Bagi seorang peternak kambing, biaya terbesar biasanya datang dari pakan. Bahkan, pengeluaran untuk pakan bisa mencapai 60–70% dari total ongkos produksi. Artinya, lebih dari separuh modal yang dikeluarkan peternak hanya untuk memberi makan kambing. Tidak heran jika ada satu istilah yang menjadi kunci utama dalam peternakan modern, yaitu feed efficiency atau efisiensi pakan.
Secara sederhana, efisiensi pakan adalah ukuran untuk melihat seberapa baik seekor kambing memanfaatkan makanan yang dimakannya untuk diubah menjadi energi, daging, atau susu. Seekor kambing yang efisien akan mampu menghasilkan susu lebih banyak atau tumbuh lebih cepat dengan jumlah pakan yang relatif lebih sedikit.
Sebaliknya, jika seekor kambing kurang efisien, pakan yang diberikan banyak terbuang (misalnya tidak tercerna dengan baik dan keluar lagi sebagai kotoran) sehingga hasil produksinya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
Dengan kata lain, semakin efisien seekor kambing dalam mengolah pakan, semakin sedikit pakan yang diperlukan untuk menghasilkan hasil ternak yang sama. Bagi peternak, hal ini berarti biaya bisa ditekan dan keuntungan meningkat, tanpa harus menambah jumlah pakan atau modal secara berlebihan.
Namun, meski dua ekor kambing diberi pakan yang sama, hasilnya tidak selalu sama. Ada kambing yang cepat gemuk, ada pula yang tetap kurus. Pertanyaannya: mengapa bisa berbeda?
Jawabannya ternyata ada pada mikroba rumen (kumpulan bakteri dan organisme kecil di perut kambing) serta faktor genetik dari si kambing itu sendiri.
Kambing, sapi, dan domba termasuk hewan ruminansia. Mereka memiliki rumen, yaitu “fermenter alami” yang dipenuhi triliunan mikroba. Mikroba inilah yang membantu mencerna serat kasar seperti rumput, jerami, atau dedaunan yang sulit dicerna manusia.
Dalam penelitian terbaru pada kambing Shami (SH) dan Zaraibi (ZA) di Mesir, para ilmuwan menemukan bahwa perbedaan komposisi mikroba rumen berpengaruh besar pada efisiensi pakan.
- Kambing Zaraibi (ZA) memiliki efisiensi pakan lebih tinggi dibanding Shami (SH).
- Mikroba jenis Bacteroidota dan Fibrobacterota lebih banyak ditemukan pada ZA. Mikroba ini ahli dalam memecah selulosa dan hemiselulosa dari tanaman menjadi energi.
- Ada pula bakteri spesialis seperti Prevotella dan Lachnospiraceae, yang menghasilkan asam lemak volatil, sumber energi utama bagi kambing.
Dengan kata lain, rumen yang kaya mikroba “ahli pencernaan” membuat kambing bisa memanfaatkan pakan lebih optimal.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
Faktor Genetik: Warisan dari Dalam Tubuh
Selain mikroba, DNA kambing itu sendiri juga memengaruhi efisiensi pakan. Dalam studi ini, para peneliti menganalisis genetik menggunakan teknologi canggih (Illumina SNP chip). Mereka menemukan 26 penanda gen (marker genes) yang terkait dengan efisiensi pakan.
Beberapa gen penting tersebut berhubungan dengan:
- Metabolisme energi (misalnya gen FTO dan ACSL6).
- Pengaturan lemak dan protein (AP4S1, LCAT).
- Pengangkutan vitamin dan mineral (SLC7A6).
- Pertumbuhan dan obesitas (TMEM241, HYAL2).
Artinya, kambing yang membawa kombinasi gen tertentu bisa “secara alami” lebih hemat pakan.
Dampak untuk Peternakan
Temuan ini punya arti besar bagi masa depan peternakan kambing, khususnya di negara tropis seperti Indonesia.
- Seleksi Bibit Lebih Tepat
Dengan mengetahui gen dan mikroba rumen yang mendukung efisiensi pakan, peternak bisa memilih bibit kambing yang lebih unggul. Anak-anak kambing dari induk dengan efisiensi tinggi akan mewarisi sifat yang sama, sehingga populasi ternak semakin hemat pakan. - Pakan Bisa Dioptimalkan
Jika diketahui mikroba mana yang berperan penting, peternak bisa mengatur pakan atau menambahkan probiotik tertentu untuk meningkatkan populasi mikroba “baik” di rumen. - Mengurangi Biaya dan Emisi
Efisiensi pakan tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mengurangi emisi metana dari ternak. Metana adalah gas rumah kaca yang dihasilkan dari fermentasi pakan di rumen. Jadi, semakin efisien pakan, semakin rendah pula jejak karbon peternakan.
Studi Kasus: Shami vs Zaraibi
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meski keduanya diberi pakan yang sama, kambing Zaraibi lebih unggul dalam memanfaatkan pakan dibanding Shami.
Mengapa?
- Mikroba rumen Zaraibi lebih banyak jenis pengurai serat.
- Genetik Zaraibi membawa penanda khusus yang mendukung metabolisme energi dan nutrien.
Bagi peternak, informasi ini sangat berharga. Artinya, pemilihan ras kambing bisa menentukan tingkat keuntungan.

Penelitian seperti ini membuka jalan ke arah peternakan presisi (precision livestock farming). Bayangkan suatu hari nanti:
- Peternak bisa menguji DNA kambing muda untuk mengetahui apakah dia akan tumbuh hemat pakan.
- Atau, dengan sampel kecil dari rumen, bisa diketahui mikroba dominan dan langsung disesuaikan pakannya.
Dengan begitu, peternakan kambing bisa lebih produktif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Efisiensi pakan kambing tidak hanya soal jenis rumput atau konsentrat yang diberikan. Faktor mikroba rumen dan genetik bawaan juga memegang peranan besar. Penelitian terbaru pada kambing Shami dan Zaraibi menunjukkan bahwa kombinasi mikroba pengurai serat dan gen tertentu membuat kambing lebih hemat pakan.
Bagi peternak, memahami hal ini berarti bisa memilih bibit dengan lebih cerdas, mengatur pakan lebih efisien, dan tentu saja, meningkatkan keuntungan.
Masa depan peternakan kambing akan semakin bergantung pada sains—bukan hanya pengalaman. Dengan bantuan riset genetik dan mikroba, peternakan bisa melangkah ke era baru: lebih hemat, lebih hijau, lebih menguntungkan.
Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan
REFERENSI:
Rabee, Alaa Emara dkk. 2025. Variations in rumen microbiota and host genome impacted feed efficiency in goat breeds. Frontiers in Microbiology 16, 1492742.


