Di banyak daerah pedesaan, beternak ikan bukan hanya soal menyediakan pangan atau menambah penghasilan, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan sosial, budaya, dan bahkan pariwisata. Salah satu contoh menarik datang dari Garo Hills, sebuah kawasan pegunungan indah di negara bagian Meghalaya, India Timur Laut.
Penelitian terbaru yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan mencoba memahami bagaimana pariwisata memancing (angling tourism) bisa memberi nilai sosial baru bagi para petani ikan di wilayah tersebut. Hasilnya menarik: memancing ternyata bukan sekadar hobi atau olahraga, tetapi juga bisa menjadi jalan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, melestarikan alam, sekaligus memperkuat ikatan sosial.
Pariwisata memancing atau angling tourism adalah bentuk wisata di mana orang datang ke suatu daerah khusus untuk memancing. Bagi sebagian orang, memancing adalah sarana rekreasi, relaksasi, bahkan olahraga kompetitif. Namun, bagi masyarakat lokal, kedatangan wisatawan ini bisa menjadi peluang ekonomi.
Di Garo Hills, para petani ikan yang awalnya hanya mengandalkan kolam untuk konsumsi keluarga atau dijual di pasar lokal, mulai melihat potensi baru. Kolam mereka ternyata bisa menjadi destinasi wisata. Wisatawan yang datang membayar biaya masuk, ikut lomba memancing, atau sekadar menikmati pengalaman memancing di alam terbuka.
Baca juga artikel tentang: Pakan Bernutrisi tapi Beracun? Fakta Aflatoksin B1 yang Harus Diketahui Peternak
Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?
Penelitian melibatkan 100 petani ikan dari lima distrik di Garo Hills. Para peneliti menggunakan wawancara semi-terstruktur untuk menggali pandangan para petani tentang nilai sosial dari pariwisata memancing.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa banyak petani sebenarnya melihat budidaya ikan sebagai pekerjaan sampingan, bukan mata pencaharian utama. Maka, sebagian dari mereka awalnya ragu apakah pariwisata memancing benar-benar bisa memberi manfaat. Namun, dengan analisis lebih mendalam, penelitian menemukan sejumlah faktor yang justru memperkuat nilai sosial kegiatan ini.
Temuan Utama: Dari Biaya Masuk hingga Pendidikan
Ada beberapa temuan penting dari penelitian ini:
- Biaya Masuk dan Kompetisi
Menariknya, biaya masuk harian untuk memancing atau adanya lomba memancing justru menurunkan skor nilai sosial. Mengapa? Karena sebagian masyarakat lokal merasa kegiatan ini menjadi terlalu eksklusif dan membatasi akses mereka. - Pendidikan Petani Ikan
Tingkat pendidikan para petani ikan berperan positif. Petani yang lebih berpendidikan cenderung lebih terbuka dengan ide pariwisata dan memahami manfaat jangka panjangnya, baik secara sosial maupun ekonomi. - Investasi Tahunan dalam Pariwisata Memancing
Petani yang secara rutin berinvestasi dalam fasilitas memancing (misalnya memperbaiki kolam, menyediakan perlengkapan, atau membangun gazebo) mendapatkan nilai sosial lebih tinggi. Artinya, investasi kecil bisa memberi dampak besar. - Jumlah Pemancing Terdaftar
Semakin banyak wisatawan yang datang setiap tahun, semakin tinggi pula nilai sosial yang dirasakan petani. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata berbasis komunitas bisa menjadi sumber kebanggaan sosial sekaligus peluang ekonomi. - Jenis Keluarga
Menariknya, struktur keluarga juga berpengaruh. Keluarga besar yang terlibat bersama dalam pengelolaan kolam atau wisata memancing cenderung mendapatkan nilai sosial lebih tinggi dibanding keluarga inti yang lebih kecil.
Nilai Sosial yang Dimaksud Apa Saja?
Nilai sosial di sini tidak hanya soal uang. Petani ikan yang terlibat dalam pariwisata memancing merasa mendapatkan hal-hal berikut:
- Pengakuan Sosial: mereka lebih dihormati di komunitas karena menjadi bagian dari penggerak ekonomi baru.
- Konservasi Alam: menjaga kolam dan lingkungan sekitar agar tetap menarik bagi wisatawan memancing.
- Penguatan Identitas Budaya: memancing sering dikaitkan dengan tradisi lokal, sehingga kegiatan ini memperkuat rasa kebersamaan.
- Peningkatan Taraf Hidup: meski tidak selalu langsung besar, tambahan penghasilan membantu biaya pendidikan anak, kesehatan, atau kebutuhan sehari-hari.
Mengapa Penting untuk Pembangunan Berkelanjutan?
Studi ini menegaskan bahwa pariwisata memancing bisa menjadi motor pembangunan berkelanjutan di pedesaan. Dengan cara ini, petani ikan tidak hanya bergantung pada penjualan ikan yang harganya bisa fluktuatif, tetapi juga mendapatkan sumber pendapatan tambahan dari wisatawan.
Lebih dari itu, pariwisata memancing mendorong konservasi keanekaragaman hayati. Jika kolam dan sungai dijaga dengan baik, ikan tetap berkembang biak, ekosistem terpelihara, dan lingkungan sekitar tetap lestari.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
- Keterbatasan Aksesibilitas: Tidak semua daerah mudah dijangkau wisatawan. Infrastruktur jalan dan transportasi masih perlu ditingkatkan.
- Kekhawatiran Eksklusivitas: Jika pariwisata memancing hanya dinikmati segelintir orang atau butuh biaya tinggi, nilai sosial bisa menurun.
- Kapasitas Petani: Tidak semua petani ikan siap mengelola wisata, sehingga pelatihan dan pendampingan sangat penting.
- Konservasi yang Berkelanjutan: Ada risiko overfishing jika jumlah pemancing tidak diatur dengan baik.
Harapan ke Depan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pariwisata memancing bisa menjadi pilar baru pembangunan pedesaan di kawasan Garo Hills dan mungkin juga di tempat lain. Jika dikelola dengan baik, wisata ini bukan hanya menambah penghasilan petani ikan, tetapi juga memperkuat nilai sosial dan budaya masyarakat setempat.
Bayangkan sebuah desa kecil di lereng bukit: kolam ikan yang dulu hanya digunakan untuk beternak ikan lele atau nila, kini dipenuhi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin merasakan pengalaman memancing. Anak-anak desa bisa sekolah dengan biaya tambahan dari pariwisata, orang tua bangga karena menjadi bagian dari program konservasi, dan komunitas secara keseluruhan menjadi lebih kuat.
Pariwisata memancing di Garo Hills adalah contoh nyata bagaimana budidaya ikan bisa bertemu pariwisata untuk menciptakan nilai sosial yang lebih luas. Dari sekadar aktivitas rekreasi, memancing berubah menjadi alat pemberdayaan sosial, ekonomi, sekaligus konservasi lingkungan.
Jika di Indonesia konsep ini dikembangkan di desa-desa dengan kolam ikan atau danau kecil, bukan tidak mungkin akan menjadi sumber pariwisata baru yang berkelanjutan. Apalagi, masyarakat kita juga memiliki tradisi memancing yang kuat.
Dengan kata lain, kolam ikan bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga jendela menuju masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Peternakan Gurita: Antara Ambisi Industri dan Peringatan Ilmuwan
REFERENSI:
Sangma, Annastaycya Simsang dkk. Social values of angling tourism in the Garo Hills of Meghalaya, North East India: Fish farmers’ perspectives. Journal of Fisheries 13 (1), 131206-131206.


