Bagi para peternak ikan, salah satu bahan utama dalam pakan adalah tepung ikan (fish meal). Tepung ikan adalah bubuk yang dibuat dari ikan-ikan kecil atau sisa hasil pengolahan ikan yang dikeringkan lalu digiling. Bahan ini sangat populer karena kandungan proteinnya tinggi, sehingga membantu pertumbuhan ikan lebih cepat dan sehat, serta memiliki lemak baik yang berguna sebagai sumber energi.
Namun, di balik manfaat tersebut, ada masalah besar. Harga tepung ikan sangat mahal sehingga bisa membebani biaya produksi peternak. Selain itu, ketersediaannya terbatas karena bahan bakunya sebagian besar berasal dari perikanan tangkap, yaitu ikan yang ditangkap langsung dari laut. Jika kebutuhan tepung ikan terus meningkat, penangkapan ikan yang berlebihan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut, mengurangi populasi ikan kecil, dan pada akhirnya mengancam keberlanjutan sumber daya laut itu sendiri.
Dengan kata lain, walaupun tepung ikan sangat berharga untuk budidaya, penggunaannya juga menimbulkan tantangan ekonomi dan lingkungan. Di satu sisi, peternak membutuhkan pakan bergizi untuk ikan, tetapi di sisi lain, ketergantungan pada tepung ikan bisa menimbulkan masalah bagi kelestarian laut dan bagi keberlangsungan usaha itu sendiri.
Pertanyaannya, apakah ada alternatif bahan pakan yang murah, bergizi, dan tersedia sepanjang tahun? Jawabannya mungkin ada di tempat yang tidak diduga: limbah ayam dari industri unggas.
Setiap hari, industri pemotongan ayam menghasilkan limbah berupa kepala, jeroan, kulit, dan tulang. Biasanya, limbah ini dianggap tidak bernilai, bahkan bisa menjadi masalah lingkungan jika tidak diolah dengan baik.
Namun, para peneliti menemukan bahwa limbah ayam bisa diolah menjadi tepung hasil samping ayam (chicken by-product meal/CBM). Produk ini kaya protein, punya lemak esensial, dan relatif murah. Karena itulah, CBM dipertimbangkan sebagai pengganti sebagian tepung ikan dalam pakan budidaya ikan.
Baca juga artikel tentang: Pemuliaan Serangga: Inovasi Kecil untuk Dampak Besar di Dunia Peternakan
Studi pada Ikan Rockfish
Penelitian terbaru di Korea Selatan menguji apakah tepung limbah ayam bisa menggantikan sebagian tepung ikan dalam pakan juvenile rockfish (Sebastes schlegelii) salah satu ikan laut bernilai tinggi.
Eksperimen berlangsung selama 56 hari, dengan 540 ekor ikan muda yang dibagi ke dalam 18 tangki. Para peneliti membuat enam jenis pakan:
- Kontrol (100% tepung ikan, tanpa CBM)
- Campuran dengan 10% CBM
- 20% CBM
- 30% CBM
- 40% CBM
- 50% CBM
Tujuannya untuk melihat sejauh mana tepung ikan bisa diganti tanpa menurunkan pertumbuhan ikan.
Hasil yang Mengejutkan
Hasilnya cukup menggembirakan:
- Penggantian hingga 20% tepung ikan dengan CBM tidak menurunkan pertumbuhan, konsumsi pakan, maupun kesehatan ikan.
- Kandungan kimia tubuh ikan, profil asam amino, dan parameter darah juga tidak terpengaruh negatif.
- Bahkan, pada tingkat 10–20% CBM, kinerja pertumbuhan ikan lebih baik dibandingkan dengan beberapa level campuran yang lebih tinggi.
Namun, jika penggantian lebih dari 30%, efisiensi mulai menurun. Artinya, penggunaan CBM memang sangat menjanjikan, tetapi tetap ada batas aman.

Dari sisi biaya, hasil penelitian ini sangat penting. Dengan mengganti hingga 20% tepung ikan dengan limbah ayam, produsen bisa menghemat biaya pakan secara signifikan. Mengingat pakan adalah komponen terbesar dalam biaya budidaya (bisa mencapai 60–70%), penghematan kecil sekalipun akan berdampak besar pada keuntungan.
Selain itu, penelitian ini menghitung Economic Profit Index (EPI), yang menunjukkan bahwa campuran 10–20% CBM lebih efisien secara ekonomi dibandingkan diet berbasis tepung ikan murni.
Dampak Lingkungan
Selain keuntungan finansial, ada dampak lingkungan yang tak kalah penting:
- Mengurangi ketergantungan pada tepung ikan → artinya menurunkan tekanan terhadap perikanan laut.
- Mengurangi limbah unggas → yang biasanya dibuang atau digunakan secara terbatas.
- Ekonomi sirkular → limbah satu industri (ayam) bisa jadi sumber daya bagi industri lain (perikanan).
Dengan kata lain, penelitian ini membantu menjawab dua masalah besar sekaligus: limbah unggas yang melimpah dan harga tepung ikan yang tinggi.
Apakah Aman untuk Konsumen?
Pertanyaan berikutnya tentu soal keamanan: apakah ikan yang diberi pakan berbasis limbah ayam aman untuk dikonsumsi manusia?
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perubahan signifikan dalam komposisi gizi ikan, termasuk asam amino esensial yang penting untuk kesehatan manusia. Dengan demikian, ikan yang diberi pakan campuran CBM tetap aman dan bernutrisi tinggi.
Namun, peneliti menekankan perlunya studi jangka panjang, terutama untuk melihat apakah ada efek akumulasi zat tertentu bila CBM digunakan dalam skala besar dalam jangka waktu lama.
Masa Depan Pakan Ikan
Studi ini membuka jalan baru dalam industri akuakultur. Jika diadopsi secara luas, penggunaan limbah ayam bisa menjadi solusi praktis untuk menekan biaya pakan dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Bayangkan saja: industri unggas menghasilkan jutaan ton limbah setiap tahun. Jika itu bisa diolah menjadi pakan ikan, maka kita bisa menciptakan sistem pangan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Penelitian ini membuktikan bahwa hingga 20% tepung ikan bisa diganti dengan tepung hasil samping ayam tanpa menurunkan pertumbuhan ikan rockfish. Selain menurunkan biaya, langkah ini juga bermanfaat bagi lingkungan karena mengurangi limbah unggas dan ketergantungan pada tepung ikan.
Bagi para peternak ikan, temuan ini bisa menjadi kabar baik. Dengan bahan pakan yang lebih murah dan ramah lingkungan, masa depan akuakultur bisa menjadi lebih berkelanjutan, memberi manfaat bagi produsen, konsumen, dan bumi kita.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
REFERENSI:
Li, Ran & Cho, Sung Hwoan. 2025. Fish Meal Replacement by Chicken By-Product Meal in Diet: Impacts on Growth and Feed Availability of Juvenile Rockfish (Sebastes schlegeli), and Economical Analysis. Animals 15 (1), 80.


