Amonia dari Ternak: Masalah Sunyi di Balik Produksi Pangan

Selama ini, pembahasan tentang dampak lingkungan dari peternakan sering berfokus pada gas rumah kaca seperti metana dan karbon dioksida. Namun, ada satu zat lain yang jarang dibicarakan publik, padahal dampaknya besar bagi kualitas udara, kesehatan manusia, dan lingkungan, yaitu amonia. Amonia merupakan gas yang tidak berwarna tetapi berbau menyengat, dan dalam jumlah besar dapat mencemari udara serta memicu berbagai masalah kesehatan dan lingkungan.

Penelitian terbaru mencoba mengurai secara mendalam sumber dan pola emisi amonia di Tiongkok selama lebih dari lima belas tahun. Negara ini dipilih karena memiliki sektor pertanian dan peternakan yang sangat besar dan intensif. Dengan memanfaatkan data resolusi tinggi yang divalidasi menggunakan satelit dan pengukuran di lapangan, para peneliti mampu melacak dari mana amonia berasal, bagaimana perubahannya dari waktu ke waktu, serta apa implikasinya bagi kebijakan lingkungan.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan penyumbang utama emisi amonia nasional. Lebih dari delapan puluh persen emisi berasal dari kegiatan pertanian, terutama dari penggunaan pupuk nitrogen dan pengelolaan kotoran ternak. Dalam konteks peternakan, kotoran hewan menjadi sumber utama amonia ketika tidak dikelola dengan baik. Saat kotoran dibiarkan terbuka di kandang, lahan, atau tempat penampungan, nitrogen di dalamnya dapat berubah menjadi gas amonia dan terlepas ke udara.

Grafik ini menunjukkan bahwa emisi amonia di China pada tahun 2021 paling banyak berasal dari sektor pertanian dan peternakan di provinsi tertentu, sementara sektor lain relatif berkontribusi lebih rendah, sehingga menegaskan adanya konsentrasi spasial sumber emisi (Wang & Lv, 2026).

Penelitian ini juga mengungkap bahwa emisi amonia di Tiongkok tidak meningkat secara terus menerus. Polanya membentuk kurva seperti huruf U terbalik. Emisi meningkat hingga mencapai puncaknya sekitar tahun 2015, kemudian mulai menurun. Penurunan ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian polusi udara yang diterapkan pemerintah mulai memberikan dampak positif, meskipun belum sepenuhnya menyelesaikan masalah.

Menariknya, meskipun total emisi mulai menurun, kontribusi relatif dari peternakan justru semakin meningkat. Hal ini terjadi karena penggunaan pupuk di sektor tanaman mulai lebih terkendali, sementara intensifikasi peternakan terus berkembang. Dengan kata lain, peran ternak sebagai sumber amonia menjadi semakin penting dibandingkan sebelumnya. Temuan ini memberikan pesan kuat bahwa pengelolaan peternakan memegang peran kunci dalam upaya memperbaiki kualitas udara.

Penelitian tersebut juga memetakan wilayah wilayah dengan konsentrasi emisi amonia tertinggi. Dataran Cina Utara dan Cekungan Sichuan muncul sebagai dua kawasan utama yang menyumbang sebagian besar emisi nasional. Wilayah ini merupakan pusat produksi pertanian dan peternakan, dengan kepadatan ternak yang tinggi. Pola ini relatif stabil dari tahun ke tahun, menunjukkan bahwa masalah amonia bersifat struktural dan tidak mudah berpindah lokasi.

Bagi masyarakat awam, mungkin timbul pertanyaan, mengapa amonia perlu diperhatikan. Amonia di udara dapat bereaksi dengan polutan lain dan membentuk partikel halus yang berbahaya bagi kesehatan. Partikel ini dapat masuk ke paru paru dan meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Selain itu, amonia yang mengendap ke tanah dan perairan dapat menyebabkan kelebihan nutrisi, merusak ekosistem alami, dan menurunkan keanekaragaman hayati.

