Dalam dunia peternakan modern, salah satu faktor terpenting yang menentukan keberhasilan adalah pakan. Pakan bisa dibilang sebagai sumber energi utama bagi hewan ternak seperti sapi, ayam, kambing, atau babi. Energi ini dibutuhkan hewan untuk bertumbuh, menghasilkan produk (misalnya daging, susu, atau telur), serta menjaga kesehatannya.
Sebagian besar energi dalam pakan berasal dari pati, yaitu jenis karbohidrat kompleks yang banyak terdapat pada biji-bijian seperti jagung, gandum, dan barley. Pati ini sebenarnya mirip dengan nasi atau roti bagi manusia, menjadi bahan bakar utama bagi tubuh.
Namun, ada masalah yang sering luput dari perhatian. Tidak semua pati bisa dicerna dengan baik oleh sistem pencernaan hewan. Pada sapi, misalnya, sebagian pati bisa lolos begitu saja tanpa dipecah menjadi energi. Akibatnya, sebagian energi dalam pakan terbuang percuma, keluar bersama kotoran, dan tidak memberikan manfaat maksimal untuk pertumbuhan hewan.
Dengan kata lain, meskipun pakan kaya akan energi, efisiensi pencernaan hewan masih menjadi tantangan besar. Peternak mungkin sudah mengeluarkan biaya mahal untuk pakan, tetapi sebagian dari “bahan bakar” itu justru hilang tanpa sempat dipakai oleh tubuh hewan.
Inilah mengapa ilmuwan dan peternak selalu mencari cara agar hewan bisa mendapatkan energi maksimal dari pakan. Salah satu inovasi terbaru yang banyak diteliti adalah penggunaan enzim tambahan (exogenous enzymes).
Enzim adalah protein khusus yang bekerja seperti “gunting biologis” untuk memotong molekul besar menjadi bagian yang lebih kecil sehingga mudah dicerna. Di dalam pakan, ada beberapa enzim yang sering digunakan:
- Fitase (phytase): memecah senyawa fitat, sehingga mineral dan pati lebih mudah dicerna.
- Protease: membantu mencerna protein sekaligus berperan memperbaiki struktur biji-bijian agar pati lebih mudah terurai.
- Xilanase/Glukanase: memecah serat kompleks pada gandum dan barley, membuat pati lebih “terbuka” untuk dicerna.
Studi terbaru oleh Xianyi Liu dan tim (2025) meneliti bagaimana kombinasi enzim ini bekerja dalam meningkatkan pencernaan pati dari tiga biji-bijian utama: jagung, gandum, dan barley.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Riset: Beda Biji-Bijian, Beda Efek Enzim
Penelitian ini menggunakan model in vitro (laboratorium yang meniru pencernaan hewan) untuk menguji bagaimana enzim bekerja pada biji-bijian yang sudah digiling dengan ukuran partikel berbeda.
Hasil utamanya cukup menarik:
- Jagung (maize): Fitase memberikan pengaruh terbesar pada pencernaan pati.
- Gandum (wheat): Xilanase/Glukanase jauh lebih efektif meningkatkan pencernaan dibanding enzim lain.
- Barley: Sama seperti gandum, enzim xilanase/glukanase paling berperan dalam mempercepat pemecahan pati.
Artinya, jenis biji-bijian menentukan enzim mana yang paling efektif. Tidak ada satu enzim yang cocok untuk semua.

1. Efisiensi Pakan Lebih Tinggi
Dengan enzim, energi yang bisa diserap dari pakan meningkat. Peternak bisa menghemat biaya karena hewan membutuhkan lebih sedikit pakan untuk menghasilkan daging, susu, atau telur dalam jumlah sama.
2. Kesehatan Hewan Lebih Baik
Jika pakan lebih mudah dicerna, sistem pencernaan hewan tidak bekerja terlalu keras. Ini dapat mengurangi masalah pencernaan seperti kembung, diare, atau fermentasi berlebihan di rumen.
3. Lingkungan Lebih Ramah
Pakan yang tidak tercerna akan keluar sebagai kotoran dan bisa menambah polusi lingkungan. Dengan enzim, kotoran hewan mengandung lebih sedikit nutrisi sisa, sehingga bau berkurang dan risiko pencemaran tanah serta air juga menurun.
4. Fleksibilitas dalam Formulasi Pakan
Peternak bisa menyesuaikan penggunaan enzim sesuai bahan baku yang tersedia. Misalnya, jika pakan banyak menggunakan jagung, maka fitase bisa ditambahkan. Jika gandum atau barley yang dominan, maka xilanase/glukanase jadi pilihan tepat.
Tantangan yang Perlu Dipahami
Meskipun menjanjikan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
- Biaya: Enzim tambahan tentu menambah harga pakan. Namun biasanya biaya ini terbayar lewat peningkatan efisiensi pakan.
- Stabilitas enzim: Beberapa enzim bisa rusak jika proses pembuatan pakan menggunakan suhu sangat tinggi. Oleh karena itu, teknologi pelapisan enzim menjadi penting.
- Kesesuaian formulasi: Tidak semua kombinasi enzim bekerja sama dengan baik. Peternak perlu mengikuti rekomendasi berdasarkan penelitian atau uji coba lokal.
Apa Artinya untuk Masa Depan Peternakan?
Hasil riset ini menunjukkan bahwa kita kini punya pendekatan yang lebih cerdas dalam memberi makan ternak. Bukan sekadar memilih biji-bijian yang paling murah, tetapi juga mengoptimalkan pencernaannya dengan bantuan enzim tepat.
Jika teknologi ini diadopsi secara luas, peternakan masa depan bisa lebih:
- Efisien: Produksi daging, susu, dan telur meningkat tanpa harus menambah jumlah pakan secara berlebihan.
- Ramah lingkungan: Limbah berkurang, jejak karbon peternakan juga menurun.
- Berkelanjutan: Mengurangi ketergantungan pada bahan pakan impor dengan memanfaatkan enzim agar pakan lokal bisa lebih optimal.
Penelitian oleh Liu dan tim (2025) menegaskan bahwa tidak ada enzim tunggal yang bisa menyelesaikan semua masalah pencernaan pati. Setiap jenis biji-bijian memiliki “kunci” enzim yang berbeda: fitase untuk jagung, xilanase/glukanase untuk gandum dan barley.
Bagi peternak, pemahaman ini bisa menjadi senjata baru untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya. Dengan strategi pakan yang lebih ilmiah, masa depan peternakan tidak hanya lebih menguntungkan, tetapi juga lebih ramah bagi lingkungan dan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
REFERENSI:
Liu, Xianyi dkk. 2025. Starch digestion enhancement by phytase, protease and xylanase/glucanase in milled maize, wheat and barley grains depends on cereal type and particle size. Journal of Cereal Science 122, 104107.


