Susu sering kita anggap sebagai minuman sehat yang penuh nutrisi. Namun, bagaimana jika di dalam susu yang kita konsumsi ternyata tersimpan zat berbahaya yang tidak terlihat oleh mata Residu antibiotik merupakan salah satu ancaman nyata bagi kesehatan manusia, terutama di negara berkembang dengan pengawasan peternakan yang masih terbatas. Inilah fokus dari sebuah penelitian terbaru di wilayah pinggiran Kota Kathmandu, Nepal, pada peternakan sapi perah skala kecil hingga menengah.
Antibiotik digunakan secara luas di dunia peternakan untuk mengatasi berbagai penyakit pada sapi perah. Namun, penggunaan yang tidak tepat atau berlebihan dapat meninggalkan sisa obat di dalam susu yang dipasarkan. Bila residu ini dikonsumsi oleh manusia secara terus menerus, maka bakteri dalam tubuh dapat menjadi kebal terhadap antibiotik. Kondisi ini dikenal sebagai resistensi antimikroba yang kini menjadi ancaman global bagi kesehatan masyarakat karena pengobatan penyakit infeksi menjadi semakin sulit.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Penelitian yang dilakukan oleh Erda E Rame Hau dan rekan rekannya bertujuan untuk mengetahui seberapa besar masalah ini terjadi di peternakan sapi perah sekitar Kathmandu. Sebanyak 140 sampel susu dari peternakan kawasan periurban dikumpulkan pada tahun 2019 dan diuji menggunakan metode laboratorium canggih. Tidak hanya itu para peneliti juga melakukan wawancara langsung dengan peternak untuk memahami pola pemeliharaan, penggunaan antibiotik, serta kebiasaan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan ternak.
Hasil penelitian ini cukup mengkhawatirkan. Sebagian besar sampel susu ternyata mengandung residu antibiotik yang melebihi batas aman yang seharusnya. Tiga jenis antibiotik yang paling sering ditemukan adalah sulfamethazine sebanyak 61 persen, sulfamethoxazole 53 persen, ciprofloxacin 46 persen, dan enrofloxacin 42 persen. Jenis antibiotik ini biasanya digunakan untuk mengobati penyakit infeksi bakteri pada sapi namun jika jejaknya masih ada di susu yang dikonsumsi manusia, risiko kesehatan dapat meningkat.

Peneliti juga menemukan bahwa di antara sampel yang mengandung antibiotik terdapat persentase tinggi yang kadarnya melampaui batas maksimum residu yang diperbolehkan. Untuk sulfamethazine sekitar 81 persen, kemudian 42 persen untuk sulfamethoxazole, ciprofloxacin, dan enrofloxacin. Dengan kata lain tidak hanya banyak yang mengandung residu tetapi jumlahnya juga cukup tinggi hingga sangat berpotensi membahayakan konsumen.
Masalah residu antibiotik ini ternyata tidak muncul begitu saja. Studi ini berhasil mengidentifikasi berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan kondisi peternakan. Salah satunya adalah jumlah pekerja dan jumlah hewan di dalam satu peternakan. Peternakan dengan lebih banyak pekerja cenderung memiliki residu lebih tinggi karena kemungkinan penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol. Selain itu peternakan yang memiliki jumlah anak sapi dan sapi perah yang banyak juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk munculnya satu atau lebih jenis residu antibiotik dalam susu.
Sebaliknya terdapat pula faktor faktor yang menurunkan risiko. Peternakan yang berada di bawah pengawasan dokter hewan atau sering dikunjungi penyuluh ternak cenderung memiliki kualitas susu lebih aman. Hal ini menunjukkan pentingnya peran tenaga ahli dalam mengedukasi serta memantau penggunaan obat pada ternak agar tidak disalahgunakan. Peternak yang memiliki pengetahuan lebih baik biasanya mengikuti aturan waktu henti yaitu periode setelah pemberian antibiotik di mana susu tidak boleh dijual hingga obat benar benar hilang dari tubuh sapi.
Residu antibiotik yang terkandung dalam susu dapat berdampak langsung maupun tidak langsung pada manusia. Konsumsi jangka panjang dapat menyebabkan alergi pada orang sensitif serta mengganggu keseimbangan bakteri baik dalam tubuh. Namun dampak yang paling serius adalah meningkatnya bakteri yang kebal terhadap pengobatan antibiotik. Ketika seseorang mengalami infeksi yang tidak bisa lagi diobati dengan antibiotik umum maka penyakitnya dapat menjadi lebih parah berpotensi memerlukan perawatan mahal dan sering kali berisiko fatal.
Melihat besarnya ancaman ini penelitian tersebut menekankan perlunya perubahan nyata dalam tata kelola peternakan sapi perah. Pertama kesadaran peternak harus ditingkatkan. Pendidikan tentang cara penggunaan antibiotik yang tepat sangat penting. Antibiotik tidak boleh dianggap sebagai solusi cepat untuk setiap masalah kesehatan sapi. Pemeriksaan dan resep dari tenaga kesehatan hewan harus menjadi standar yang dipegang teguh.
Kedua penerapan biosekuriti dan kebersihan kandang yang baik dapat membantu mencegah penyebaran penyakit sehingga penggunaan antibiotik bisa ditekan. Peternakan yang lebih bersih berarti sapi lebih sehat dan kebutuhan obat lebih sedikit. Selain itu penting bagi peternak untuk mematuhi masa karantina setelah sapi diberi antibiotik agar residu obat benar benar tidak terbawa ke dalam susu.
Ketiga pemerintah dan lembaga kesehatan harus memberikan dukungan melalui pengawasan yang lebih ketat terhadap kualitas susu di pasaran. Program rutin untuk menguji residu antibiotik pada produk susu dapat menjadi langkah awal untuk melindungi konsumen. Jika ditemukan pelanggaran sanksi tegas perlu diberlakukan untuk memberi efek jera dan mendorong praktik peternakan yang lebih bertanggung jawab.
Kajian ini juga menggarisbawahi pentingnya kerja sama antara peternak, dokter hewan, industri susu, dan pemerintah. Tanpa koordinasi yang baik upaya mengurangi risiko residu antibiotik tidak akan berjalan maksimal. Konsumen pun juga harus lebih peduli dengan produk yang mereka beli seperti memilih susu yang telah terjamin kualitas dan keamanannya.
Secara keseluruhan penelitian ini menjadi peringatan penting bahwa di balik segelas susu yang tampak sehat terdapat potensi bahaya yang tidak boleh diremehkan. Kathmandu hanyalah satu contoh namun masalah residu antibiotik pada susu dapat terjadi di banyak negara lain terutama di daerah dengan sistem peternakan yang masih berkembang.
Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan pedoman penggunaan antibiotik yang lebih bertanggung jawab standarisasi higienitas peternakan serta peningkatan edukasi bagi peternak. Melindungi kesehatan konsumen harus menjadi prioritas utama dalam setiap tahap produksi susu. Jika dilakukan dengan baik industri susu dapat terus berkembang sambil tetap menjaga keselamatan masyarakat yang mengonsumsinya.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Hau, Erda E Rame dkk. 2025. The Prevalence and Risk Factors Associated with the Presence of Antibiotic Residues in Milk from Peri-Urban Dairy Cattle Farms in Kathmandu, Nepal. Antibiotics 14 (1), 98.


