Isu perubahan iklim semakin mendesak untuk ditangani. Salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang sering luput dari perhatian adalah peternakan sapi, khususnya sapi perah. Sapi memang menjadi penghasil susu utama yang kita konsumsi sehari-hari, tetapi proses pencernaannya menghasilkan gas metana (CH₄) dalam jumlah besar. Metana sendiri dikenal sebagai gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dampaknya terhadap pemanasan global dibandingkan karbon dioksida (CO₂).
Pertanyaan besarnya adalah: apakah ada cara memberi makan sapi perah yang bisa mengurangi produksi metana tanpa menurunkan hasil susunya?
Sebuah penelitian baru yang terbit di Journal of Dairy Science tahun 2025 mencoba menjawab pertanyaan ini. Para peneliti dari Eropa menguji bagaimana sumber dan kadar lemak dalam pakan sapi perah memengaruhi konsumsi pakan, produksi susu, serta emisi metana. Hasilnya membuka jalan baru dalam upaya menciptakan peternakan yang lebih ramah lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Mengapa Lemak Penting dalam Pakan Sapi?
Secara umum, pakan sapi perah didominasi oleh hijauan (rumput, silase, jerami) dan konsentrat (biji-bijian, bungkil kedelai, dan lain-lain). Lemak biasanya hanya menjadi tambahan kecil dalam ransum. Namun, penelitian sebelumnya sudah menunjukkan bahwa lemak bisa menekan aktivitas mikroba penghasil metana di dalam rumen (lambung pertama sapi).
Dua sumber lemak yang diteliti dalam studi ini adalah:
- Minyak biji rapa (rapeseed oil/fat) – populer di Eropa dan Amerika Utara karena ketersediaannya yang melimpah.
- Minyak inti sawit (palm kernel fat) – produk sampingan kelapa sawit yang banyak ditemukan di daerah tropis.
Kedua jenis lemak ini memiliki komposisi asam lemak berbeda, sehingga efeknya terhadap pencernaan sapi dan produksi metana juga bisa berbeda.
Desain Penelitian
Peneliti menggunakan 48 ekor sapi perah (campuran sapi yang baru pertama kali melahirkan dan yang sudah berpengalaman). Mereka diberi enam perlakuan berbeda dalam pola rotasi:
- Kontrol: tanpa tambahan lemak.
- Rapeseed fat: dengan tiga kadar berbeda (rendah, sedang, tinggi).
- Palm kernel fat: dengan dua kadar berbeda (rendah dan sedang).
Kadar lemak total dalam pakan bervariasi dari 3% hingga 7% dari bahan kering (dry matter/DM). Selama percobaan, peneliti memantau jumlah pakan yang dikonsumsi, produksi susu, serta kadar metana yang dihasilkan sapi menggunakan teknologi GreenFeed.
Hasil Utama: Lemak Bisa Kurangi Metana, Tapi…
- Konsumsi pakan turun ketika kadar lemak dinaikkan.
Semakin banyak lemak dalam pakan, sapi cenderung makan lebih sedikit. Hal ini terutama terlihat ketika sapi diberi palm kernel fat pada kadar sedang. - Rapeseed fat meningkatkan produksi susu hingga batas tertentu.
Saat kadar lemak rapeseed mencapai 5,7% dari pakan kering, sapi menghasilkan susu lebih banyak, termasuk energi susu (ECM – energy corrected milk). Namun, jika dosis ditambah, manfaatnya justru hilang. - Palm kernel fat lebih kuat dalam menekan metana, tetapi menurunkan hasil susu.
Dibandingkan rapeseed, palm kernel fat lebih efektif mengurangi emisi metana per kilogram pakan yang dimakan sapi. Sayangnya, ada efek samping berupa penurunan produksi susu, sehingga tidak ideal untuk tujuan produktivitas. - Pengurangan metana tidak selalu sebanding dengan efisiensi produksi.
Lemak memang menekan gas metana, tetapi jika produksi susu ikut menurun, dampaknya terhadap emisi per liter susu bisa jadi tidak signifikan.

Penelitian ini memberikan gambaran bahwa strategi pengurangan emisi di peternakan tidak bisa hanya fokus pada “berapa banyak gas metana yang dikurangi”, tetapi juga harus memperhatikan produktivitas.
- Rapeseed fat terbukti lebih seimbang: bisa menekan metana sambil meningkatkan produksi susu (hingga batas tertentu).
- Palm kernel fat memang lebih agresif dalam mengurangi metana, tetapi “harga yang dibayar” berupa turunnya hasil susu membuatnya kurang ideal sebagai strategi jangka panjang.
Dengan kata lain, jenis lemak, kadar penggunaannya, serta kondisi sapi harus benar-benar diperhitungkan agar manfaat lingkungan tidak merugikan peternak dari sisi ekonomi.
Tantangan di Lapangan
- Biaya Pakan
Lemak tambahan bukan bahan yang murah. Peternak harus mempertimbangkan apakah penurunan emisi sebanding dengan biaya ekstra yang dikeluarkan. - Aksesibilitas Bahan
Rapeseed banyak tersedia di Eropa, tetapi di negara tropis seperti Indonesia, palm kernel lebih melimpah. Ini berarti strategi setiap negara bisa berbeda tergantung sumber daya lokal. - Keseimbangan Nutrisi
Lemak berlebih bisa mengganggu pencernaan sapi. Jika tidak dikelola dengan benar, sapi justru bisa kekurangan nutrisi lain yang penting untuk produksi susu. - Kebijakan dan Dukungan Pemerintah
Untuk mendorong adopsi pakan rendah emisi, perlu ada insentif bagi peternak, misalnya subsidi bahan pakan atau sertifikasi “produk susu ramah iklim”.
Menuju Susu yang Lebih Ramah Lingkungan
Studi ini menjadi bagian dari upaya global untuk menurunkan jejak karbon dari industri peternakan. Konsumen modern semakin peduli pada isu lingkungan, termasuk pada produk susu dan olahannya.
Jika strategi seperti penambahan lemak dalam pakan bisa menekan emisi metana, maka bukan hanya iklim yang diuntungkan. Peternak juga bisa memanfaatkan label “low-carbon dairy product” untuk meningkatkan nilai jual produknya.
Namun, jalan menuju peternakan rendah emisi tidaklah sederhana. Diperlukan kombinasi pendekatan: mulai dari inovasi pakan, manajemen kotoran ternak, efisiensi produksi, hingga kebijakan pemerintah yang mendukung.
Lemak dalam pakan sapi perah ternyata punya peran penting bukan hanya untuk nutrisi, tetapi juga untuk lingkungan. Rapeseed fat terbukti membantu menekan emisi metana sekaligus meningkatkan hasil susu hingga kadar tertentu, sedangkan palm kernel fat lebih kuat menurunkan metana tetapi mengurangi produksi susu.
Bagi peternak, ini menjadi pengingat bahwa setiap inovasi harus dipertimbangkan dari berbagai sisi: produktivitas, biaya, ketersediaan bahan, serta dampak lingkungan.
Di masa depan, kombinasi penelitian nutrisi, teknologi pengukuran emisi, dan dukungan kebijakan bisa membawa kita pada era baru: segelas susu yang bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga lebih ramah bagi bumi.
Baca juga artikel tentang: Pemuliaan Serangga: Inovasi Kecil untuk Dampak Besar di Dunia Peternakan
REFERENSI:
Giagnoni, Giulio dkk. 2025. Effect of dietary fat source and concentration on feed intake, enteric methane, and milk production in dairy cows. Journal of Dairy Science 108 (1), 553-567.


