Biochar: Ketika Limbah Peternakan Menjadi Harta Karun

Limbah peternakan selama ini sering dipandang sebagai masalah. Kotoran ternak kerap dikaitkan dengan bau, pencemaran air, emisi gas rumah kaca, dan konflik lingkungan di sekitar kawasan peternakan. Padahal, di balik berbagai persoalan tersebut, limbah peternakan juga menyimpan potensi besar sebagai sumber daya berharga. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat, kotoran ternak dapat menjadi salah satu kunci menuju pertanian yang lebih berkelanjutan sekaligus membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

Salah satu pendekatan yang kini banyak dikaji adalah pemanfaatan limbah peternakan menjadi biochar. Biochar merupakan material mirip arang yang dihasilkan dari pemanasan bahan organik pada suhu tinggi dengan sedikit atau tanpa oksigen, sebuah proses yang disebut pirolisis. Proses ini telah dikenal sejak lama dalam berbagai bentuk tradisional, tetapi kini dikembangkan secara ilmiah untuk tujuan pertanian dan mitigasi perubahan iklim.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Penelitian ini berangkat dari dua fakta penting. Pertama, kotoran ternak merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca terbesar di sektor pertanian, terutama metana dan dinitrogen oksida. Kedua, kotoran ternak juga kaya akan unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman. Tantangannya adalah bagaimana mengelola limbah tersebut agar manfaatnya maksimal dan dampak lingkungannya minimal.

Dengan mengubah kotoran ternak menjadi biochar, sebagian besar karbon dalam limbah dapat distabilkan dalam bentuk padat yang tahan lama. Karbon ini tidak mudah kembali ke atmosfer sebagai karbon dioksida. Ketika biochar diaplikasikan ke tanah, ia dapat bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Inilah sebabnya biochar sering disebut sebagai teknologi penyimpanan karbon yang potensial.

Gambar ini menunjukkan bahwa pengolahan kotoran ternak menjadi biochar melalui pirolisis dapat menghubungkan sektor lahan, tanaman, ternak, dan energi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca serta meningkatkan penyerapan karbon, meski disertai trade-off terhadap harga pangan, pasokan bioenergi, dan penggunaan lahan alami (Preuss, dkk. 2026).

Penelitian ini menggunakan model global untuk melihat dampak luas dari produksi biochar berbahan limbah peternakan. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan biochar dapat meningkatkan hasil panen tanaman secara signifikan. Dalam skenario global, peningkatan hasil panen diperkirakan mencapai sekitar sepuluh persen secara rata rata. Angka ini tentu sangat berarti, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dunia.

Peningkatan hasil panen terjadi karena biochar memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Biochar membantu tanah menyimpan air lebih baik, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan mendukung kehidupan mikroorganisme tanah yang bermanfaat. Tanah yang sehat membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan dan stres lingkungan lainnya. Bagi petani, hal ini berarti produksi yang lebih stabil dan risiko gagal panen yang lebih rendah.

Selain meningkatkan produktivitas pertanian, biochar dari limbah peternakan juga berpotensi mengubah cara kita memanfaatkan lahan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan peningkatan hasil panen, kebutuhan akan pembukaan lahan baru untuk pertanian dapat ditekan. Dalam skenario tertentu, produksi pangan tambahan dapat dicapai tanpa harus memperluas lahan pertanian secara besar besaran, sehingga tekanan terhadap hutan dan ekosistem alami dapat berkurang.

Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa perubahan tersebut tidak selalu sederhana. Produksi biochar dalam skala besar membutuhkan infrastruktur, energi, dan perencanaan tata guna lahan yang matang. Jika tidak diatur dengan baik, permintaan terhadap bahan baku pirolisis bisa mendorong persaingan penggunaan lahan, termasuk dengan tanaman pangan dan hutan. Oleh karena itu, pemanfaatan biochar harus berfokus pada limbah yang benar benar tersedia, bukan mendorong produksi limbah baru.

Dari sisi peternakan, pendekatan ini membuka peluang baru. Limbah yang sebelumnya menjadi beban biaya dan sumber konflik dapat berubah menjadi produk bernilai tambah. Peternak dapat berperan sebagai penyedia bahan baku biochar, sementara petani mendapatkan manfaat berupa peningkatan kesuburan tanah. Sinergi ini mencerminkan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu sektor menjadi input bagi sektor lain.

Penelitian ini juga menyoroti dampak biochar terhadap emisi gas rumah kaca secara keseluruhan. Selain menyimpan karbon dalam jangka panjang, penggunaan biochar dapat mengurangi emisi dari tanah dan pengelolaan pupuk. Ketika biochar digunakan bersama pupuk organik atau mineral, kehilangan nitrogen ke udara dan air dapat berkurang. Hal ini tidak hanya baik bagi iklim, tetapi juga bagi kualitas lingkungan dan kesehatan manusia.

Meski menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa penerapan biochar tidak bisa dilepaskan dari aspek keadilan dan kebijakan. Penerapan teknologi ini dalam skala besar dapat memengaruhi harga pangan, terutama jika terjadi perubahan besar dalam penggunaan lahan. Oleh karena itu, kebijakan publik perlu memastikan bahwa manfaat biochar tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat luas.

Bagi masyarakat awam, konsep biochar mungkin terdengar teknis dan jauh dari kehidupan sehari hari. Namun, gagasan dasarnya sebenarnya sederhana. Limbah ternak yang selama ini dianggap masalah dapat diolah menjadi bahan yang menyuburkan tanah dan membantu menahan perubahan iklim. Dengan pendekatan ini, peternakan tidak lagi semata mata dilihat sebagai sumber emisi, tetapi juga sebagai bagian dari solusi lingkungan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa solusi perubahan iklim tidak selalu harus mengandalkan teknologi tinggi yang mahal. Mengelola limbah dengan lebih cerdas dan berbasis sains dapat memberikan dampak besar. Tentu saja, biochar bukan solusi tunggal. Namun, sebagai bagian dari strategi yang lebih luas, biochar dapat berkontribusi pada pertanian yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

Pada akhirnya, kajian tentang biochar dari limbah peternakan memberikan pelajaran penting tentang cara memandang ulang sistem pangan kita. Ketika limbah dikelola dengan baik, batas antara masalah dan solusi menjadi semakin tipis. Peternakan, pertanian, dan upaya mitigasi iklim dapat berjalan seiring jika dirancang secara terpadu dan adil.

Masa depan peternakan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak atau teknologi pakan, tetapi juga oleh bagaimana kita mengelola apa yang tersisa setelah produksi. Biochar menawarkan gambaran bahwa bahkan dari kotoran ternak, kita dapat membangun sistem pangan yang lebih tangguh, produktif, dan selaras dengan lingkungan.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Preuss, Nathan dkk. 2026. Biochar from Livestock Waste: A Pathway to Sustainable Agriculture and Climate Change Mitigation. Environmental Science & Technology.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top