Masyarakat pedesaan di banyak negara menggantungkan hidupnya pada ternak setiap hari. Sapi, kambing, dan domba memberi susu, daging, tenaga kerja, serta rasa aman ketika hasil panen tanaman menurun. Namun di balik manfaat besar itu, penyakit ternak masih menjadi masalah serius yang sering luput dari perhatian. Sebuah penelitian di wilayah East Gojjam, Ethiopia, menunjukkan bahwa cara masyarakat memahami dan menangani penyakit ternak sangat menentukan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
Ternak hidup sangat dekat dengan manusia di wilayah pedesaan Ethiopia. Banyak keluarga memelihara hewan di sekitar rumah atau bahkan di dalam satu kawasan hunian. Kedekatan ini memudahkan pemeliharaan, tetapi juga membuka jalan bagi penyebaran penyakit. Penyakit ternak tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga dapat menular ke manusia. Penyakit semacam ini dikenal sebagai penyakit zoonosis dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan masyarakat.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Penelitian yang dilakukan di East Gojjam melibatkan lebih dari empat ratus responden dari beberapa distrik pedesaan. Para peneliti ingin mengetahui tiga hal utama. Mereka meneliti sejauh mana pengetahuan masyarakat tentang penyakit ternak, bagaimana sikap mereka terhadap risiko penyakit, dan apa yang benar benar mereka lakukan ketika ternak sakit atau mati. Ketiga aspek ini dikenal sebagai pengetahuan, sikap, dan praktik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat memahami bahwa penyakit ternak berbahaya. Lebih dari separuh responden mengetahui bahwa penyakit dapat menyebar antar ternak dan juga mengancam manusia. Banyak peternak menyadari bahwa penyakit dapat mengurangi pendapatan keluarga dan mengganggu ketahanan pangan. Pengetahuan dasar ini menunjukkan bahwa pesan kesehatan hewan sebenarnya sudah sampai ke masyarakat.
Namun, tingkat pengetahuan ini tidak merata. Pendidikan memainkan peran besar. Responden yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal jauh lebih sering memiliki pengetahuan yang rendah dibandingkan mereka yang menempuh pendidikan menengah atau tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi sangat membantu seseorang dalam menyerap pesan kesehatan.
Sikap masyarakat terhadap penyakit ternak juga cenderung positif. Mayoritas responden menganggap penyakit ternak sebagai masalah serius yang perlu dicegah. Banyak yang setuju bahwa menjaga kesehatan ternak berarti melindungi keluarga dan komunitas. Sikap ini seharusnya menjadi modal kuat untuk mendorong perubahan perilaku.
Masalah utama muncul ketika peneliti melihat praktik nyata di lapangan. Kurang dari separuh responden menerapkan tindakan pencegahan yang baik. Banyak peternak tidak menggunakan alat pelindung diri saat menangani hewan sakit. Hanya sebagian kecil yang memakai sarung tangan atau perlindungan lain ketika memeriksa ternak. Kebiasaan ini meningkatkan risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia.
Cara membuang bangkai ternak juga menimbulkan kekhawatiran. Sebagian masyarakat masih membuang bangkai di tempat terbuka atau menguburnya secara dangkal. Praktik ini memungkinkan bakteri dan virus mencemari tanah dan air. Hewan lain juga dapat bersentuhan dengan bangkai tersebut dan mempercepat penyebaran penyakit.
Kesenjangan antara pengetahuan dan praktik menjadi temuan paling penting dalam penelitian ini. Banyak orang tahu apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tidak melakukannya. Beberapa faktor menjelaskan kondisi ini. Keterbatasan ekonomi membuat peternak sulit membeli perlengkapan pelindung atau mengakses layanan kesehatan hewan. Kebiasaan turun temurun juga memengaruhi perilaku. Banyak praktik lama terus dilakukan karena dianggap wajar dan sudah berlangsung selama bertahun tahun.
Akses terhadap layanan kesehatan hewan menjadi tantangan besar lainnya. Banyak responden menyebutkan jarak yang jauh ke pusat layanan veteriner. Biaya pengobatan juga menjadi beban bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Akibatnya, peternak sering menangani penyakit sendiri tanpa bantuan tenaga profesional. Cara ini sering kali tidak efektif dan justru memperparah penyebaran penyakit.
Ketersediaan pakan juga berpengaruh besar. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menghadapi keterbatasan pakan. Ternak yang kekurangan pakan menjadi lebih lemah dan mudah terserang penyakit. Sistem penggembalaan bersama juga meningkatkan risiko penularan karena ternak dari berbagai pemilik berkumpul di satu area.
Dampak penyakit ternak tidak berhenti pada kandang. Ketika penyakit menular ke manusia, biaya pengobatan meningkat dan produktivitas menurun. Anak anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Dalam skala yang lebih luas, penyakit ternak dapat mengganggu stabilitas ekonomi desa dan meningkatkan kerentanan terhadap krisis pangan.
Penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan terpadu yang menghubungkan manusia, hewan, dan lingkungan. Konsep ini sering disebut sebagai pendekatan One Health. Pendekatan ini mengakui bahwa kesehatan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan hewan dan kondisi lingkungan. Upaya pencegahan penyakit ternak akan memberikan manfaat ganda bagi masyarakat.
Pelajaran penting dari East Gojjam sangat relevan bagi banyak wilayah pedesaan di dunia. Edukasi kesehatan hewan perlu berfokus pada praktik nyata, bukan hanya penyampaian informasi. Penyuluhan yang bersifat langsung, menggunakan contoh sederhana, dan sesuai dengan kondisi lokal akan lebih mudah diterapkan. Pendampingan berkelanjutan juga penting agar kebiasaan baru dapat terbentuk.
Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperkuat layanan kesehatan hewan di pedesaan. Kehadiran petugas veteriner yang mudah dijangkau dapat membantu peternak mengambil keputusan yang tepat. Investasi pada pendidikan dasar juga akan memberikan dampak jangka panjang bagi kesehatan ternak dan masyarakat.
Penyakit ternak bukan sekadar persoalan hewan. Masalah ini menyentuh kesehatan manusia, ekonomi keluarga, dan ketahanan pangan. Ketika pengetahuan berubah menjadi tindakan sehari hari, masyarakat dapat melindungi ternak sekaligus melindungi diri mereka sendiri. Kisah dari Ethiopia ini mengingatkan bahwa perubahan kecil dalam praktik dapat membawa dampak besar bagi kesejahteraan bersama.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Yizengaw, Liuel dkk. 2026. Knowledge, Attitudes and Practices Regarding Livestock Diseases Among Residents of East Gojjam Zone, Amhara Region, Ethiopia. Veterinary Medicine and Science 12 (1), e70743.


