Sapi Juga Bisa Kena Rabies: Fakta yang Wajib Diketahui Peternak

Rabies sering kali dikenal sebagai penyakit berbahaya yang ditularkan oleh anjing. Namun kenyataannya, penyakit ini juga dapat menjadi ancaman bagi peternakan sapi, terutama di daerah pedesaan di berbagai negara. Rabies bukan hanya persoalan kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut kesehatan manusia, keamanan pangan, dan ekonomi peternak. Sebuah penelitian yang dilakukan di Kazakhstan pada tahun 2025 memberikan gambaran penting mengenai bagaimana peternak sapi memandang dan mencegah rabies dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Penelitian tersebut melibatkan 688 peternak sapi di wilayah Aktobe dan Oral, dua daerah penghasil ternak terbesar di Kazakhstan bagian barat. Dengan mengumpulkan informasi melalui wawancara terstruktur, para peneliti ingin memahami sejauh mana pengetahuan, sikap, dan praktik (sering disingkat KAP: Knowledge, Attitudes, and Practices) yang dimiliki peternak terkait pencegahan rabies.

Meskipun rabies merupakan penyakit yang sangat serius, dan telah lama menjadi perhatian kesehatan masyarakat, hasil studi menunjukkan masih banyak kesenjangan informasi dan kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko penularan di peternakan.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Apa yang Diketahui Peternak tentang Rabies?

Secara umum, para peternak di Kazakhstan menyadari bahwa rabies adalah penyakit yang berbahaya. Sekitar 89 persen responden tahu bahwa rabies dapat menyebabkan kematian dan harus dicegah. Ini menunjukkan bahwa kampanye publik yang telah dilakukan pemerintah cukup berhasil dalam hal meningkatkan kewaspadaan.

Namun, pemahaman mereka tentang bagaimana rabies ditularkan, gejala pada hewan, dan cara pencegahannya masih belum merata. Misalnya, sebagian besar peternak tidak dapat menyebutkan tanda-tanda klinis rabies pada sapi. Banyak yang tidak menyadari bahwa hewan yang tampak gelisah, agresif, atau mengalami kelumpuhan dapat menjadi pertanda infeksi rabies. Kurangnya pengetahuan ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam melaporkan kasus dan penanganan hewan yang terinfeksi.

Selain itu, meskipun 87 persen peternak mengetahui pentingnya vaksinasi anjing untuk mencegah penularan rabies, hanya 19 persen yang menyadari bahwa sapi juga dapat menerima tindakan pencegahan khusus, seperti pre-exposure prophylaxis (PrEP), yaitu vaksinasi sebelum terpapar virus.

Sikap Peternak terhadap Pencegahan Rabies

Sikap atau keyakinan peternak berpengaruh besar pada keputusan mereka dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan. Studi ini menemukan adanya perbedaan sikap di dua wilayah yang disurvei. Peternak di wilayah Oral cenderung menunjukkan penerimaan yang lebih baik terhadap program vaksinasi rabies dan tindakan biosekuriti dibanding peternak di Aktobe.

Beberapa faktor yang memengaruhi sikap tersebut antara lain pengalaman pribadi menghadapi kasus rabies di lingkungan mereka, tingkat pendidikan, serta dukungan dari pemerintah daerah terkait penyuluhan kesehatan hewan.

Namun demikian, masih terdapat persepsi keliru bahwa rabies hanya merupakan penyakit hewan liar dan tidak begitu berdampak pada sapi. Sikap semacam ini dapat mengurangi kesiapsiagaan peternak dalam menghadapi risiko yang sebenarnya nyata.

Perbandingan tingkat pengetahuan serta sikap peternak sapi kecil terhadap rabies dan program pencegahannya antara dua wilayah studi, menunjukkan perbedaan proporsi pengetahuan memadai dan sikap yang mendukung (Ginayatov, dkk. 2025).

