Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati: Solusi Praktis Mengendalikan Aflatoksin

Bayangkan Anda memberi makan sapi, ayam, atau kambing dengan pakan yang dibuat dari jagung, kacang tanah, atau biji-bijian lain. Dari luar, pakan tersebut tampak baik-baik saja: warnanya normal, tidak ada bercak jamur, dan baunya pun seperti biasa. Namun, ternyata di balik tampilan yang terlihat aman itu, bisa saja tersembunyi sebuah racun berbahaya yang disebut aflatoksin.

Aflatoksin adalah racun alami (mycotoxin) yang diproduksi oleh jamur dari genus Aspergillus, terutama Aspergillus flavus, A. parasiticus, dan A. nomius. Jamur ini mudah tumbuh pada bahan pangan atau pakan yang lembap, hangat, dan disimpan terlalu lama. Begitu jamur berkembang, ia menghasilkan racun yang tidak terlihat mata, tidak berbau, tetapi sangat berbahaya bagi kesehatan hewan maupun manusia.

Bahaya utama aflatoksin adalah sifatnya yang karsinogenik, artinya dapat memicu kanker. Pada hewan ternak, paparan aflatoksin bisa menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, gangguan hati, berkurangnya nafsu makan, dan menurunnya produksi (misalnya susu atau telur). Lebih jauh lagi, aflatoksin bisa ikut masuk ke dalam produk ternak yang kemudian dikonsumsi manusia, sehingga juga berisiko bagi kesehatan kita.

Aflatoksin termasuk kelompok karsinogen golongan I menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO). Artinya, ada bukti kuat bahwa aflatoksin bisa menyebabkan kanker pada manusia.

Pada hewan, dampaknya bisa lebih cepat terlihat. Konsumsi pakan yang tercemar aflatoksin dapat menyebabkan:

  • Penurunan nafsu makan → hewan jadi malas makan, pertumbuhan melambat.
  • Kerusakan hati → hati membesar, fungsinya terganggu, bahkan bisa berujung kematian.
  • Gangguan reproduksi → sapi sulit bunting, ayam berkurang produksi telurnya.
  • Penurunan imunitas → hewan mudah sakit karena sistem pertahanan tubuh melemah.
  • Residu pada produk ternak → racun bisa ikut terbawa ke susu, telur, atau daging yang dikonsumsi manusia.

Jenis aflatoksin yang paling berbahaya adalah AFB1, diikuti AFB2, AFG1, dan AFG2. Selain itu, ada juga AFM1 yang sering ditemukan dalam susu sapi yang memakan pakan tercemar.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

Bagaimana Aflatoksin Masuk ke Rantai Pakan?

Aflatoksin bisa muncul di mana saja dalam rantai produksi pakan:

  1. Di lahan pertanian – ketika jagung, kacang tanah, atau biji-bijian lain tumbuh di lingkungan lembap dan panas.
  2. Saat panen – jika panen dilakukan terlambat atau saat cuaca basah.
  3. Penyimpanan – gudang pakan yang lembap, sirkulasi udara buruk, dan tidak bersih adalah surga bagi jamur.
  4. Proses distribusi – pakan yang dikirim tanpa pengemasan baik bisa menyerap kelembapan dan memicu pertumbuhan jamur.

Inilah mengapa peternak sering tanpa sadar memberi pakan yang sudah tercemar, meski tampak “aman” secara kasat mata.

Aflatoksin dari makanan rentan seperti jagung dan kacang dapat masuk ke pakan ternak, lalu berpindah ke produk hewan (susu, telur, daging), dan akhirnya menyebabkan keracunan makanan pada manusia.

Bagi peternak, aflatoksin bukan sekadar masalah kesehatan hewan, tetapi juga kerugian ekonomi besar.

  • Ayam pedaging → pertumbuhan lambat, FCR (Feed Conversion Ratio) memburuk, panen mundur.
  • Ayam petelur → produksi telur menurun, kualitas kerabang buruk.
  • Sapi perah → produksi susu turun, susu bisa terkontaminasi AFM1.
  • Kambing/domba → bobot badan sulit naik, rentan penyakit.

Jika produk hewan seperti susu atau telur terdeteksi mengandung aflatoksin, nilainya langsung jatuh di pasaran, bahkan bisa dilarang beredar. Artinya, peternak bisa rugi besar.

Bagaimana Cara Mengendalikannya?

Kabar baiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan peternak untuk meminimalkan risiko aflatoksin:

1. Pengelolaan Pakan yang Baik

  • Simpan pakan di gudang kering, sejuk, dengan ventilasi baik.
  • Gunakan karung atau wadah kedap udara.
  • Terapkan prinsip FIFO (First In, First Out) agar pakan tidak disimpan terlalu lama.

2. Pemilihan Bahan Baku

  • Gunakan jagung atau biji-bijian dengan kadar air <13%.
  • Hindari bahan yang tampak berjamur atau menggumpal.
  • Lakukan uji laboratorium bila memungkinkan, terutama untuk usaha skala besar.

3. Penggunaan Bahan Tambahan (Aflatoxin Binder)

Di pasaran sudah banyak tersedia bahan pengikat aflatoksin (binder) yang ditambahkan ke dalam pakan. Bahan ini bekerja seperti spons, menyerap aflatoksin di saluran pencernaan sehingga tidak masuk ke darah hewan.

4. Pengendalian di Lahan Pertanian

  • Gunakan varietas jagung yang lebih tahan jamur.
  • Panen tepat waktu, jangan menunggu terlalu kering di lahan.
  • Keringkan hasil panen dengan baik sebelum disimpan.

Ancaman Bagi Kesehatan Manusia

Bahaya aflatoksin tidak berhenti di kandang. Racun ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat:

  • Susu dan produk olahannya (keju, yoghurt).
  • Telur dari ayam yang makan pakan tercemar.
  • Daging dari ternak yang terpapar kronis.
  • Langsung dari bahan pangan seperti kacang tanah, jagung, dan gandum.

Di banyak negara berkembang, aflatoksin dikaitkan dengan tingginya angka kanker hati. Jika dikonsumsi anak-anak, racun ini juga bisa menghambat pertumbuhan.

Mengapa Isu Ini Penting?

Aflatoksin adalah masalah global yang menyangkut keamanan pangan (food safety). Negara-negara maju punya regulasi ketat soal batas maksimum aflatoksin di pakan dan makanan. Namun, di banyak negara berkembang, pengawasan masih lemah.

Padahal, sekali aflatoksin terbentuk, racun ini sangat stabil, tahan panas dan sulit dihilangkan dengan memasak atau merebus. Artinya, pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan.

Aflatoksin adalah musuh senyap di dunia peternakan. Tidak terlihat, tidak berbau, tetapi bisa merugikan peternak, membahayakan kesehatan hewan, bahkan mengancam manusia yang mengonsumsi produk ternak.

Langkah sederhana seperti penyimpanan pakan yang baik, pemilihan bahan baku berkualitas, dan penggunaan binder bisa membantu meminimalkan risiko. Namun, kesadaran peternak dan konsumen adalah kunci utama.

Dengan memahami bahaya aflatoksin, kita bisa lebih waspada dan menjaga agar produk peternakan tetap sehat, aman, dan bernilai tinggi.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi

REFERENSI:

Coppock, Robert W & Christian, Ralph G. 2025. Aflatoxins. Veterinary toxicology, 1009-1023.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top