Inovasi Pakan Ikan: Tongkol Jagung Bantu Hemat Biaya dan Tingkatkan Kualitas

Setiap tahun, pertanian menghasilkan jutaan ton limbah seperti tongkol jagung, batang kapas, jerami gandum, rumput liar, hingga sampah rumah tangga organik. Selama ini, limbah tersebut sering dianggap tak berguna, dibakar, atau dibuang begitu saja sehingga menimbulkan pencemaran udara dan tanah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa limbah tersebut justru bisa menjadi “harta karun” jika diolah dengan tepat, salah satunya melalui biochar.

Biochar adalah arang hasil pembakaran biomassa (misalnya jerami, tongkol jagung, atau rumput) pada suhu tinggi dengan oksigen terbatas. Proses ini tidak menghasilkan abu biasa, melainkan arang berpori yang memiliki banyak manfaat, termasuk untuk memperbaiki kualitas tanah, menyerap racun, hingga menjadi bahan tambahan pakan ternak dan ikan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Amjad dan tim (2025), biochar diuji sebagai bahan tambahan pakan pada ikan mas (Cyprinus carpio). Ikan mas dipilih karena merupakan salah satu ikan konsumsi paling populer di Asia, termasuk Indonesia. Pertumbuhan ikan mas yang cepat dan kebutuhan pasarnya yang tinggi membuat spesies ini cocok dijadikan model uji coba.

Penelitian ini menilai apakah penambahan biochar dari berbagai jenis limbah bisa meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan kualitas daging ikan mas. Jika berhasil, strategi ini tidak hanya mengurangi limbah pertanian, tetapi juga meningkatkan produktivitas akuakultur dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

Rancangan Penelitian

Para peneliti menyiapkan tujuh jenis pakan:

  1. Kontrol: pakan biasa tanpa tambahan biochar.
  2. Pakan + biochar dari sampah rumah tangga (HW).
  3. Pakan + biochar dari batang kapas (CS).
  4. Pakan + biochar dari jerami gandum (WS).
  5. Pakan + biochar dari tongkol jagung (CCBC).
  6. Pakan + biochar dari rumput liar (GW).
  7. Pakan + biochar dari campuran rumput dan limbah hijau lainnya.

Setiap jenis biochar ditambahkan sebanyak 2% dari total pakan, lalu diberikan pada ikan mas selama 60 hari. Ada 15 ekor ikan dalam tiap kelompok, dengan replikasi tiga kali untuk memastikan hasilnya akurat.

Hasil Penelitian: Si Juara Tongkol Jagung

Hasilnya cukup mengejutkan. Tidak semua biochar memberikan manfaat. Biochar dari sampah rumah tangga (HW), misalnya, justru menurunkan performa pertumbuhan ikan. Namun, biochar dari tongkol jagung (Corn Cob Biochar/CCBC) memberikan hasil terbaik.

Ikan yang diberi pakan dengan tambahan CCBC menunjukkan:

  • Pertumbuhan lebih cepat dibanding kelompok kontrol.
  • Pencernaan nutrien lebih baik, sehingga protein, lemak, dan mineral bisa diserap tubuh lebih efisien.
  • Profil darah yang lebih sehat, menandakan sistem kekebalan tubuh dan metabolisme yang lebih baik.
  • Kualitas karkas (daging) yang meningkat, artinya hasil panen lebih bernilai untuk konsumen.

Secara statistik, semua peningkatan tersebut signifikan (p < 0.05), artinya kecil kemungkinan hasil ini hanya kebetulan.

Grafik ini menunjukkan bahwa penambahan berbagai jenis biochar dari limbah pertanian ke pakan ikan memengaruhi berat awal, berat akhir, pertambahan bobot, persentase pertambahan bobot, serta efisiensi pakan (FCR) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR).

Tongkol jagung ternyata memiliki karakteristik unik ketika diolah menjadi biochar. Struktur porinya sangat baik untuk menyerap racun atau zat berbahaya di saluran pencernaan ikan. Selain itu, biochar membantu menciptakan kondisi usus yang lebih sehat bagi mikrobiota (bakteri baik) sehingga nutrisi lebih mudah diserap.

Bisa dibilang, CCBC berfungsi mirip seperti “probiotik alami” sekaligus “penyaring racun” dalam tubuh ikan. Kombinasi inilah yang membuat pertumbuhan ikan mas lebih cepat dan lebih sehat.

Dampak bagi Lingkungan

Temuan ini tidak hanya bermanfaat bagi akuakultur, tetapi juga bagi lingkungan. Dengan mengolah limbah pertanian menjadi biochar, kita bisa mengurangi praktik pembakaran terbuka yang merusak kualitas udara. Limbah yang awalnya hanya menumpuk dan berpotensi mencemari lingkungan kini bisa diubah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Selain itu, penggunaan biochar dalam akuakultur berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan pakan konvensional yang seringkali mahal dan tidak ramah lingkungan. Dengan begitu, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas hasil.

Potensi Aplikasi Lebih Luas

Walaupun penelitian ini fokus pada ikan mas, tidak menutup kemungkinan biochar dari tongkol jagung juga bermanfaat untuk spesies ikan lain seperti nila, lele, atau bahkan udang. Selain itu, strategi ini dapat diperluas ke peternakan unggas atau ruminansia, karena prinsip dasarnya sama: biochar membantu meningkatkan penyerapan nutrisi dan menjaga kesehatan usus.

Bagi petani dan peternak di pedesaan, teknologi ini bisa menjadi solusi ganda: mengurangi limbah pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan dari sektor perikanan.

Tantangan dan Langkah Selanjutnya

Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:

  • Standarisasi biochar: Tidak semua biochar sama. Kualitasnya sangat tergantung pada bahan baku dan cara pembuatannya.
  • Keamanan jangka panjang: Walaupun hasilnya positif, perlu uji coba lebih lama untuk memastikan tidak ada efek samping bagi kesehatan ikan atau manusia yang mengonsumsinya.
  • Penerapan skala besar: Penelitian masih dilakukan di laboratorium. Diperlukan uji coba di lapangan untuk melihat efektivitasnya di kolam atau tambak komersial.

Penelitian ini menunjukkan bahwa biochar dari tongkol jagung (CCBC) adalah bahan tambahan pakan yang sangat potensial untuk meningkatkan pertumbuhan, kesehatan, dan kualitas daging ikan mas. Dengan memanfaatkan limbah pertanian sebagai biochar, kita bisa mengubah masalah lingkungan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Inovasi sederhana ini adalah contoh nyata bagaimana sains dapat menjawab dua masalah sekaligus: pangan dan lingkungan. Jika diterapkan secara luas, strategi ini bisa membantu mewujudkan akuakultur yang lebih ramah lingkungan, sehat, dan menguntungkan bagi petani maupun konsumen.

Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan

REFERENSI:

Amjad, Muhammad dkk. 2025. Agro-Waste Biochar Conversion into a Fish Feed Additive: Assessing its Effects on the Health and Performance of Cyprinus carpio. Waste and Biomass Valorization 16 (2), 901-910.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top