Praktik Sehari-hari di Peternakan: Faktor Risiko yang Sering Terabaikan

Selain pengetahuan dan sikap, perilaku atau praktik peternak dalam kesehariannya turut menentukan tingkat risiko penularan rabies.

Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah kebiasaan yang dapat meningkatkan penularan penyakit, yaitu:

  1. Sistem penggembalaan bebas tanpa pengawasan ketat
    Sapi sering berkontak dengan anjing liar atau satwa liar pembawa virus.
  2. Kurangnya penggunaan alat pelindung diri
    Peternak menangani hewan sakit tanpa sarung tangan atau perlindungan lain, sehingga risiko terpapar air liur hewan meningkat.
  3. Penanganan bangkai hewan yang tidak aman
    Beberapa peternak membiarkan bangkai hewan yang mati tanpa prosedur pembuangan yang benar, padahal jaringan tubuh hewan yang terinfeksi masih mengandung virus.
  4. Minimnya vaksinasi hewan di peternakan
    Keterbatasan akses layanan veteriner membuat pencegahan rabies belum maksimal.

Ditemukan juga bahwa rumah tangga dengan lebih dari lima ekor sapi memiliki risiko lebih tinggi, karena semakin banyak hewan berarti semakin tinggi potensi kontak dengan sumber virus.

Mengapa Rabies di Peternakan Perlu Menjadi Perhatian Serius?

Rabies bukan penyakit yang bisa dianggap ringan. Penyakit ini hampir selalu berakhir fatal, baik pada hewan maupun manusia. Jika hewan terinfeksi, virus akan menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Bagi peternak, dampaknya bisa lebih luas:

  • Kehilangan hewan ternak berarti kerugian ekonomi yang besar
  • Produk susu dan daging dari peternakan dapat terdampak status keamanannya
  • Risiko tinggi bagi keluarga peternak yang sering kontak langsung dengan hewan

Selain itu, mengobati manusia yang diduga terpapar rabies membutuhkan penanganan medis segera dan biaya yang tidak sedikit. Di beberapa daerah, akses layanan tersebut masih terbatas.

Solusi dan Langkah Perbaikan: Edukasi Menjadi Kunci Utama

Hasil penelitian menegaskan bahwa peningkatan edukasi tentang rabies bagi peternak merupakan langkah paling penting untuk mengurangi risiko penyakit ini. Penyuluhan dapat difokuskan pada topik berikut:

  • Cara mengenali tanda-tanda rabies pada sapi dan anjing
  • Prosedur penanganan hewan sakit secara aman
  • Pentingnya vaksinasi rutin bagi hewan peliharaan dan ternak
  • Cara pembuangan bangkai yang benar untuk mencegah penyebaran virus

Selain itu, meningkatkan kolaborasi antara peternak, dokter hewan, dan pemerintah sangat diperlukan. Penguatan sistem surveilans veteriner akan membantu mendeteksi kasus lebih cepat. Di sisi lain, perluasan program vaksinasi hewan dan ketersediaan alat pelindung diri bagi peternak akan memberikan perlindungan lebih baik di lapangan.

Rabies Bisa Dikendalikan jika Disadari Bahayanya

Rabies merupakan penyakit yang dapat dicegah. Namun jika penanganannya terlambat, akibatnya bisa sangat fatal. Studi di Kazakhstan memberikan pesan yang sangat jelas: sekalipun peternak mengetahui bahwa rabies itu berbahaya, masih banyak praktik yang harus diperbaiki untuk mengurangi risiko penularannya.

Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peternak adalah langkah pertama untuk menciptakan sistem peternakan yang lebih aman. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan tenaga kesehatan hewan, peternak bisa lebih siap melindungi ternaknya, keluarganya, dan masyarakat luas dari ancaman rabies.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Ginayatov, Nurbek dkk. 2025. Smallholder cattle farmers’ knowledge, attitudes, and practices toward rabies: a regional survey in Kazakhstan. Veterinary Sciences 12 (4), 335.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top