Perubahan iklim menjadi perhatian penting di seluruh dunia. Salah satu penyumbang gas rumah kaca berasal dari sektor peternakan terutama sapi. Hewan ruminansia seperti sapi menghasilkan gas metana dari proses pencernaannya. Metana memiliki potensi pemanasan global jauh lebih tinggi daripada karbon dioksida sehingga upaya pengurangannya menjadi sangat penting. Selain itu peternakan intensif dengan penggunaan pupuk dan sistem pakan tertentu juga dapat menghasilkan amonia yang berdampak buruk bagi lingkungan.
Banyak penelitian sedang dikembangkan untuk mencari cara agar peternakan tetap produktif tetapi tidak mengorbankan lingkungan. Salah satu solusi yang mulai diperhatikan para ilmuwan adalah mengubah komposisi pakan hijauan untuk sapi. Rumput yang biasanya ditanam secara tunggal seperti ryegrass memerlukan input pupuk yang tinggi yang pada akhirnya meningkatkan jejak karbon. Namun ada alternatif lain yang menarik yaitu padang penggembalaan multispecies atau campuran berbagai tanaman pakan seperti kombinasi rumput legum dan herba.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2025 dalam jurnal Animal oleh Hassan dan timnya dari Eropa melakukan penelitian laboratorium untuk menilai efek campuran hijauan multispecies pada pencernaan sapi dan emisi gas hasil fermentasi rumen. Penelitian ini dilakukan secara in vitro artinya simulasi pencernaan dilakukan di laboratorium menggunakan cairan rumen sebagai model yang mewakili apa yang terjadi dalam lambung sapi. Fokus utama penelitian ini adalah bagaimana jenis hijauan tertentu dapat mengurangi emisi metana sekaligus tetap menjaga nutrisi yang baik bagi ternak.
Mengapa hijauan multispecies begitu menjanjikan. Kombinasi tanaman tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen tetapi juga mengandung senyawa bioaktif seperti tanin dan flavonoid yang dapat mengubah cara mikroba di dalam rumen bekerja. Mikroba inilah yang bertanggung jawab atas pemecahan makanan sekaligus menghasilkan metana. Dengan begitu jika proses mikroba dapat diarahkan ke jalur yang lebih efisien maka gas metana yang dihasilkan bisa berkurang.
Penelitian ini menguji tiga kombinasi hijauan. Pertama perennial ryegrass bersama red clover. Kedua chicory bersama red clover. Ketiga kombinasi yang dianggap paling inovatif yaitu tanaman Tonic plantain dicampur red clover. Semua campuran ini dibudidayakan tanpa pupuk sehingga benar benar mengandalkan ketersediaan nutrisi alami di tanah.
Hasil yang diperoleh tergolong sangat menggembirakan. Campuran Tonic plantain dengan red clover menunjukkan penurunan produksi metana sebesar lebih dari 14 persen dibandingkan dengan kontrol yang menggunakan ryegrass saja. Tidak hanya itu emisi amonia juga menurun sebesar hampir 29 persen. Amonia adalah gas yang dapat mencemari udara dan air jika dilepaskan dari peternakan dalam jumlah tinggi sehingga penurunan ini menunjukkan manfaat ganda.

Selain mengurangi gas yang merugikan lingkungan proses fermentasi dalam rumen juga menunjukkan perubahan positif lainnya. Campuran Tonic plantain dan red clover meningkatkan produksi propionat yang merupakan salah satu sumber energi penting bagi sapi. Pada saat yang sama konsentrasi asetat dan butirat menurun. Ini mengindikasikan bahwa fermentasi menjadi lebih efisien sehingga energi dari pakan dapat dimanfaatkan lebih baik oleh sapi. Dengan kata lain sapi dapat tumbuh lebih baik dengan produksi limbah gas yang lebih sedikit.
Peneliti juga menemukan bahwa jumlah protozoa dan methanogen mikroba penghasil metana berkurang pada pakan campuran ini. Hal ini sejalan dengan penurunan emisi metana yang dihasilkan. Mekanisme ini penting untuk dipahami karena menawarkan cara biologis dalam mengendalikan polusi tanpa mengurangi produktivitas ternak.
Berdasarkan berbagai hasil tersebut campuran Tonic plantain dengan red clover direkomendasikan sebagai kandidat pakan hijauan yang sangat sesuai untuk peternakan sapi ramah iklim. Sistem ini juga mendukung praktik pertanian berkelanjutan karena tidak memerlukan pupuk tambahan sehingga menekan biaya dan mengurangi potensi pencemaran tanah dan air.
Perubahan pakan bukan hanya sekadar pergantian tanaman di padang. Praktik ini juga membawa banyak manfaat tambahan bagi ekosistem pertanian. Akar dari berbagai jenis tanaman pakan dapat meningkatkan kualitas struktur tanah dan memelihara kelembapan. Keanekaragaman tanaman juga meningkatkan populasi serangga penyerbuk dan organisme tanah yang berperan penting dalam siklus nutrisi. Artinya penerapan multispecies swards tidak hanya menguntungkan sapi dan peternak tetapi juga membawa dampak baik bagi lingkungan secara keseluruhan.
Tentunya penelitian ini masih dilakukan di laboratorium dan memerlukan studi lanjutan pada skala peternakan nyata agar dapat melihat dampaknya dalam kondisi lapangan. Faktor lain seperti iklim jenis tanah dan cara pemeliharaan hewan dapat berpengaruh dalam hasil akhir. Namun hasil awal yang diperoleh sudah memberikan gambaran kuat bahwa perubahan sederhana dalam sumber pakan dapat menjadi langkah nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
Studi ini juga sejalan dengan tujuan proyek Climate Care Cattle Farming milik Uni Eropa yang bertujuan mengembangkan solusi teknologi dan manajemen untuk pertanian sapi yang bertanggung jawab terhadap iklim. Inovasi dalam strategi pakan menjadi salah satu komponen penting menuju produksi daging dan susu yang lebih hijau.
Jika diterapkan secara luas pendekatan ini dapat membantu peternak mengurangi jejak karbon tanpa menurunkan produktivitas. Bahkan potensi efisiensi pakan yang lebih baik dapat meningkatkan pendapatan mereka. Dengan semakin banyak negara yang mulai mengatur emisi dari sektor peternakan penerapan hijauan ramah iklim dapat menjadi peluang baru dalam persaingan global.
Perubahan pola pakan perlu dibarengi dengan edukasi peternak dan dukungan kebijakan agrikultur dari pemerintah. Transisi peternakan ke sistem yang lebih berkelanjutan harus mempertimbangkan aspek teknis ekonomi serta sosial agar benar benar dapat diterapkan secara efektif di lapangan.
Dengan terus berkembangnya penelitian dan teknologi harapan untuk menciptakan peternakan sapi yang lebih bersahabat dengan bumi semakin dekat. Multispecies swards menjadi bukti bahwa inovasi sederhana di lahan hijauan dapat memberikan dampak besar bagi masa depan pangan dan iklim dunia.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Hassan, MU dkk. 2025. Effect of multispecies swards on ruminal fermentation, methane emission and potential for climate care cattle farming− an in vitro study. animal 19 (1), 101386.


