Waspada Penyakit Ternak: Mengapa Sapi Bisa Sakit dan Cara Mencegahnya

Peternakan sapi merupakan salah satu sektor penting dalam penyediaan pangan hewani dunia, mulai dari daging hingga susu. Namun, di balik perannya yang besar bagi kehidupan manusia, kesehatan sapi sering menghadapi banyak tantangan serius. Penyakit yang menyerang sapi bukan hanya mengancam kesejahteraan hewan, tetapi juga dapat menurunkan produktivitas peternakan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Kondisi ini digambarkan dalam sebuah penelitian di Bangladesh yang mengamati penyakit dan gangguan kesehatan pada sapi di sebuah peternakan penelitian. Hasilnya memberikan gambaran jelas mengenai jenis penyakit apa yang paling sering muncul dan bagaimana cara mengendalikannya.

Penelitian dilakukan di Cattle Research Farm milik Bangladesh Livestock Research Institute (BLRI) yang berlokasi di Savar, Dhaka. Data dikumpulkan selama tiga tahun penuh mulai tahun 2021 hingga 2023. Total sebanyak 737 ekor sapi diamati. Ada berbagai jenis sapi yang menjadi bagian dari penelitian ini, antara lain sapi Mushaniganj, Pabna, Red Chattogram Cattle serta sapi keturunan silang. Para peneliti memeriksa kondisi klinis, melakukan wawancara dengan para peternak, hingga melakukan uji laboratorium untuk memastikan diagnosis penyakit.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Temuan utamanya cukup mengkhawatirkan. Ada enam kelompok penyakit utama yang ditemukan menyerang sapi dalam penelitian ini. Kelompok pertama adalah gangguan pencernaan yang mencapai angka tertinggi, yaitu sekitar 30,94 persen. Gangguan ini bisa berupa kembung, diare, dan masalah pada lambung serta usus. Sapi yang mengalami gangguan pencernaan biasanya menunjukkan penurunan nafsu makan, lemas, dan berat badan turun. Kondisi ini tentu akan berdampak langsung pada jumlah produksi susu maupun pertumbuhan ternak.

Kelompok penyakit kedua yang juga cukup tinggi adalah penyakit infeksius dengan persentase 30,39 persen. Penyakit infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, maupun parasit yang mudah menular. Sapi yang terjangkit biasanya menunjukkan demam, batuk, atau luka bernanah. Penularan dapat terjadi melalui udara, air minum, pakan, bahkan melalui serangga. Jika tidak ditangani cepat, penyakit jenis ini dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan wabah dalam peternakan.

Selain dua kelompok teratas tersebut, terdapat juga penyakit yang berhubungan dengan kekurangan nutrisi yang tercatat pada 17,10 persen kasus. Sapi yang tidak mendapatkan pakan berkualitas berisiko mengalami defisiensi vitamin dan mineral. Kondisi ini bisa menurunkan imunitas serta menyebabkan kelainan tulang dan pertumbuhan yang lambat.

Penyakit parasit baik yang menyerang dalam usus maupun kulit ditemukan pada 6,92 persen sapi. Parasit menghisap nutrisi dari tubuh sapi, sehingga dapat menyebabkan anemia, lesu, serta pertumbuhan yang terganggu. Gangguan reproduksi pada sapi juga cukup banyak ditemukan yakni sebesar 4,88 persen. Kondisi seperti susah birahi, sulit melahirkan, atau infeksi reproduksi dapat menghambat keberhasilan perkembangbiakan sapi. Terakhir, terdapat gangguan kesehatan umum lainnya sebesar 9,77 persen.

Gejala klinis penyakit lumpy skin disease pada sapi yang ditandai dengan nodul kulit menyebar dan pembengkakan pada kepala serta tubuh (Ahmed, dkk. 2025).

Menariknya, faktor-faktor seperti jenis kelamin, musim, umur sapi, serta tahun kejadian turut mempengaruhi seberapa besar risiko sapi terkena penyakit. Penelitian mendapati bahwa sapi betina lebih banyak terserang penyakit dibanding sapi jantan, yaitu sebesar 57,80 persen. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh beban metabolisme yang lebih tinggi pada sapi betina yang memproduksi susu dan sering kali sedang bunting atau menyusui.

Musim juga menjadi faktor penting. Penyakit pada sapi paling banyak ditemukan pada musim dingin dengan angka 41,52 persen. Pada musim dingin, suhu udara cenderung lebih rendah sehingga daya tahan tubuh sapi bisa menurun. Selain itu, kandang biasanya lebih tertutup sehingga sirkulasi udara berkurang dan risiko penyakit menular meningkat. Anak sapi atau sapi muda juga ditemukan lebih rentan terkena penyakit dibandingkan sapi dewasa. Pada kelompok pedet, angka kejadian penyakit mencapai 43,69 persen. Kekebalan tubuh anak sapi masih belum stabil sehingga mereka harus mendapatkan perlindungan ekstra.

Penelitian ini juga mencatat bahwa sebagian besar penyakit infeksi berat tidak muncul dalam data. Hal ini menjadi pertanda baik, karena berarti program vaksinasi dan deworming atau pemberian obat cacing yang rutin di peternakan berjalan efektif. Manajemen kesehatan ternak yang baik dapat mencegah banyak penyakit berbahaya sejak awal sebelum sempat menyebar.

Meski begitu, tingginya angka gangguan pencernaan dan infeksi ringan menunjukkan bahwa masih diperlukan peningkatan dalam pengelolaan pakan dan kebersihan lingkungan. Pakan harus berkualitas, mudah dicerna, serta memenuhi kebutuhan nutrisi sapi. Kebersihan kandang, air minum, serta peralatan peternakan harus diperhatikan dengan ketat untuk mencegah tumbuhnya mikroorganisme penyebab penyakit.

Selain itu, para peneliti menekankan pentingnya pelatihan dan edukasi bagi peternak. Pengetahuan peternak mengenai gejala awal penyakit dan penanganannya dapat menjadi kunci dalam mencegah penyebaran dan mempercepat kesembuhan. Keterlambatan dalam mendeteksi penyakit bisa berakibat fatal bagi ternak.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyakit yang paling umum terjadi sebenarnya dapat dicegah. Dengan pengelolaan biosekuriti yang lebih baik, pemeriksaan rutin, serta penanganan pakan yang tepat, prevalensi penyakit pada sapi dapat ditekan secara signifikan. Hal ini bukan hanya penting bagi kesehatan hewan, namun juga untuk menjamin keamanan pangan serta mendukung keberlanjutan usaha peternakan.

Bagi negara seperti Bangladesh yang mengandalkan sektor peternakan sebagai sumber ekonomi rakyat, menjaga kesehatan ternak menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan produksi nasional. Apa yang ditemukan para peneliti dapat menjadi contoh bagi peternakan di negara lain, termasuk Indonesia yang memiliki karakter peternakan rakyat yang mirip.

Melalui penelitian ini, kita belajar bahwa kesehatan hewan adalah pondasi utama dalam peternakan. Sapi yang sehat akan menghasilkan daging dan susu berkualitas, berkembang biak dengan baik, dan tentu saja meningkatkan kesejahteraan para peternak. Upaya menjaga kesehatan ternak harus dilakukan setiap hari dengan perhatian penuh, karena pencegahan selalu lebih mudah dan murah dibandingkan mengobati.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Ahmed, Enam dkk. 2025. Health Challenges in Cattle Farming: A Study on Common Cattle Diseases and Disorders in a Selective Cattle Farm of Bangladesh. Egyptian Journal of Veterinary Sciences, 1-9.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top