang disebut SAT1. Garis keturunan ini sebelumnya tidak tercatat sebagai ancaman utama di Mesir. Kehadirannya menandakan bahwa virus dapat masuk melalui pergerakan hewan lintas negara, perdagangan regional, atau jalur transportasi yang tidak terpantau dengan baik. Ketika virus baru masuk, sistem pengendalian yang ada sering kali belum siap.
Perubahan virus inilah yang menjadi inti masalah. Virus penyakit mulut dan kuku memiliki kemampuan untuk bermutasi dengan cepat. Mutasi ini menyebabkan perbedaan antigen, yaitu bagian virus yang dikenali oleh sistem kekebalan tubuh. Jika antigen berubah, vaksin yang dirancang berdasarkan virus lama tidak lagi memberikan perlindungan optimal. Akibatnya, ternak yang sudah divaksin tetap dapat terinfeksi.
Peneliti menekankan pentingnya pemantauan virus secara rutin. Dengan mempelajari sampel virus dari lapangan, ilmuwan dapat mengetahui tipe dan variasi virus yang sedang beredar. Informasi ini sangat penting untuk menentukan jenis vaksin yang tepat. Tanpa pemantauan yang baik, program vaksinasi berisiko menjadi sekadar rutinitas tanpa hasil maksimal.

Kebijakan vaksinasi di Mesir selama ini berupaya mengikuti perkembangan virus, tetapi sering menghadapi keterbatasan. Produksi vaksin memerlukan waktu, biaya, dan fasilitas khusus. Ketika virus berubah dengan cepat, vaksin yang tersedia bisa tertinggal. Selain itu, distribusi vaksin ke wilayah pedesaan juga menghadapi tantangan logistik dan keterbatasan sumber daya.
Dampak wabah penyakit mulut dan kuku tidak hanya dirasakan oleh peternak skala besar. Peternak kecil justru menjadi kelompok paling rentan. Banyak keluarga bergantung pada satu atau dua ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Ketika ternak sakit, pendapatan menurun drastis dan biaya pengobatan meningkat. Dalam beberapa kasus, peternak terpaksa menjual ternak dengan harga rendah atau kehilangan seluruh sumber penghidupan.
Penyakit ini juga memengaruhi ketahanan pangan nasional. Penurunan produksi susu dan daging dapat menyebabkan kenaikan harga pangan. Ketergantungan pada impor meningkat, sementara tekanan terhadap anggaran negara bertambah. Oleh karena itu, pengendalian penyakit mulut dan kuku bukan sekadar isu kesehatan hewan, tetapi juga isu ekonomi dan sosial.
Penelitian ini memberikan pesan penting bahwa strategi pengendalian harus bersifat adaptif. Pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan vaksinasi berdasarkan data ilmiah terbaru. Kolaborasi antara laboratorium penelitian, otoritas veteriner, dan peternak menjadi kunci keberhasilan. Peternak perlu mendapatkan informasi yang jelas tentang pentingnya vaksinasi, biosekuriti, dan pelaporan dini jika terjadi gejala penyakit.
Biosekuriti memainkan peran besar dalam mencegah penyebaran virus. Langkah sederhana seperti membatasi keluar masuk orang ke kandang, membersihkan peralatan, dan memisahkan ternak baru dapat mengurangi risiko penularan. Edukasi tentang biosekuriti perlu disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah diterapkan di tingkat peternak.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya kerja sama regional. Virus penyakit mulut dan kuku tidak mengenal batas negara. Perdagangan ternak antar negara di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah meningkatkan risiko penyebaran virus baru. Kerja sama lintas negara dalam pemantauan dan pertukaran data menjadi sangat penting untuk mengantisipasi wabah sejak dini.
Di masa depan, pengembangan vaksin yang lebih fleksibel dan cepat menjadi kebutuhan mendesak. Teknologi vaksin modern memungkinkan penyesuaian yang lebih cepat terhadap perubahan virus. Investasi dalam riset dan infrastruktur kesehatan hewan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi sektor peternakan.
Kisah penyakit mulut dan kuku di Mesir menunjukkan bahwa tantangan peternakan modern tidak hanya datang dari pakan atau produksi, tetapi juga dari dinamika penyakit yang kompleks. Dengan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, kebijakan yang adaptif, dan keterlibatan aktif peternak, dampak penyakit ini dapat ditekan. Upaya tersebut tidak hanya melindungi ternak, tetapi juga menjaga kesejahteraan jutaan keluarga yang bergantung pada sektor peternakan.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Abousenna, Mohamed Samy. 2026. Current situation and emerging foot-and-mouth disease virus lineages in Egypt: Historicment SAT1 Introduction, and Vaccine Policy Implications. Veterinary Immunology and Immunopathology 292, 111063.


