Banyak pedesaan di Indonesia, kehidupan masyarakat sangat lekat dengan dunia pertanian dan peternakan. Sapi bukan hanya sumber susu, daging, dan pupuk organik tetapi juga menjadi aset berharga bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ada satu hal penting yang sering terlupakan yaitu peran besar perempuan dalam mengelola usaha peternakan sapi. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan mengungkap bagaimana perempuan berkontribusi, tetapi masih menghadapi banyak hambatan untuk benar-benar berdaya dalam sektor ini.
Penelitian tersebut memanfaatkan survei di tingkat peternak pada dua wilayah berbeda, yaitu West Nusa Tenggara yang dikenal kuat dengan usaha ternaknya dan Kalimantan Selatan yang juga mengembangkan peternakan rakyat. Sebanyak 754 responden baik laki-laki maupun perempuan dilibatkan dalam penelitian ini. Para peneliti mengukur tingkat pemberdayaan perempuan menggunakan alat penilaian yang diadaptasi dari Women’s Empowerment in Livestock Index atau WELI. Alat ini menilai berbagai aspek penting seperti kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan terkait pertanian, akses terhadap sumber daya, kesempatan dalam pelatihan dan teknologi, penguasaan pendapatan, serta manajemen waktu dan beban kerja mereka.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Hasil penelitian menunjukkan kenyataan yang cukup mengejutkan. Hanya sekitar 3,6 persen perempuan yang benar-benar memiliki posisi berdaya dalam produksi ternak. Angka ini sangat kontras bila dibandingkan dengan peran perempuan dalam produksi pertanian secara umum yang mencapai lebih dari 33 persen. Artinya, meskipun perempuan banyak terlibat dalam pekerjaan sehari-hari merawat ternak, mereka belum memiliki kendali penuh dalam pengambilan keputusan penting di rumah tangga terkait peternakan.

Jika melihat tiap wilayah, Sumbawa di Nusa Tenggara Barat memiliki tingkat pemberdayaan perempuan tertinggi dalam produksi ternak sebesar 5,7 persen. Di bawahnya ada Kalimantan Selatan dengan 4,6 persen dan Lombok yang hanya mencapai 1,1 persen. Perbedaan angka ini menunjukkan bahwa kondisi sosial, budaya, dan ekonomi regional sangat memengaruhi kesempatan perempuan untuk terlibat lebih besar dalam usaha peternakan keluarga mereka.
Padahal, perempuan memegang peranan penting dalam aktivitas peternakan sapi, terutama pada skala rumah tangga. Mereka ikut memberi pakan, membersihkan kandang, memerah susu, serta menjual atau mengolah hasil ternak seperti pupuk kandang. Selain itu, dalam banyak kasus, perempuan juga bertugas mengelola keuangan keluarga dan menentukan alokasi pendapatan dari usaha ternak. Namun, pekerjaan perempuan ini sering dianggap sebagai perpanjangan dari pekerjaan rumah tangga dan tidak diakui sebagai kontribusi ekonomi yang penting.
Penelitian ini mendalami penyebab rendahnya pemberdayaan perempuan dalam peternakan sapi. Para peneliti mencatat bahwa keputusan penting seperti pembelian hewan ternak, pemilihan teknologi baru, akses ke kredit atau bantuan pemerintah, serta pemasaran hasil ternak masih didominasi laki-laki. Hal ini membuat perempuan tidak punya ruang yang cukup untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam mengelola usaha ternak secara lebih efektif dan menguntungkan.
Selain itu, beban kerja menjadi tantangan besar bagi perempuan. Mereka harus mengurus rumah tangga, anak, dan pekerjaan domestik lainnya sekaligus membantu mengurus ternak. Ketika teknologi baru diperkenalkan dalam sistem peternakan terpadu, perempuan seringkali tidak dilibatkan dalam pelatihan atau keputusan penerapannya, sehingga mereka kesulitan memanfaatkan peluang yang dapat meningkatkan produktivitas mereka.
Di sisi lain, penelitian ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan komunitas. Ketika perempuan memiliki akses lebih besar terhadap pendapatan dan mampu mengambil keputusan ekonomi, kesejahteraan rumah tangga cenderung meningkat. Pendapatan dari ternak dapat digunakan untuk pendidikan anak, gizi keluarga, dan pengembangan usaha yang lebih baik. Dengan kata lain, memberdayakan perempuan berarti memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan daerah.
Karena itu, penelitian ini merekomendasikan untuk membangun strategi pemberdayaan yang lebih terarah. Program pelatihan yang inklusif dan tidak hanya berfokus pada laki-laki harus dikembangkan. Pelibatan perempuan dalam pelatihan manajemen ternak, teknologi, dan pemasaran dapat membuka lebih banyak peluang bagi mereka. Pemerintah dan lembaga pendukung sektor peternakan perlu memastikan bahwa akses perempuan terhadap sumber daya seperti pakan, modal, lahan, dan layanan kesehatan hewan menjadi lebih mudah.
Selain itu, pemahaman masyarakat tentang kesetaraan gender harus ditingkatkan. Ketika keluarga menyadari bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama pentingnya dalam mengelola usaha ternak, pembagian peran dan keputusan dapat menjadi lebih adil. Kampanye perubahan sosial dan pendekatan berbasis komunitas dapat membantu mengurangi hambatan budaya yang sering kali membatasi peran perempuan di sektor ini.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya pengelolaan beban kerja. Upaya pemberdayaan perempuan harus selaras dengan kenyataan bahwa mereka sudah mengemban banyak tanggung jawab di rumah. Karena itu, teknologi yang diperkenalkan harus benar-benar membantu meringankan pekerjaan, bukan justru menambah beban mereka.
Pemberdayaan perempuan dalam sistem peternakan sapi terpadu bukan hanya isu gender semata tetapi juga kunci bagi keberhasilan pembangunan peternakan rakyat di Indonesia. Dengan semakin besar keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan usaha ternak, potensi pertumbuhan sektor peternakan dapat meningkat. Jika perempuan mendapatkan kesempatan yang lebih besar, sistem peternakan keluarga dapat berkembang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan.
Indonesia memiliki sumber daya manusia perempuan yang luar biasa. Mereka bekerja tanpa henti untuk keluarga, tanpa banyak apresiasi. Sudah waktunya potensi mereka dalam peternakan sapi dihargai secara lebih serius. Ketika perempuan diberdayakan, kesejahteraan keluarga meningkat, ekonomi lokal tumbuh, dan sistem peternakan berkelanjutan bisa terwujud. Masa depan peternakan Indonesia yang lebih kuat dapat tercapai dengan memberikan perempuan tempat yang layak bukan hanya sebagai pekerja tetapi sebagai pengambil keputusan penting dalam usaha ternak.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Villano, Renato Andrin dkk. 2025. Women’s empowerment in integrated cattle-farming systems in Indonesia. Applied Economics 57 (32), 4723-4738.


