Clostridium autoethanogenum: Dari Industri Bioenergi ke Pakan Akuakultur

Industri akuakultur (budidaya ikan, udang, dan hewan air lainnya) tumbuh sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Permintaan protein hewani dari laut terus meningkat, sementara hasil tangkapan ikan liar stagnan bahkan menurun. Untuk memenuhi kebutuhan, para peternak ikan menggunakan pakan berbasis tepung ikan (fishmeal), yang dibuat dari hasil tangkapan ikan kecil.

Masalahnya, produksi tepung ikan tidak berkelanjutan. Setiap tahun, jutaan ton ikan kecil yang sebenarnya bisa menjadi sumber makanan manusia atau bagian dari ekosistem laut justru diolah jadi pakan. Akibatnya, muncul tekanan ekologis, harga tepung ikan melambung, dan peternak ikan sering kali kesulitan mengatur biaya produksi.

Karena itu, ilmuwan di seluruh dunia berlomba mencari sumber protein alternatif untuk menggantikan fishmeal. Salah satu kandidat yang kini mendapat banyak perhatian adalah bakteri Clostridium autoethanogenum.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi

Mengenal Clostridium autoethanogenum

Bagi sebagian orang, kata Clostridium mungkin terdengar menakutkan karena identik dengan bakteri penyebab penyakit. Namun, tidak semua bakteri Clostridium berbahaya. Spesies Clostridium autoethanogenum justru sangat bermanfaat karena bisa mengubah gas seperti karbon monoksida (CO) menjadi biomassa kaya protein.

Awalnya, bakteri ini banyak dipakai dalam industri bioenergi, terutama untuk mengubah limbah gas menjadi etanol. Tetapi kini, para peneliti melihat peluang lain: sel bakteri yang kaya protein ini dapat diolah menjadi pakan ikan.

Hebatnya lagi, kandungan protein kering dari bakteri ini mencapai 80–89%, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar bahan pakan konvensional. Karena itu, protein dari bakteri ini disebut sebagai CAP (Clostridium autoethanogenum Protein).

Limbah biomassa industri yang mengandung karbon dioksida dan karbon monoksida dapat diubah oleh bakteri Clostridium autoethanogenum menjadi protein (CAP), yang kemudian dijadikan pakan akuakultur untuk ikan dan udang sehingga meningkatkan pertumbuhan, pemanfaatan pakan, pencernaan, metabolisme nutrien, kesehatan usus, hingga kualitas daging.

Apa kelebihan protein dari bakteri ini?

  1. Kandungan protein sangat tinggi
    Dengan hampir 90% protein, CAP bisa dibilang “super protein”. Ini membuatnya sangat menarik untuk pakan ikan yang membutuhkan nutrisi padat.
  2. Mengurangi ketergantungan pada fishmeal
    Jika CAP bisa menggantikan fishmeal, maka eksploitasi ikan kecil bisa ditekan, membantu melindungi ekosistem laut.
  3. Sumber yang berkelanjutan
    CAP diproduksi dari bakteri yang dikembangbiakkan di laboratorium atau pabrik, bukan dari hasil tangkapan alam. Artinya, pasokannya lebih stabil dan ramah lingkungan.
  4. Potensi menurunkan biaya produksi
    Dengan produksi massal, CAP berpotensi lebih murah dibanding fishmeal yang harganya fluktuatif karena tergantung musim dan tangkapan laut.

Bagaimana efeknya pada ikan?

Penelitian menunjukkan bahwa ketika CAP dipakai dalam pakan ikan:

  • Pertumbuhan ikan tetap optimal. Beberapa spesies mampu tumbuh sama baiknya dengan diet fishmeal.
  • Pencernaan dan penyerapan nutrisi berjalan baik, sehingga efisiensi pakan meningkat.
  • Respon imun ikan cukup terjaga, sehingga tidak lebih rentan terhadap penyakit dibanding ikan yang diberi pakan berbasis fishmeal.

Namun, ada catatan penting. Tidak semua spesies ikan merespons CAP dengan sama baiknya. Pada dosis tinggi, CAP justru bisa menimbulkan efek negatif pada kesehatan beberapa jenis ikan. Artinya, penggunaan CAP harus disesuaikan dengan spesies dan jumlah yang tepat.

Tantangan dalam pemanfaatan CAP

Meski menjanjikan, masih ada beberapa tantangan sebelum CAP benar-benar bisa dipakai secara luas:

  1. Variasi antar spesies ikan
    Beberapa jenis ikan cocok dengan pakan berbasis CAP, tapi yang lain justru mengalami masalah kesehatan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami perbedaan ini.
  2. Dosis optimal belum jelas
    Masih harus ditentukan berapa persen CAP yang bisa menggantikan fishmeal tanpa mengurangi performa pertumbuhan ikan.
  3. Ketersediaan skala besar
    Produksi CAP masih terbatas. Untuk bisa digunakan secara komersial, kapasitas produksinya harus diperluas agar bisa menyaingi volume fishmeal global.
  4. Penerimaan pasar
    Peternak ikan harus diyakinkan bahwa pakan berbasis CAP benar-benar aman, efektif, dan ekonomis. Selain itu, konsumen juga perlu percaya bahwa ikan yang dipelihara dengan pakan bakteri tetap sehat dan aman dikonsumsi.

Masa depan CAP dalam akuakultur

Para ahli percaya bahwa CAP bisa menjadi salah satu kunci menuju akuakultur berkelanjutan. Jika produksi CAP dapat dilakukan dalam skala besar dengan harga terjangkau, sektor perikanan budidaya bisa mengurangi ketergantungan pada laut sebagai sumber protein pakan.

Selain itu, penggunaan CAP bisa berkontribusi pada ekonomi sirkular—yaitu memanfaatkan limbah gas industri untuk menghasilkan protein baru. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi tekanan pada laut, tetapi juga mengurangi emisi karbon.

Namun, masa depan CAP bergantung pada riset lanjutan. Ilmuwan perlu meneliti lebih banyak spesies ikan, mencoba berbagai formulasi pakan, serta memastikan keamanan jangka panjang bagi kesehatan ikan dan konsumen manusia.

Budidaya ikan menghadapi tantangan besar karena ketergantungan pada tepung ikan yang tidak berkelanjutan. Clostridium autoethanogenum menawarkan solusi inovatif berupa protein bakteri (CAP) dengan kandungan nutrisi sangat tinggi.

Walaupun hasil awal sangat menjanjikan, masih ada pekerjaan rumah berupa uji coba lintas spesies, penentuan dosis optimal, dan produksi massal. Jika semua tantangan ini bisa diatasi, CAP bisa menjadi salah satu pilar penting dalam menciptakan akuakultur yang ramah lingkungan, ekonomis, dan berkelanjutan.

Baca juga artikel tentang: Tetrastigma, Herbal Ajaib yang Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Optimal

REFERENSI:

Maulu, Sahya. 2025. Utilizing Clostridium autoethanogenum for dietary protein in aquafeeds: Current progress in research and future perspectives. Journal of Applied Aquaculture 37 (1), 67-85.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top