Udang adalah salah satu komoditas unggulan akuakultur dunia. Permintaannya terus meningkat karena udang menjadi sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat global. Namun, ada masalah besar di balik industri ini: pakan udang masih sangat bergantung pada tepung ikan (fishmeal). Tepung ikan berasal dari hasil tangkapan laut yang jumlahnya terbatas. Penggunaannya secara masif tidak hanya meningkatkan biaya produksi, tetapi juga menimbulkan tekanan besar terhadap ekosistem laut.
Di sinilah muncul ide memanfaatkan serangga sebagai sumber pakan alternatif, khususnya larva Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam. Serangga ini dikenal mampu mengubah limbah organik menjadi biomassa bernutrisi tinggi. Dengan kata lain, serangga tidak hanya menjadi sumber protein bagi udang, tetapi juga solusi pengelolaan sampah organik.
Larva BSF memiliki kandungan protein dan lemak yang sebanding dengan tepung ikan. Bahkan, ada beberapa keunggulan tambahan:
- Pertumbuhan cepat: dalam waktu 2 minggu, larva BSF bisa dipanen dengan bobot yang cukup besar.
- Pemakan limbah alami: mereka bisa menguraikan sisa makanan, limbah dapur, atau hasil samping pertanian.
- Jejak lingkungan rendah: produksi BSF tidak membutuhkan lahan luas, tidak menghasilkan gas rumah kaca signifikan, dan lebih berkelanjutan dibandingkan industri perikanan tangkap.
Namun, penelitian tentang pakan berbasis BSF untuk udang masih relatif baru. Hasil uji coba yang ada menunjukkan variasi yang cukup lebar dalam hal pertumbuhan, kesehatan, dan performa udang.
Baca juga artikel tentang: Tetrastigma, Herbal Ajaib yang Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Optimal
Apa yang Ditemukan Penelitian Ini?
Studi terbaru yang dipublikasikan di Aquaculture International (2025) mencoba menjawab satu pertanyaan penting: bisakah pakan udang berbasis serangga diterima secara luas?
Peneliti menguji penggunaan pakan berbasis larva BSF pada udang putih Pasifik (Pacific White Shrimp / PWS), salah satu spesies udang yang paling banyak dibudidayakan di dunia.
Ada tiga poin utama dari penelitian ini:
- Faktor-faktor yang memengaruhi hasil
Variasi dalam hasil pertumbuhan udang ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh pakan BSF itu sendiri, tetapi juga oleh:- Strain genetik BSF yang digunakan
- Cara pengolahan sebelum diberikan (misalnya apakah dikeringkan, difermentasi, atau dicampur dengan bahan lain)
- Desain eksperimen dan metode analisis
- BSF sebagai pengganti tepung ikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian tepung ikan bisa digantikan dengan larva BSF tanpa menurunkan kinerja pertumbuhan udang. Indeks produksi antara kelompok uji dan kelompok kontrol (pakan biasa) tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Ini kabar baik, karena berarti pakan berbasis BSF bisa menjadi alternatif nyata untuk mengurangi ketergantungan pada tepung ikan. - Perlu pedoman penelitian yang seragam
Peneliti menekankan perlunya pedoman standar dalam penelitian pakan serangga. Mereka bahkan mengusulkan 39 parameter yang perlu dicatat dan dianalisis dalam setiap studi, mulai dari kandungan nutrisi, kesehatan udang, hingga aspek lingkungan. Hal ini penting agar hasil penelitian bisa dibandingkan dan direplikasi di berbagai tempat.

Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Jika pakan berbasis BSF benar-benar diadopsi secara luas, dampaknya bisa sangat besar:
- Ekonomi: biaya produksi udang bisa ditekan karena tidak terlalu bergantung pada tepung ikan yang mahal dan pasokannya terbatas. Peternak juga bisa memproduksi sebagian pakan mereka sendiri dengan memelihara larva BSF.
- Lingkungan: mengurangi penangkapan ikan laut untuk dijadikan tepung, sekaligus membantu mengolah limbah organik rumah tangga dan pertanian.
- Sosial: membuka peluang usaha baru di bidang peternakan serangga, yang bisa melibatkan masyarakat lokal dalam rantai produksi pakan berkelanjutan.
Tantangan yang Masih Ada
Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan yang harus diatasi sebelum pakan serangga benar-benar bisa menggantikan tepung ikan secara luas:
- Konsistensi nutrisi: Kandungan gizi BSF bisa berbeda tergantung dari jenis limbah yang mereka makan. Diperlukan standar agar nilai gizi tetap stabil.
- Penerimaan konsumen: Meski udang tidak peduli apa yang mereka makan, konsumen manusia mungkin memiliki persepsi negatif jika tahu udang diberi makan serangga. Edukasi publik sangat penting di sini.
- Regulasi: Setiap negara memiliki aturan berbeda terkait penggunaan serangga sebagai bahan pakan. Harmonisasi regulasi internasional perlu dilakukan agar perdagangan udang berbasis pakan serangga tidak terhambat.
Masa Depan Akuakultur Berkelanjutan
Studi ini menegaskan bahwa serangga bisa menjadi kunci masa depan pakan berkelanjutan untuk akuakultur. Dengan penelitian yang lebih terstandar, BSF berpotensi menggantikan sebagian besar kebutuhan tepung ikan, mengurangi tekanan pada ekosistem laut, sekaligus mendukung ekonomi sirkular berbasis limbah organik.
Bayangkan sebuah sistem di mana limbah makanan rumah tangga dikumpulkan, dijadikan pakan larva BSF, kemudian larva itu dipakai untuk memberi makan udang. Udang kemudian menjadi sumber protein bergizi bagi manusia. Sebuah siklus produksi pangan yang nyaris tanpa limbah.
Industri udang menghadapi tantangan besar, terutama terkait ketersediaan pakan. Namun, dengan hadirnya pakan berbasis serangga seperti larva BSF, ada harapan baru menuju akuakultur yang lebih ramah lingkungan, hemat biaya, dan berkelanjutan.
Agar inovasi ini benar-benar diterima luas, diperlukan standar penelitian yang jelas, dukungan kebijakan, serta kesadaran konsumen bahwa makan udang yang diberi pakan serangga bukanlah sesuatu yang aneh, melainkan langkah maju untuk menjaga bumi kita.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
REFERENSI:
Barth, Annalena dkk. 2025. Broad acceptance of sustainable insect-based shrimp feeds requires reproducible and comparable research. Aquaculture International 33 (2), 101.


