Ketika berbicara mengenai pemanasan global, pikiran masyarakat umumnya tertuju pada asap kendaraan, cerobong pabrik, atau deforestasi. Namun, ada satu sumber gas rumah kaca yang kerap luput dari perhatian, padahal kontribusinya cukup besar terhadap perubahan iklim, yaitu metana yang berasal dari peternakan sapi. Sebuah studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Integrative Agriculture tahun 2025 mencoba menjelaskan bagaimana penelitian mengenai emisi metana dari ternak sapi berkembang di dunia, serta apa saja temuan penting yang dapat dijadikan dasar untuk mengatasi masalah ini.
Penelitian tersebut dilakukan dengan metode bibliometrik, yaitu analisis publikasi ilmiah untuk melihat perkembangan pengetahuan dalam suatu bidang. Penulis mengumpulkan data hampir 9.000 publikasi mengenai topik emisi metana dari sapi, lalu memetakan tren penelitian, negara paling aktif meneliti, hingga isu apa yang paling sering dibahas. Hasilnya memberikan gambaran menyeluruh tentang bagaimana dunia sains memandang hubungan antara peternakan sapi dan pemanasan global.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Metana atau CH4 adalah gas rumah kaca yang mampu memerangkap panas di atmosfer secara lebih kuat dibanding karbon dioksida. Para ilmuwan memperkirakan bahwa dalam jangka waktu 100 tahun, metana memiliki potensi pemanasan yang lebih dari 25 kali dibandingkan karbon dioksida. Artinya, meski jumlahnya lebih sedikit, dampaknya terhadap pemanasan global jauh lebih signifikan. Hal ini membuat emisi metana menjadi perhatian besar dalam upaya menekan laju perubahan iklim.
Dalam konteks peternakan sapi, metana dihasilkan secara alami melalui proses pencernaan. Sapi termasuk hewan memamah biak dengan sistem pencernaan rumen, yang bekerja menggunakan mikroba khusus untuk memecah makanan berserat seperti rumput. Proses fermentasi tersebut menghasilkan metana yang kemudian dikeluarkan melalui sendawa atau bersama gas dari kotoran. Karena sapi dikembangbiakkan dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan daging dan susu, total emisi metana yang dihasilkan juga semakin tinggi.
Studi ini menemukan bahwa kata kunci yang paling sering digunakan dalam publikasi ilmiah terkait topik ini adalah methane, greenhouse gas, cattle, dan methane emissions. Hal ini menunjukkan bahwa isu emisi metana dari ternak sudah menjadi kajian yang luas dan penting di ranah riset global. Penelitian juga menunjukkan bahwa China menjadi negara yang paling aktif dalam mempublikasikan riset tentang metana ternak, disusul oleh Kanada dan Amerika Serikat. Lembaga penelitian yang paling banyak terlibat adalah Chinese Academy of Sciences. Sementara itu, jurnal yang paling banyak mengutip artikel terkait adalah Science of the Total Environment, yang menandakan betapa pentingnya isu ini bagi penelitian lingkungan.
Penelitian tersebut mengelompokkan berbagai tema penelitian berdasarkan bobot dan frekuensi pembahasannya. Ada tema dasar yang selalu menarik perhatian ilmuwan, yaitu metana sebagai gas rumah kaca, kontribusi ternak terhadap emisi global, dan kaitannya dengan perubahan iklim. Tema yang mulai berkembang mencakup emisi gas lain seperti dinitrogen oksida, serta teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi. Ada pula tema lebih spesifik yang masih memerlukan banyak kajian, yakni penelitian mengenai rumen, perbedaan emisi antara sapi potong dan sapi perah, serta faktor risiko lingkungan dari kegiatan peternakan.

Mengapa sapi mendapat perhatian lebih dalam diskusi perubahan iklim. Organisasi internasional seperti FAO memperkirakan sektor peternakan menyumbang sekitar 14 persen emisi gas rumah kaca global. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya berasal dari sapi. Penyebabnya adalah populasi sapi yang sangat besar, kebutuhan lahan luas yang memicu alih fungsi hutan, serta proses produksi daging dan susu yang membutuhkan energi dan pakan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, peningkatan konsumsi daging sapi dan susu, terutama di negara yang ekonominya berkembang pesat, turut memperbesar kontribusi emisi metana.
Meski demikian, bukan berarti dunia harus berhenti memelihara sapi. Peternakan tetap menjadi bagian penting dalam menyediakan protein hewani bagi manusia. Tantangan yang harus dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa produksi peternakan tetap berjalan tanpa memperparah pemanasan global. Para peneliti di seluruh dunia sedang mengembangkan berbagai strategi untuk mengurangi emisi dari peternakan sapi.
Salah satu pendekatan yang sedang diteliti adalah mengubah komposisi pakan sapi. Beberapa penelitian menemukan bahwa memasukkan bahan tertentu seperti ganggang laut dalam pakan sapi dapat menurunkan produksi metana secara signifikan. Metode lainnya melibatkan pemuliaan sapi yang memiliki efisiensi pencernaan lebih baik sehingga menghasilkan lebih sedikit gas dalam proses metabolisme. Selain itu, manajemen peternakan yang baik, termasuk mempercepat masa penggemukan dan meningkatkan kesehatan ternak, dapat membantu mengurangi emisi total.
Pengelolaan kotoran sapi juga menjadi aspek penting. Jika dibiarkan menumpuk di udara terbuka, kotoran akan menghasilkan metana dan dinitrogen oksida. Namun dengan teknologi biodigester, kotoran dapat dimanfaatkan menjadi biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi terbarukan. Upaya ini membawa manfaat ganda yaitu mengurangi emisi dan menyediakan energi yang lebih bersih bagi masyarakat peternak.
Di sisi lain, konsumen juga memiliki peran penting dalam mengendalikan emisi dari sektor peternakan. Pola konsumsi yang tidak berlebihan terhadap daging merah dan produk susu dapat membantu mengurangi permintaan produksi. Masyarakat juga dapat memilih produk yang berasal dari peternakan berkelanjutan yang menerapkan standar lingkungan lebih baik. Selain itu, mengurangi pemborosan makanan akan membuat rantai produksi lebih efisien dan menekan jumlah ternak yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan pasar.
Studi ini menegaskan bahwa dunia ilmiah telah memberikan banyak perhatian terhadap emisi metana dari peternakan sapi, namun masih banyak ruang untuk pengembangan penelitian lebih lanjut. Kerja sama lintas negara, dukungan regulasi yang berpihak pada lingkungan, pemerataan teknologi ramah emisi di tingkat peternak kecil, serta peningkatan kesadaran konsumen merupakan kombinasi yang sangat diperlukan untuk menekan dampak lingkungan dari peternakan sapi.
Peternakan sapi bukan sekadar industri pangan, tetapi bagian dari sistem lingkungan bumi yang saling terhubung. Oleh karena itu, menjaga keberlanjutan sektor ini menjadi tanggung jawab bersama. Dengan penelitian yang terus berkembang dan inovasi yang tepat, produksi pangan berbasis ternak tetap dapat dilakukan tanpa mengorbankan kesehatan bumi. Masa depan peternakan sapi adalah bagaimana memenuhi kebutuhan manusia sambil memastikan keseimbangan iklim tetap terjaga.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Abdul, Shakoor dkk. 2025. Tracing the contribution of cattle farms to methane emissions through bibliometric analyses. Journal of Integrative Agriculture 24 (4), 1220-1233.


