Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

Ketika kita membicarakan kuda, kebanyakan orang mungkin langsung terbayang hewan gagah yang berlari di padang rumput atau digunakan dalam olahraga. Namun, ada sisi lain yang menarik dari kuda yang jarang dibahas: bagaimana mereka memilih makanan dan cara mereka merumput. Studi terbaru oleh Paul Sharpe dan Laura B Kenny (2025) membuka tabir tentang perilaku merumput, konsumsi pakan, dan pilihan makanan kuda. Topik ini ternyata penting, bukan hanya bagi peternak, tetapi juga bagi kesehatan dan kesejahteraan kuda itu sendiri.

Kuda sering disamakan dengan sapi atau kambing dalam hal merumput. Padahal, fisiologi pencernaan dan cara mereka memilih pakan sangat berbeda. Sapi adalah hewan ruminansia dengan sistem lambung kompleks, sedangkan kuda termasuk hindgut fermenter, yang mengandalkan usus besar dan sekum untuk mencerna serat.

Perbedaan ini membuat strategi merumput dan kebutuhan nutrisi kuda unik. Jika sapi bisa mengandalkan mikroba di rumen untuk mencerna hampir semua jenis serat, kuda harus lebih selektif agar tidak kekurangan energi atau protein.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kuda mulai membentuk preferensi dan “alergi” makanan sejak usia dini, bahkan kemungkinan sejak dalam kandungan melalui pengaruh induknya. Misalnya, seekor kuda bisa terbiasa menyukai aroma atau rasa tanaman tertentu jika induknya mengonsumsinya saat bunting.

Setelah lahir, pengalaman makan yang disertai dengan umpan balik pencernaan memperkuat pilihan mereka. Jika setelah memakan tanaman tertentu kuda merasa kenyang dan nyaman, ia akan mengingat pengalaman itu dan mengulanginya. Sebaliknya, jika tanaman membuat perut kembung atau tidak enak, kuda akan menghindarinya di kemudian hari.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

Tiga Level “Keputusan Makan”

Uniknya, penelitian ini membagi keputusan makan kuda dalam tiga level berbeda:

  1. Level gigitan (bite/plant level)
    Di tahap ini, kuda memutuskan rumput atau tanaman mana yang akan digigit. Mereka bisa menyeleksi daun muda yang lebih lunak dan kaya nutrisi, sambil meninggalkan bagian tua yang keras dan berserat tinggi.
  2. Level lokasi makan (patch/feeding site level)
    Kuda tidak sembarangan berpindah. Mereka memilih area tertentu yang dianggap lebih “enak” atau subur. Lokasi dengan rumput segar, hijau, dan pendek biasanya lebih disukai daripada area yang tandus atau penuh gulma.
  3. Level wilayah (camp/home range level)
    Pada skala yang lebih luas, kuda punya “peta mental” tentang padang rumput mereka. Mereka akan kembali ke area yang sudah terbukti menyediakan makanan yang sesuai kebutuhan, sambil meninggalkan area lain yang tidak menguntungkan.

Mengapa Pemilihan Pakan Ini Penting?

Bagi kuda, memilih pakan bukan sekadar soal selera, tapi menyangkut kelangsungan hidup. Dengan selektif, mereka bisa memastikan asupan protein tercukupi, energi optimal, dan menghindari tanaman beracun.

Bagi peternak, memahami perilaku ini sangat membantu dalam manajemen padang rumput. Misalnya, jika kuda cenderung menghindari area tertentu, mungkin tanah di sana miskin nutrisi atau terlalu banyak tumbuhan yang tidak disukai. Dengan memperhatikan pola merumput, peternak bisa memperbaiki kualitas padang rumput dan memastikan kuda tetap sehat.

Walau terlihat sederhana, praktiknya tidak semudah itu. Ada beberapa tantangan yang sering dihadapi peternak kuda:

  • Overgrazing (penggembalaan berlebih): Kuda sering merumput di area favorit secara berulang, menyebabkan rumput di sana habis dan tanah menjadi rusak.
  • Gulma beracun: Jika pilihan pakan terbatas, kuda mungkin terpaksa mengonsumsi tanaman yang kurang baik bahkan berbahaya.
  • Keseimbangan gizi: Jika dibiarkan memilih bebas tanpa pengawasan, kuda bisa kekurangan nutrisi penting seperti protein atau mineral tertentu.

Solusi dari Sains dan Manajemen

Hasil penelitian ini memberikan arahan praktis:

  1. Rotasi padang rumput
    Dengan memindahkan kuda secara bergiliran dari satu area ke area lain, peternak bisa mencegah overgrazing dan memberi waktu bagi rumput untuk tumbuh kembali.
  2. Diversifikasi tanaman
    Menanam berbagai jenis hijauan di padang rumput membantu kuda memiliki pilihan yang lebih seimbang secara nutrisi. Misalnya, campuran rumput dengan leguminosa seperti alfalfa bisa meningkatkan asupan protein.
  3. Pemantauan perilaku
    Dengan mengamati area mana yang sering dipilih atau dihindari kuda, peternak bisa menilai kualitas padang rumput secara alami.
  4. Pemberian pakan tambahan
    Jika padang rumput tidak cukup memenuhi kebutuhan nutrisi, suplementasi dengan pakan konsentrat, vitamin, atau mineral sangat membantu.

Dari Ilmu ke Praktik: Apa yang Bisa Dipelajari Peternak?

Penelitian ini mengingatkan kita bahwa kuda bukan mesin pemakan rumput, tetapi hewan dengan sistem pencernaan dan perilaku kompleks. Setiap gigitan rumput adalah hasil keputusan biologis yang dipengaruhi pengalaman, kebutuhan nutrisi, dan kondisi lingkungan.

Dengan memahami ini, peternak bisa mengelola lahan dan pakan secara lebih bijak. Hasil akhirnya bukan hanya kuda yang lebih sehat dan produktif, tetapi juga penggunaan padang rumput yang lebih berkelanjutan.

Studi oleh Sharpe dan Kenny (2025) membuka wawasan baru tentang cara kuda memilih dan mengonsumsi pakan. Dari tingkat gigitan hingga pola jelajah padang rumput, semua keputusan makan kuda ternyata penuh pertimbangan biologis.

Bagi peternak, memahami pola ini bisa menjadi kunci untuk meningkatkan kesehatan kuda sekaligus menjaga keberlanjutan padang rumput. Pada akhirnya, merawat kuda bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga soal memahami “cara berpikir” mereka saat memilih makanan.

Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan

REFERENSI:

Sharpe, Paul & Kenny, Laura B. 2025. Grazing behavior, feed intake, and feed choices. Horse Pasture Management, 137-159.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top