Menanam Hutan dan Mengurangi Ternak: Dilema Iklim di Sektor Peternakan

Sektor peternakan berada di pusat perdebatan global tentang perubahan iklim. Di satu sisi, peternakan menyediakan pangan, lapangan kerja, dan penghidupan bagi jutaan orang. Di sisi lain, peternakan juga menghasilkan emisi gas rumah kaca, terutama metana dari ternak ruminansia dan dinitrogen oksida dari pengelolaan lahan. Ketika banyak negara berkomitmen mencapai emisi nol bersih atau net zero pada pertengahan abad ini, muncul pertanyaan besar: bagaimana masa depan peternakan dalam dunia yang ingin menekan emisi karbon secara drastis.

Sebuah penelitian terbaru yang mengambil contoh kasus di Skotlandia mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan pendekatan yang realistis dan berbasis data. Para peneliti meneliti bagaimana perubahan penggunaan lahan secara besar besaran dapat membantu menyeimbangkan emisi karbon. Dua strategi utama menjadi fokus kajian, yaitu perluasan hutan dan pengurangan jumlah ternak. Penelitian ini penting karena tidak melihat peternakan secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari sistem penggunaan lahan yang lebih luas.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Skotlandia dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki karakteristik yang menarik. Negara ini memiliki sektor peternakan yang kuat, terutama sapi dan domba, serta potensi besar untuk pengembangan hutan. Pada saat yang sama, Skotlandia juga memiliki target ambisius untuk mencapai net zero sesuai dengan komitmen internasional. Kondisi ini menjadikannya laboratorium alami untuk menguji berbagai skenario perubahan penggunaan lahan.

Para peneliti menggunakan model komputer yang mensimulasikan berbagai kemungkinan hingga tahun 2050. Model ini memperhitungkan pertumbuhan hutan, penyerapan karbon oleh pohon, emisi dari ternak, serta perubahan karbon di dalam tanah. Pendekatan ini penting karena dampak lingkungan tidak terjadi secara instan. Pohon membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menyerap karbon secara maksimal, sementara emisi ternak terjadi setiap tahun.

Gambar ini menjelaskan bahwa untuk mencapai target net-zero emisi diperlukan perencanaan tata guna lahan yang spesifik secara spasial, dengan mengombinasikan pengurangan ternak dan perluasan hutan/agroforestri agar penyerapan karbon oleh ekosistem dapat menyeimbangkan emisi peternakan hingga 2050 (Gimona, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman dan perluasan hutan dapat menyerap karbon dalam jumlah besar. Dalam jangka panjang, pohon mampu menangkap karbon dioksida dari atmosfer dan menyimpannya dalam biomassa dan tanah. Jika dilakukan secara luas dan terencana, penyerapan karbon oleh hutan bahkan dapat menyeimbangkan emisi yang berasal dari sektor peternakan pada suatu titik waktu.

Namun, penelitian ini juga mengungkap sisi lain yang sering luput dari pembahasan publik. Meskipun penyerapan karbon oleh hutan dapat mengimbangi emisi ternak pada tahun tertentu, emisi yang terjadi selama beberapa dekade sebelumnya tetap menumpuk di atmosfer. Artinya, menanam pohon hari ini tidak serta merta menghapus dampak emisi yang telah dilepaskan selama bertahun tahun. Selain itu, kemampuan hutan untuk menyerap karbon tidak bersifat tanpa batas. Seiring waktu, pohon akan mencapai titik jenuh dalam menyimpan karbon.

Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa mengandalkan perluasan hutan saja tidak cukup untuk mencapai net zero. Pengurangan emisi dari sumbernya tetap diperlukan, termasuk dari sektor peternakan. Dalam konteks ini, pengurangan jumlah ternak menjadi salah satu opsi yang dianalisis. Dengan jumlah ternak yang lebih sedikit, emisi metana dan dinitrogen oksida dapat ditekan secara signifikan.

Temuan ini tentu memunculkan kekhawatiran, terutama bagi peternak. Pengurangan ternak sering dianggap sebagai ancaman terhadap penghidupan dan ketahanan pangan. Penelitian ini tidak menutup mata terhadap risiko tersebut. Justru sebaliknya, para peneliti menekankan pentingnya perencanaan penggunaan lahan yang cermat agar pengurangan ternak tidak merusak ekosistem sosial dan ekonomi pedesaan.

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah perlunya pendekatan spasial yang tepat. Tidak semua lahan cocok untuk ditanami hutan, dan tidak semua wilayah peternakan harus dikurangi secara seragam. Dengan data resolusi tinggi, perubahan penggunaan lahan dapat diarahkan ke lokasi yang memberikan manfaat lingkungan terbesar dengan dampak minimal terhadap produksi pangan. Pendekatan ini membantu mengurangi konflik antara tujuan iklim, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa perubahan penggunaan lahan harus dilihat sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. Upaya mencapai net zero tidak bisa dibebankan hanya pada peternak atau sektor kehutanan. Perubahan pola konsumsi pangan, pengurangan limbah makanan, dan kerja sama internasional juga berperan penting. Dengan kata lain, solusi iklim membutuhkan perubahan sistem, bukan sekadar satu kebijakan tunggal.

Bagi masyarakat awam, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih seimbang tentang hubungan antara peternakan dan perubahan iklim. Peternakan bukan musuh yang harus dihapus, tetapi sektor yang perlu dikelola secara lebih bijak dalam konteks penggunaan lahan dan sistem pangan. Pengurangan ternak bukan berarti menghilangkan peternakan, melainkan menyesuaikan skala dan praktik agar lebih selaras dengan batas lingkungan.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa waktu merupakan faktor krusial. Banyak kebijakan iklim menjanjikan manfaat besar di masa depan, tetapi dampak emisi terjadi sekarang. Oleh karena itu, penundaan tindakan akan memperbesar beban lingkungan yang harus ditanggung generasi mendatang. Perubahan bertahap yang dimulai lebih awal memberikan peluang lebih besar untuk mencapai target iklim tanpa guncangan sosial yang besar.

Bagi peternak, hasil penelitian ini membuka ruang diskusi tentang masa depan usaha ternak. Diversifikasi usaha, peningkatan efisiensi produksi, dan integrasi dengan sistem penggunaan lahan lain dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi. Peternakan masa depan kemungkinan akan lebih terintegrasi dengan kehutanan, pertanian, dan pengelolaan ekosistem secara menyeluruh.

Penelitian dari Skotlandia ini menunjukkan bahwa jalan menuju net zero bukanlah pilihan hitam putih antara menanam pohon atau memelihara ternak. Jalan tersebut membutuhkan keseimbangan, perencanaan berbasis data, dan keberanian untuk mengubah cara pandang lama. Dengan pendekatan yang holistik, sektor peternakan masih dapat berperan penting dalam sistem pangan, sekaligus berkontribusi pada upaya global menghadapi perubahan iklim.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Gimona, Alessandro dkk. 2026. Transformative land use change towards net zero: balancing emissions through woodland expansion and livestock reduction in Scotland. Science of The Total Environment 1012, 181132.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top