Dalam konteks peternakan, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa masalah amonia bukan semata soal bau atau kenyamanan lingkungan sekitar kandang. Dampaknya jauh lebih luas, menyangkut kualitas udara regional hingga nasional. Oleh karena itu, pengelolaan kotoran ternak yang baik menjadi semakin penting, tidak hanya untuk peternak dan masyarakat sekitar, tetapi juga untuk kepentingan publik yang lebih luas.

Penelitian ini menekankan bahwa solusi tidak bisa bersifat satu ukuran untuk semua. Setiap wilayah memiliki karakteristik produksi dan kondisi lingkungan yang berbeda. Di daerah dengan intensifikasi peternakan yang pesat, fokus kebijakan perlu diarahkan pada peningkatan manajemen ternak dan kotoran. Langkah langkah seperti penutupan tempat penyimpanan kotoran, pemrosesan kotoran sebelum diaplikasikan ke lahan, serta penyesuaian waktu dan cara pemupukan dapat mengurangi pelepasan amonia ke udara.

Teknologi juga memainkan peran penting. Inovasi dalam pengolahan kotoran, seperti fermentasi, kompos tertutup, atau pemanfaatan biogas, dapat menurunkan emisi amonia sekaligus menghasilkan manfaat tambahan berupa energi atau pupuk yang lebih stabil. Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Dukungan kebijakan, insentif ekonomi, dan peningkatan kapasitas peternak sangat diperlukan agar praktik yang lebih baik dapat diterapkan secara luas.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya data dan pemantauan yang akurat. Dengan menggunakan data resolusi tinggi, para peneliti mampu mengidentifikasi hotspot emisi secara lebih tepat. Informasi ini sangat berharga bagi pembuat kebijakan karena memungkinkan intervensi yang lebih terarah dan efisien. Alih alih menerapkan kebijakan umum yang mahal dan kurang efektif, pemerintah dapat memprioritaskan wilayah dan sektor yang paling membutuhkan perhatian.

Bagi peternak, pesan dari penelitian ini cukup jelas. Praktik pengelolaan ternak yang baik tidak hanya berdampak pada produktivitas dan keuntungan usaha, tetapi juga pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Meskipun perubahan praktik sering kali memerlukan investasi awal, manfaat jangka panjangnya dapat dirasakan dalam bentuk lingkungan yang lebih bersih, hubungan yang lebih baik dengan masyarakat sekitar, dan dukungan kebijakan yang lebih kuat.

Bagi masyarakat luas, penelitian ini membantu membuka mata bahwa persoalan polusi udara tidak hanya berasal dari kendaraan dan industri. Aktivitas pertanian dan peternakan juga memiliki peran besar, terutama di negara dengan produksi pangan skala besar. Kesadaran ini penting agar diskusi tentang lingkungan menjadi lebih seimbang dan solusi yang dihasilkan lebih komprehensif.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan dapat bekerja jika dirancang dan diterapkan dengan baik. Penurunan emisi setelah 2015 menunjukkan bahwa intervensi pemerintah mampu mengubah tren yang sebelumnya meningkat. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa penurunan ini berlanjut, terutama dengan semakin besarnya peran peternakan dalam emisi amonia.

Pada akhirnya, kajian tentang emisi amonia ini memberikan pelajaran penting bagi masa depan peternakan berkelanjutan. Produksi pangan dan perlindungan lingkungan tidak harus saling bertentangan. Dengan pengelolaan yang tepat, sektor peternakan dapat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus mengurangi dampak negatifnya terhadap kualitas udara dan ekosistem.

Masa depan peternakan akan sangat ditentukan oleh kemampuan kita mengelola detail detail yang sering luput dari perhatian, seperti emisi amonia. Penelitian ini menunjukkan bahwa di balik angka dan peta emisi, terdapat peluang besar untuk perbaikan. Dengan ilmu pengetahuan, kebijakan yang tepat, dan keterlibatan semua pihak, peternakan dapat bergerak menuju sistem yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Wang, Zongshuang & Lv, Jungang. 2026. China’s Ammonia Enigma: Decoding Sectoral Shifts, Spatial Hotspots, and Policy Pathways (2005–2021). Earth Systems and Environment, 1-12.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top