Peternakan sapi potong menjadi sumber penghidupan penting bagi jutaan keluarga di berbagai negara, termasuk negara berkembang. Namun, di balik peran strategis tersebut, banyak peternak menghadapi masalah yang sama dari tahun ke tahun, yaitu biaya produksi yang tinggi, posisi tawar yang lemah di pasar, dan keuntungan yang sulit meningkat. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan penting yang juga dikaji oleh para ilmuwan: apakah bergabung dalam koperasi benar benar dapat meningkatkan keuntungan usaha peternakan.
Sebuah penelitian terbaru yang mengambil kasus sektor sapi potong di Tiongkok mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara ilmiah. Penelitian ini menarik karena tidak hanya mengandalkan cerita keberhasilan atau pengalaman lapangan, tetapi menggunakan data survei langsung dari peternakan sapi potong dan dianalisis dengan metode statistik yang ketat. Tujuannya sederhana namun penting, yaitu menilai apakah keanggotaan koperasi memberikan dampak nyata terhadap profitabilitas usaha peternakan.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Koperasi pertanian pada dasarnya dibentuk untuk membantu petani dan peternak mengatasi keterbatasan individu. Dengan bergabung dalam koperasi, peternak diharapkan dapat membeli pakan dengan harga lebih murah, memperoleh akses teknologi dan informasi, serta menjual ternak dengan posisi tawar yang lebih kuat. Dalam praktiknya, koperasi sering dipromosikan sebagai solusi bagi peternak kecil yang sulit bersaing secara mandiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peternak sapi potong yang bergabung dalam koperasi cenderung memperoleh keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan peternak yang beroperasi sendiri. Keuntungan ini tidak hanya berasal dari peningkatan harga jual, tetapi juga dari efisiensi biaya produksi. Melalui koperasi, peternak dapat mengakses input produksi seperti pakan dan obat hewan dengan harga lebih kompetitif, sehingga margin keuntungan meningkat.

Namun, penelitian ini juga mengungkap bahwa manfaat koperasi tidak dirasakan secara merata oleh semua peternak. Peternakan berskala lebih besar memperoleh manfaat yang lebih signifikan dibandingkan peternakan kecil. Peternak dengan jumlah ternak yang lebih banyak mampu memanfaatkan layanan koperasi secara lebih optimal, misalnya dalam pembelian pakan dalam jumlah besar atau dalam akses pasar yang lebih luas.
Perbedaan manfaat ini penting untuk dipahami karena sering kali koperasi dipromosikan sebagai solusi universal. Kenyataannya, skala usaha memengaruhi sejauh mana peternak dapat memetik keuntungan dari keanggotaan koperasi. Peternak kecil tetap memperoleh manfaat, tetapi peningkatan keuntungannya cenderung lebih terbatas dibandingkan peternak yang lebih besar.
Penelitian ini juga menemukan bahwa waktu bergabung dalam koperasi berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang diperoleh. Anggota pendiri koperasi mendapatkan peningkatan keuntungan yang sedikit lebih tinggi dibandingkan anggota yang bergabung belakangan. Hal ini dapat terjadi karena anggota awal biasanya lebih terlibat dalam pengambilan keputusan dan memiliki akses lebih awal terhadap manfaat koperasi.
Keterlibatan aktif dalam koperasi menjadi faktor penting yang sering kali luput dari perhatian. Koperasi bukan sekadar organisasi tempat peternak mendaftar sebagai anggota, tetapi wadah kerja sama yang menuntut partisipasi. Peternak yang aktif mengikuti kegiatan koperasi, memanfaatkan layanan, dan terlibat dalam pengelolaan cenderung memperoleh manfaat yang lebih besar.
Dari sudut pandang sains peternakan dan ekonomi, temuan ini memberikan pelajaran penting. Keuntungan usaha peternakan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis dalam memelihara ternak, tetapi juga oleh strategi kelembagaan. Koperasi berperan sebagai jembatan antara peternak dan pasar, sekaligus sebagai sarana untuk berbagi risiko dan sumber daya.
Penelitian ini juga menyoroti bahwa koperasi dapat membantu peternak menghadapi fluktuasi harga dan ketidakpastian pasar. Dengan bekerja secara kolektif, peternak memiliki daya tawar yang lebih kuat terhadap pedagang dan pelaku industri hilir. Hal ini sangat penting dalam sektor sapi potong, di mana harga jual sering kali ditentukan oleh pihak yang lebih kuat secara ekonomi.
Bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk mendukung pengembangan koperasi peternakan. Namun, dukungan tersebut perlu dirancang dengan cermat. Kebijakan tidak cukup hanya mendorong pembentukan koperasi, tetapi juga memastikan bahwa koperasi dikelola secara profesional, transparan, dan inklusif. Tanpa pengelolaan yang baik, koperasi justru berisiko menjadi tidak efektif atau bahkan merugikan anggotanya.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa koperasi bukan pengganti peningkatan kapasitas individu peternak. Pelatihan manajemen, pemahaman biaya produksi, dan kemampuan mengambil keputusan tetap menjadi faktor kunci. Koperasi akan bekerja paling baik ketika anggotanya memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang memadai.
Bagi peternak kecil, temuan ini memberikan gambaran realistis. Bergabung dalam koperasi memang dapat meningkatkan keuntungan, tetapi manfaat tersebut tidak otomatis dan tidak instan. Peternak perlu aktif, memahami mekanisme koperasi, dan memanfaatkan layanan yang tersedia. Koperasi sebaiknya dipandang sebagai alat bantu strategis, bukan solusi ajaib.
Dari perspektif masyarakat luas, penelitian ini membantu menjelaskan mengapa harga daging sapi dan kesejahteraan peternak sering kali tidak sejalan. Sistem produksi dan pemasaran yang terfragmentasi membuat peternak sulit memperoleh bagian keuntungan yang adil. Koperasi menawarkan salah satu cara untuk memperbaiki ketimpangan tersebut melalui kerja sama dan penguatan posisi tawar.
Sains peternakan modern menunjukkan bahwa keberhasilan usaha sapi potong tidak hanya bergantung pada pakan dan manajemen ternak, tetapi juga pada cara peternak berorganisasi. Koperasi yang dikelola dengan baik dapat menjadi alat penting untuk meningkatkan profitabilitas, terutama dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin kompleks. Dengan pendekatan yang tepat, koperasi dapat membantu peternak tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Li, Qian & Wang, Xiaoyang. 2026. Can agricultural cooperatives improve livestock farm profitability? Evidence from the beef cattle sector in China. Applied Economics Letters, 1-5.


