Mengganti Pakan, Mengurangi Emisi: Peluang Besar yang Terlupakan

Permintaan global terhadap pangan asal hewan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi. Daging, susu, dan telur menjadi sumber protein penting bagi banyak keluarga. Namun, di balik peran penting tersebut, sektor peternakan juga menghadapi sorotan tajam karena kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca dan tekanan terhadap lahan. Tantangan besar pun muncul: bagaimana memenuhi kebutuhan pangan hewani tanpa memperparah krisis iklim dan kerusakan lingkungan.

Penelitian terbaru di bidang sistem pertanian memberikan sudut pandang yang menarik dan relatif jarang dibahas, yaitu peran pakan ternak dalam menekan emisi dan penggunaan lahan. Selama ini, diskusi publik sering berfokus pada jumlah ternak atau teknologi pengurangan emisi langsung dari hewan. Padahal, pakan ternak menyumbang bagian besar dari jejak lingkungan peternakan, baik melalui emisi selama produksi maupun perubahan penggunaan lahan untuk menanam bahan pakan.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Banyak ternak saat ini diberi pakan yang bersaing langsung dengan pangan manusia, seperti jagung, gandum, dan kedelai. Tanaman ini membutuhkan lahan luas, air, pupuk, dan energi. Ketika permintaan pakan meningkat, tekanan terhadap lahan juga meningkat, termasuk risiko pembukaan hutan dan konversi lahan alami. Proses inilah yang menyumbang emisi besar dan sering kali luput dari perhatian konsumen.

Penelitian ini mengangkat gagasan substitusi pakan ternak, yaitu mengganti sebagian pakan berbasis tanaman pangan dengan hasil samping pertanian. Hasil samping ini mencakup sisa panen, limbah pengolahan pangan, dan produk ikutan industri pertanian yang tidak dikonsumsi manusia. Contohnya adalah dedak, ampas tahu, bungkil biji minyak, jerami olahan, dan berbagai residu tanaman lainnya.

Grafik ini menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca dari pakan ternak dan potensi pengurangannya melalui penggantian pakan berbeda antar wilayah dunia dan jenis tanaman, dengan kontribusi terbesar berasal dari jagung dan gandum di kawasan tertentu (Yang, dkk. 2026).

Secara intuitif, gagasan ini terdengar sederhana. Jika ternak dapat memanfaatkan bahan yang sebelumnya terbuang atau kurang bernilai, maka kebutuhan akan tanaman pakan utama dapat dikurangi. Namun, penelitian ini melangkah lebih jauh dengan mengkaji dampaknya secara menyeluruh, tidak hanya pada emisi peternakan, tetapi juga pada perubahan penggunaan lahan dan emisi dari sistem pertanian secara keseluruhan.

Para peneliti menggunakan model terintegrasi yang menghubungkan penggunaan lahan dan emisi pertanian. Model ini memungkinkan mereka melihat gambaran besar tentang apa yang terjadi jika sebagian pakan ternak digantikan oleh hasil samping pertanian dalam skala global. Pendekatan ini penting karena perubahan di satu bagian sistem pangan sering menimbulkan dampak lanjutan di bagian lain.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pengurangan emisi dari substitusi pakan ternak sebenarnya sangat besar dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Ketika hasil samping pertanian digunakan secara lebih luas sebagai pakan, kebutuhan lahan untuk menanam tanaman pakan dapat berkurang. Pengurangan kebutuhan lahan ini berarti lebih sedikit tekanan untuk membuka lahan baru, sehingga emisi dari perubahan penggunaan lahan dapat ditekan.

Selain itu, penggunaan hasil samping sebagai pakan juga mengurangi emisi yang terkait dengan pengelolaan limbah. Banyak residu pertanian dan limbah pengolahan pangan yang jika tidak dimanfaatkan akan membusuk atau dibuang, menghasilkan emisi gas rumah kaca. Dengan mengalihkannya menjadi pakan ternak, emisi tersebut dapat ditekan sekaligus menghasilkan nilai ekonomi tambahan.

Penelitian ini juga menekankan bahwa manfaat terbesar muncul ketika substitusi pakan dilihat sebagai bagian dari sistem yang terintegrasi. Jika hanya menghitung emisi di kandang ternak, manfaatnya terlihat terbatas. Namun, ketika perubahan penggunaan lahan dan emisi pertanian diperhitungkan secara bersamaan, dampak positifnya menjadi jauh lebih signifikan. Inilah alasan mengapa pendekatan sistemik sangat penting dalam merancang kebijakan iklim di sektor peternakan.

Bagi peternak, temuan ini membuka peluang yang menarik. Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan. Pemanfaatan hasil samping pertanian yang tersedia secara lokal dapat menurunkan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pada pakan impor. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan ketahanan ekonomi peternak, terutama peternak kecil dan menengah.

Namun, penelitian ini juga mengingatkan bahwa substitusi pakan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Kualitas nutrisi, keamanan pakan, dan kesesuaian dengan jenis ternak harus diperhatikan. Tidak semua hasil samping cocok untuk semua ternak, dan beberapa memerlukan pengolahan agar aman dan mudah dicerna. Oleh karena itu, dukungan pengetahuan dan teknologi tetap menjadi faktor kunci.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini menunjukkan adanya potensi besar yang belum tergarap. Selama ini, kebijakan pengurangan emisi peternakan sering terfokus pada teknologi mahal atau target pengurangan ternak. Substitusi pakan berbasis hasil samping menawarkan alternatif yang relatif lebih terjangkau dan dapat diterapkan secara bertahap. Dengan insentif yang tepat, pemanfaatan hasil samping pertanian dapat diperluas tanpa mengorbankan produksi pangan.

Bagi masyarakat awam, pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa solusi iklim tidak selalu harus drastis atau ekstrem. Mengubah apa yang dimakan ternak ternyata bisa berdampak besar pada lingkungan. Pilihan pakan ternak yang lebih cerdas dapat membantu mengurangi emisi, menekan pembukaan lahan, dan memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien.

Penelitian ini juga menguatkan gagasan ekonomi sirkular dalam peternakan. Dalam sistem sirkular, limbah dari satu proses menjadi bahan baku bagi proses lain. Hasil samping pertanian yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi bagian penting dari sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi.

Tentu saja, substitusi pakan bukan solusi tunggal untuk semua masalah peternakan dan iklim. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa potensinya selama ini diremehkan. Ketika dikombinasikan dengan peningkatan produktivitas ternak, pengelolaan lahan yang lebih baik, dan perubahan pola konsumsi, substitusi pakan dapat menjadi bagian penting dari strategi iklim yang lebih luas.

Masa depan peternakan tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak ternak yang dipelihara, tetapi juga oleh bagaimana ternak tersebut diberi pakan. Dengan memanfaatkan hasil samping pertanian secara lebih luas dan cerdas, sektor peternakan dapat bergerak menuju sistem yang lebih efisien, lebih tangguh, dan lebih ramah lingkungan. Sains peternakan modern menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan yang tampak sederhana, termasuk apa yang kita berikan ke palung pakan ternak.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Yang, Xue dkk. 2026. Integrated land-use and agricultural emissions modeling reveals untapped mitigation potential in livestock feed substitution. Agricultural Systems 231, 104558.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top