Pernahkah Anda memperhatikan apa saja yang tersaji di meja makan? Sering kali ada makanan yang berasal dari hewan, misalnya daging sapi, ayam, ikan, telur, atau susu. Tidak berhenti di situ, banyak produk olahan yang kita nikmati sehari-hari juga masuk dalam kategori ini, seperti keju, yoghurt, mentega, hingga es krim.
Makanan-makanan tersebut dalam istilah ilmiah disebut sebagai Animal-Derived Foods (ADFs), atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai makanan yang berasal dari hewan. Istilah ini mencakup semua jenis pangan yang secara langsung maupun tidak langsung dihasilkan oleh hewan, baik berupa produk utama (seperti daging dan susu) maupun produk olahan turunan (seperti keju atau yoghurt yang dibuat dari susu).
ADFs memiliki peran penting dalam pola makan manusia karena menjadi sumber protein hewani, vitamin, mineral, dan lemak yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan tetap sehat. Tidak heran, makanan dari hewan ini sudah menjadi bagian penting dari budaya makan di berbagai belahan dunia.
Bagi banyak orang, makanan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga sumber gizi penting. Protein, zat besi, zinc, vitamin B12, dan asam lemak sehat adalah contoh nutrisi yang banyak terdapat dalam produk hewani. Namun, konsumsi ADF juga membawa diskusi besar, mulai dari manfaatnya bagi kesehatan, risikonya, hingga dampaknya pada lingkungan dan masyarakat.
Produk hewani sering dianggap sebagai “paket gizi lengkap”. Misalnya:
- Daging merah kaya akan zat besi yang mudah diserap tubuh.
- Ikan mengandung asam lemak omega-3 yang baik untuk otak dan jantung.
- Susu adalah sumber kalsium utama untuk tulang yang kuat.
- Telur menyimpan protein berkualitas tinggi dan vitamin penting.
Bagi anak-anak, makanan ini sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan protein atau zat gizi tertentu bisa menyebabkan masalah seperti stunting (pertumbuhan terhambat) atau anemia (kurang darah).
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
Risiko dan Kekhawatiran
Meski kaya nutrisi, ADF juga sering dikaitkan dengan risiko kesehatan tertentu. Misalnya, konsumsi daging merah berlebihan dianggap bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker usus besar, atau diabetes tipe 2. Produk olahan hewani yang tinggi lemak jenuh juga bisa berkontribusi pada obesitas.
Namun, perlu diingat bahwa risikonya biasanya muncul jika konsumsi berlebihan atau jika pola makan tidak seimbang. Artinya, bukan berarti daging atau susu berbahaya, tetapi perlu dikonsumsi dengan porsi yang pas dan diimbangi dengan sayur, buah, dan biji-bijian.
Dampak Sosial: Dari Peternak hingga Konsumen
Produk hewani bukan hanya soal gizi dan kesehatan, tapi juga punya peran sosial yang besar.
- Mendukung ekonomi peternak
Industri peternakan memberi mata pencaharian bagi jutaan orang di seluruh dunia, terutama di pedesaan. - Budaya dan tradisi
Banyak makanan hewani yang erat dengan identitas budaya. Contohnya, ikan sebagai menu utama masyarakat pesisir, atau daging kambing dalam acara keagamaan. - Akses dan keadilan pangan
Tidak semua orang punya akses sama terhadap makanan bergizi. Di banyak negara berkembang, produk hewani bisa jadi barang mahal, padahal justru dibutuhkan untuk mengatasi malnutrisi.
Lingkungan dan Jejak Karbon
Salah satu isu terbesar dari ADF adalah dampaknya terhadap lingkungan. Peternakan, terutama sapi, menghasilkan gas rumah kaca (metana) yang berkontribusi pada perubahan iklim. Selain itu, peternakan intensif juga butuh banyak air, pakan, dan lahan.
Namun, penelitian terbaru mencoba mencari jalan tengah. Misalnya:
- Menggunakan pakan alternatif untuk mengurangi emisi gas.
- Mengintegrasikan produk sampingan pertanian (seperti tebu) ke dalam pakan ternak.
- Mengelola limbah peternakan untuk diubah menjadi energi biogas.
Dengan strategi ini, produksi hewani bisa lebih ramah lingkungan dan tetap menyediakan gizi penting bagi manusia.
Inovasi dalam Produksi Hewani
Ilmuwan juga mulai mengembangkan cara-cara baru agar produksi hewani lebih berkelanjutan dan sehat, misalnya:
- Mengubah pakan sapi atau kambing dengan menambahkan biji-bijian tertentu sehingga daging atau susu lebih sehat, mengandung lemak baik yang lebih tinggi.
- Menggunakan probiotik pada ayam dan babi untuk meningkatkan kekebalan tubuh hewan tanpa antibiotik.
- Mengelola pola makan masyarakat agar lebih seimbang, sehingga konsumsi ADF tidak berlebihan tapi tetap cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi.
Manusia, Hewan, dan “One Health”
Ada konsep menarik yang disebut One Health. Konsep ini melihat bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung.
- Hewan sehat berarti pangan yang sehat bagi manusia.
- Lingkungan yang terjaga berarti produksi pangan lebih aman dan berkelanjutan.
Dengan pandangan ini, produksi ADF tidak hanya soal untung rugi ekonomi, tetapi juga bagian dari sistem kesehatan global.
Jadi, Haruskah Kita Mengurangi Makanan Hewani?
Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Semua kembali pada keseimbangan.
- Di negara-negara miskin, menambah konsumsi produk hewani justru bisa memperbaiki kesehatan anak-anak.
- Di negara maju, mengurangi konsumsi daging merah berlebih bisa membantu mengurangi penyakit kronis sekaligus dampak lingkungan.
Kuncinya ada pada kualitas dan kuantitas: memilih produk hewani yang lebih sehat (misalnya ikan atau susu rendah lemak) dan mengonsumsinya dalam jumlah wajar.
Makanan hewani sudah menjadi bagian dari sejarah manusia sejak ribuan tahun lalu. Ia memberi nutrisi penting, menopang budaya, dan menggerakkan ekonomi. Namun, tantangan baru di era modern, seperti kesehatan kronis, krisis iklim, dan ketimpangan pangan mendorong kita untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksinya.
Masa depan bukanlah tentang meninggalkan makanan hewani sepenuhnya, melainkan mencari keseimbangan: bagaimana kita bisa tetap mendapatkan manfaat gizinya, sambil menjaga kesehatan manusia, kelestarian lingkungan, dan keadilan sosial.
Dengan cara itu, makanan hewani bisa terus menjadi bagian penting dari piring kita—bukan sebagai masalah, tapi sebagai solusi dalam sistem pangan yang berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan
REFERENSI:
Wood, Jeff dkk. 2025. Animal-derived foods in our diets: nutrition, health and social implications. Frontiers in Animal Science 6, 1561770.


