Di era perubahan iklim dan krisis pangan global, dunia peternakan menghadapi tantangan besar. Di satu sisi, permintaan daging, susu, dan telur terus meningkat seiring pertumbuhan populasi manusia. Di sisi lain, produksi ternak tradisional memiliki dampak besar terhadap lingkungan, mulai dari penggunaan lahan yang luas, emisi gas rumah kaca, hingga pencemaran air dan tanah. Salah satu solusi inovatif yang kini mendapat perhatian serius dari para ilmuwan adalah penggunaan serangga sebagai pakan ternak berkelanjutan.
Artikel ini akan mengulas bagaimana serangga dapat menjadi sumber protein alternatif yang kaya gizi, ramah lingkungan, sekaligus mendukung masa depan peternakan yang lebih berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C
Mengapa Serangga?
Selama ini, pakan ternak umumnya berasal dari kedelai, jagung, dan tepung ikan. Namun, ketiga bahan tersebut punya masalah serius:
- Kedelai dan jagung memerlukan lahan pertanian yang luas, menyebabkan deforestasi dan mengurangi keanekaragaman hayati.
- Tepung ikan berasal dari tangkapan laut, sehingga menekan populasi ikan liar dan ekosistem perairan.
Di sisi lain, serangga seperti larva lalat tentara hitam (black soldier fly larvae), ulat tepung (mealworm), dan jangkrik ternyata kaya akan protein, asam amino esensial, asam lemak, serta mikronutrien penting. Komposisi gizinya bahkan bisa bersaing dengan sumber pakan tradisional, dan dalam beberapa aspek lebih unggul.
Nilai Gizi Serangga untuk Ternak
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa:
- Larva lalat tentara hitam mengandung protein tinggi dan lemak sehat, cocok untuk unggas dan ikan.
- Ulat tepung kaya akan asam amino penting, membantu pertumbuhan otot ternak.
- Jangkrik tidak hanya kaya protein, tetapi juga mengandung mineral seperti zat besi dan kalsium.
Selain itu, serangga bisa dicerna dengan baik oleh berbagai jenis ternak, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pakan. Hasil akhirnya: ternak tumbuh lebih cepat, sehat, dan produktif.

Keunggulan lain dari budidaya serangga adalah jejak ekologisnya yang jauh lebih kecil dibanding bahan pakan tradisional.
- Hemat air dan lahan
Serangga bisa dipelihara dalam ruangan kecil dengan sedikit air, tidak seperti kedelai dan jagung yang butuh hektar-hektar ladang. - Mengurangi limbah organik
Serangga dapat dibesarkan dengan memanfaatkan sampah organik, seperti sisa makanan, ampas buah, atau limbah pertanian. Ini berarti kita bisa mendaur ulang limbah sekaligus menghasilkan pakan bergizi. - Lebih sedikit emisi gas rumah kaca
Produksi serangga menghasilkan jauh lebih sedikit metana dan karbon dioksida dibandingkan dengan produksi pakan konvensional.
Dengan kata lain, serangga tidak hanya memberi solusi untuk kebutuhan pakan, tapi juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.
Tantangan yang Harus Diatasi
Meski menjanjikan, penggunaan serangga sebagai pakan ternak tidak lepas dari tantangan besar, antara lain:
- Regulasi dan izin resmi: Di banyak negara, aturan tentang penggunaan serangga sebagai pakan masih terbatas.
- Penerimaan konsumen: Meski serangga hanya untuk pakan ternak, sebagian masyarakat masih memiliki rasa “tabu” terhadap ide ini.
- Skalabilitas produksi: Dibutuhkan teknologi dan infrastruktur agar budidaya serangga bisa dilakukan dalam skala besar dengan harga yang terjangkau.
- Kualitas gizi yang konsisten: Serangga harus diproduksi dengan standar tertentu agar kandungan gizinya stabil dan aman untuk ternak.
Namun, para peneliti optimis tantangan ini bisa diatasi lewat riset lebih lanjut, dukungan kebijakan, dan edukasi publik.
Masa Depan Pakan Berbasis Serangga
Bayangkan sebuah peternakan ayam di masa depan: alih-alih mengimpor kedelai dari ribuan kilometer, peternak bisa memiliki unit kecil budidaya serangga di samping kandang. Limbah organik dari pasar lokal atau restoran diolah menjadi pakan serangga, dan serangga tersebut langsung dijadikan makanan ayam.
Hasilnya?
- Biaya pakan lebih murah karena memanfaatkan limbah lokal.
- Ayam lebih sehat dengan asupan gizi yang seimbang.
- Lingkungan lebih bersih karena sampah organik berkurang.
- Emisi karbon turun, mendukung upaya global melawan perubahan iklim.
Inovasi ini sejalan dengan tren pertanian berkelanjutan yang semakin mendunia.

Meskipun serangga mungkin tidak langsung masuk ke piring makan manusia (walau di beberapa budaya, serangga memang dikonsumsi), manfaatnya tetap terasa. Dengan pakan berbasis serangga:
- Harga pangan bisa lebih stabil karena biaya pakan yang lebih murah.
- Lingkungan lebih terlindungi dengan berkurangnya limbah dan emisi.
- Ketersediaan protein hewani meningkat, membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat global yang terus bertambah.
Dengan kata lain, serangga memberi solusi yang unik: memberi makan ternak agar ternak bisa memberi makan manusia dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dunia peternakan sedang berada di titik balik. Tantangan krisis pangan, keterbatasan lahan, dan perubahan iklim menuntut solusi baru yang lebih ramah lingkungan. Serangga hadir sebagai jawaban, sumber protein yang bergizi, murah, dan berkelanjutan.
Tentu, masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan, mulai dari regulasi hingga penerimaan masyarakat. Namun, dengan dukungan penelitian, inovasi teknologi, dan kebijakan pemerintah, serangga bisa menjadi bagian penting dari sistem pangan masa depan.
Jadi, lain kali Anda mendengar tentang ulat atau jangkrik, jangan langsung merasa jijik. Bisa jadi, mereka adalah pahlawan tak terlihat yang membantu menyediakan daging, susu, dan telur yang kita konsumsi setiap hari dengan cara yang lebih ramah bagi bumi.
Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan
REFERENSI:
Fu, Chun dkk. 2025. Insects as Sustainable feed: Enhancing animal nutrition and reducing livestock environmental impression. Journal of Animal Physiology and Animal Nutrition 109 (2), 280-290.


