Banyak negara berkembang masih bergantung pada sektor pertanian dan peternakan sebagai sumber utama pendapatan masyarakat. Di Burundi, sebuah negara kecil di Afrika Timur, peternakan sapi perah menjadi salah satu tumpuan penting dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus meningkatkan ekonomi rumah tangga. Namun kenyataannya, banyak peternak kecil masih berjuang dengan berbagai keterbatasan seperti produktivitas rendah, minimnya akses terhadap teknologi, dan kendala keuangan.
Untuk menjawab tantangan ini, para peneliti dari Journal of Agriculture and Rural Development in the Tropics and Subtropics melakukan studi menarik mengenai efektivitas pendekatan Farmer Field School atau Sekolah Lapang Petani pada sistem usaha tani kombinasi tanaman dan ternak berskala kecil di Burundi. Pendekatan ini bertujuan membantu peternak menerapkan teknologi baru serta meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha ternaknya.
Hasil penelitian ini memberi gambaran penting mengenai bagaimana lembaga pendidikan praktis di lapangan dapat mengubah kehidupan para peternak kecil melalui ilmu, pelatihan, dan pendampingan.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Apa itu Farmer Field School
Farmer Field School (FFS) dapat dipahami sebagai sekolah yang langsung berada di ladang atau kandang, di mana petani dan peternak berkumpul secara berkala untuk mempelajari teknologi baru, praktik terbaik, dan cara memecahkan masalah agrikultur mereka sendiri. Pendekatan ini mengutamakan belajar secara langsung dari pengalaman, diskusi kelompok, serta percobaan di lapangan. Dengan demikian, FFS tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga melatih kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik.
Program FFS juga melibatkan instruktur atau fasilitator yang membantu para peternak untuk memahami teknologi pertanian modern, mulai dari pakan ternak, manajemen kandang, hingga teknik pengolahan kotoran untuk pupuk.
Penelitian di Burundi: Apa yang Dinilai
Penelitian ini melibatkan 98 peternak yang menjadi anggota FFS dan 78 peternak yang tidak terlibat dalam program tersebut. Para peneliti membandingkan tingkat adopsi teknologi baru dan keuntungan usaha antara kedua kelompok.
Teknologi yang dievaluasi antara lain adalah:
- Lantai kandang menggunakan semen untuk menjaga kebersihan dan kesehatan sapi
- Penggunaan mineral suplementasi seperti lick block untuk meningkatkan nutrisi
- Pengomposan kotoran ternak untuk pupuk organik
- Fermentasi atau perlakuan khusus pada pakan seperti jerami dengan molases atau urea
- Pembuatan pakan konsentrat mandiri
Setiap teknologi ini berperan penting dalam memperbaiki produktivitas ternak dan kualitas susu, namun sering kali tidak banyak diterapkan oleh peternak kecil karena keterbatasan akses terhadap sarana dan pengetahuan.
Penelitian menunjukkan fakta yang sangat positif. Para peternak anggota FFS memiliki tingkat adopsi teknologi yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak ikut dalam program. Misalnya, penggunaan lantai kandang semen dan teknik pengomposan kotoran jauh lebih banyak diterapkan oleh anggota FFS.
Lebih dari itu, keuntungan usaha ternak para anggota FFS juga lebih besar. Perbandingannya cukup signifikan. Peternak anggota FFS memperoleh median keuntungan sebesar 654 dolar Amerika per ekor sapi setiap tahun, sedangkan peternak non anggota hanya sekitar 542 dolar per ekor.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan benar benar meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

Namun Tidak Semua Teknologi Mudah Diterapkan
Meski FFS memberikan banyak dampak positif, penelitian ini juga menemukan beberapa hambatan yang membatasi keberhasilan program.
Beberapa kendala utama yang disebutkan adalah:
- Ketersediaan sarana sangat rendah di tingkat lokal
- Kondisi keuangan petani yang masih terbatas
- Kompleksitas penerapan teknologi tertentu
- Harga yang dianggap terlalu mahal bagi peternak kecil
Misalnya, pemberian pakan dengan molasses atau urea dan pembuatan pakan konsentrat masih sangat jarang dilakukan oleh kedua kelompok karena membutuhkan biaya tambahan dan pemahaman teknis yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, walaupun pengetahuan meningkat, tidak semua inovasi bisa langsung diterapkan tanpa dukungan yang lebih luas.
Mengapa Program Ini Penting bagi Masa Depan Peternakan
Program seperti Farmer Field School bukan hanya meningkatkan kemampuan teknis peternak, tetapi juga mengubah pola pikir mereka. Para anggota FFS lebih percaya diri dalam mengambil keputusan, lebih memahami pentingnya kebersihan kandang dan nutrisi, serta lebih mampu melihat potensi peningkatan pendapatan melalui teknologi sederhana.
Penelitian ini menegaskan bahwa edukasi yang tepat mampu menjadi kunci untuk mengatasi kemiskinan di pedesaan. Jika peternak kecil bisa memproduksi lebih banyak susu dan menjualnya dengan harga yang lebih baik, maka kesejahteraan keluarga mereka pun akan meningkat.
Selain itu, penelitian menyarankan agar pemerintah dan organisasi pendukung memberikan bantuan yang berkelanjutan. Hal ini mencakup:
- Penyediaan kredit khusus untuk peternak kecil
- Pendampingan teknis secara rutin
- Penyelarasan harga pasar produk susu agar peternak tidak dirugikan
- Penguatan rantai nilai susu dari hulu hingga hilir
Dengan dukungan tepat, teknologi yang sebelumnya terasa mahal dan sulit dapat menjadi solusi nyata dalam meningkatkan produktivitas.
Studi di Burundi ini memberikan pelajaran penting bagi negara negara lain, termasuk Indonesia. Banyak daerah pedesaan kita yang kondisi peternaknya memiliki kemiripan dengan Burundi. Para peternak sering bekerja keras namun hasilnya belum optimal karena minimnya akses pengetahuan dan teknologi.
Sekolah lapang atau program pelatihan intensif bisa menjadi jembatan antara teknologi modern dan peternak kecil. Dengan pembekalan yang tepat, mereka tidak hanya akan mampu meningkatkan produksi susu, tetapi juga lebih mandiri dalam menjalankan usaha dan menentukan masa depannya.
Peternakan berkelanjutan bukan hanya tentang memberi makan lebih banyak ternak, tetapi bagaimana memberdayakan para peternak kecil agar bisa tumbuh bersama perkembangan teknologi. Ketika peternak kecil mendapatkan pengetahuan, mereka mendapatkan kekuatan untuk keluar dari kemiskinan dan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi yang lebih luas.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Josiane, Manirakiza dkk. 2025. Effectiveness of the farmer-field-school approach in small-scale mixed crop-livestock systems in Burundi. Journal of Agriculture and Rural Development in the Tropics and Subtropics (JARTS) 126 (1), 65-75.


