Seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk dunia, kebutuhan akan pangan juga meningkat tajam. Tidak hanya makanan pokok seperti beras atau gandum, tetapi terutama produk hewani seperti daging, telur, dan susu yang menjadi sumber protein penting bagi manusia.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, industri peternakan dituntut menghasilkan lebih banyak produk. Namun, ada kendala besar: biaya produksi ternak semakin mahal, terutama dari sisi pakan. Faktanya, lebih dari 60% total biaya dalam usaha peternakan berasal dari pakan saja. Artinya, sebagian besar uang yang dikeluarkan peternak digunakan hanya untuk memberi makan hewan. Jika harga pakan naik, otomatis harga produk ternak pun ikut terdorong naik.
Di sisi lain, ada masalah lain yang tak kalah serius, yaitu limbah makanan. Setiap hari, di seluruh dunia, ribuan ton sisa makanan dibuang begitu saja. Sisa ini bisa berupa makanan rumah tangga, restoran, hingga dari industri. Masalahnya, tumpukan limbah makanan ini tidak hanya sia-sia karena seharusnya masih bisa dimanfaatkan, tetapi juga menimbulkan dampak lingkungan, misalnya menghasilkan gas metana dari pembusukan yang berkontribusi pada pemanasan global.
Dengan demikian, dunia menghadapi tantangan ganda: bagaimana menyediakan pangan hewani yang cukup untuk semua orang, sementara biaya produksi terus naik, dan pada saat yang sama mengurangi dampak limbah makanan yang kian menumpuk.
Dua masalah besar ini (kebutuhan pakan murah dan limbah makanan) sebenarnya bisa dijawab dengan satu solusi unik: larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly Larvae/BSFL). Serangga ini mampu mengurai limbah organik dan mengubahnya menjadi sumber protein bergizi tinggi yang bisa dipakai untuk pakan ayam, ikan, dan ternak lainnya.
Namun muncul pertanyaan penting: apakah pakan dari larva BSF ini benar-benar aman, terutama jika larvanya tumbuh dari limbah makanan yang terkontaminasi?
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Riset Tentang Keamanan Mikrobial Larva BSF
Sebuah studi terbaru yang dimuat di jurnal Waste Management (2025) meneliti keamanan mikroba pada larva BSF yang dibesarkan di lima jenis limbah makanan dari dua fasilitas produksi komersial. Fokus utamanya adalah menilai apakah larva ini mengandung bakteri berbahaya yang bisa membahayakan ternak atau bahkan manusia yang mengonsumsi produk hewan ternak tersebut.
Apa yang Ditemukan Peneliti?
- Bakteri yang Ditemukan
- Beberapa bakteri spora seperti Bacillus cereus dan Clostridium perfringens ditemukan dalam konsentrasi cukup tinggi.
- Ragi dan jamur juga ada, tetapi jumlahnya lebih rendah dibanding bakteri.
- Perbedaan Berdasarkan Jenis Limbah
- Larva yang tumbuh di limbah homogen (misalnya sisa roti atau sayuran tunggal) memiliki jumlah bakteri lebih tinggi dibandingkan larva yang tumbuh di limbah campuran.
- Artinya, jenis substrat atau media makanan memengaruhi tingkat keamanan mikroba larva.
- Perbedaan Berdasarkan Umur Larva
- Larva yang lebih tua (fase pre-pupa) memiliki jumlah bakteri lebih rendah. Hal ini diduga karena adanya efek antimikroba dari asam lemak dalam tubuh larva.
- Perlakuan Pasca Panen
- Proses sederhana seperti blanching (perebusan sebentar) dan pengeringan terbukti mampu menurunkan jumlah bakteri berbahaya secara signifikan.
- Hasil ini menunjukkan bahwa dengan perlakuan yang tepat, larva BSF bisa memenuhi standar keamanan pakan yang berlaku secara internasional.
- Bebas dari Patogen Berbahaya Tertentu
- Uji mikroba memastikan bahwa larva BSF bebas dari bakteri berbahaya yang sering menginfeksi manusia, seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria monocytogenes.

Penelitian ini memberikan kabar baik. Larva BSF yang diternakkan di limbah makanan dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak yang aman, asalkan mengikuti prosedur produksi dan pengolahan yang benar.
Beberapa manfaat utama:
- Sumber Protein Tinggi: Kandungan proteinnya bisa mencapai 40–45%, sebanding bahkan lebih baik dari tepung ikan atau kedelai.
- Mengurangi Biaya Pakan: Peternak bisa memanfaatkan limbah lokal untuk membiakkan larva, sehingga biaya pakan ternak lebih hemat.
- Ramah Lingkungan: Limbah makanan yang tadinya hanya menumpuk dan membusuk bisa didaur ulang menjadi sesuatu yang bermanfaat.
- Ekonomi Sirkular: Model ini menciptakan siklus berkelanjutan: limbah → larva → pakan ternak → produk hewani untuk manusia.
Tantangan yang Harus Dihadapi
Meskipun menjanjikan, ada beberapa hal yang masih perlu diperhatikan:
- Standarisasi Produksi
- Perlu panduan resmi tentang bagaimana larva harus dibesarkan, jenis limbah apa saja yang aman, serta metode pemrosesan pasca panen.
- Penerimaan Konsumen
- Beberapa orang mungkin masih ragu mengonsumsi daging ayam atau ikan yang pakannya berasal dari serangga. Edukasi publik sangat penting di sini.
- Regulasi dan Kebijakan
- Negara-negara perlu membuat regulasi jelas untuk mengatur penggunaan larva BSF dalam rantai pangan, sehingga aman bagi hewan dan manusia.
Masa Depan BSF di Peternakan
Bayangkan sebuah kota besar dengan gunungan sampah makanan. Dengan teknologi budidaya larva BSF, sampah itu bisa diubah menjadi protein untuk ayam petelur, ikan nila, atau sapi. Dampaknya luar biasa:
- Sampah berkurang drastis.
- Peternak mendapat pakan murah.
- Masyarakat tetap bisa menikmati produk hewan yang sehat dan aman.
Penelitian ini juga membuka jalan bagi terciptanya industri baru, yaitu industri budidaya serangga untuk pakan. Negara-negara berkembang seperti Indonesia, Nepal, atau Bangladesh, yang memiliki volume limbah organik besar, bisa menjadikan BSF sebagai solusi lokal yang murah sekaligus ramah lingkungan.
Larva Black Soldier Fly bukan sekadar serangga biasa. Mereka adalah “mesin daur ulang alami” yang mampu mengubah limbah makanan menjadi emas dalam bentuk protein pakan ternak.
Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun larva BSF bisa membawa bakteri tertentu, dengan pengolahan sederhana seperti perebusan dan pengeringan, larva ini aman digunakan. Bahkan, mereka bebas dari patogen berbahaya yang sering menjadi momok dalam dunia pangan.
Dengan dukungan regulasi, riset lanjutan, dan penerimaan masyarakat, larva BSF bisa menjadi kunci menuju peternakan yang lebih murah, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
REFERENSI:
Alagappan, Shanmugam dkk. 2025. Microbial safety of black soldier fly larvae (Hermetia illucens) reared on food waste streams. Waste Management 194, 221-227.


