Sapi, Rumput, dan Iklim: Bagaimana Cara Menggembala Bisa Menentukan Masa Depan Bumi

Padang rumput bukan sekadar lahan luas yang hijau dan indah. Bagi kita, padang rumput adalah “dapur raksasa” yang memberi makan miliaran sapi, kambing, dan domba di seluruh dunia. Bagi Bumi, padang rumput punya fungsi vital: menyerap karbon dari udara, menyimpan air, menjaga kesuburan tanah, hingga menjadi rumah bagi ribuan spesies tumbuhan dan hewan.

Namun, ada satu faktor besar yang bisa menjaga atau justru merusak fungsi penting ini: grazing alias penggembalaan ternak.

Grazing sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya buruk. Di alam liar, hewan pemakan rumput seperti zebra, bison, atau rusa sudah sejak dulu berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem padang rumput. Ketika hewan-hewan ini makan rumput, mereka membantu mencegah tanaman tertentu tumbuh berlebihan, sehingga tanaman lain tetap punya ruang hidup.

Gambar sebaran penelitian peternakan di berbagai benua (paling banyak di Asia dan Amerika Utara) serta hubungan jenis ternak (sapi, kambing, domba) dengan tipe ekosistem, curah hujan, dan suhu lingkungan.

Hewan yang merumput juga membantu siklus nutrisi. Kotoran ternak, misalnya, bisa menjadi pupuk alami yang memperkaya tanah. Bahkan, pada kondisi tertentu, penggembalaan ringan dapat meningkatkan penyerapan karbon ke dalam tanah, yang artinya membantu melawan perubahan iklim.

Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C

Ketika Merumput Berlebihan Jadi Bencana

Sayangnya, cerita tidak selalu seindah itu. Penelitian global terbaru yang menganalisis hampir 4.000 data dari 148 studi di seluruh dunia menunjukkan bahwa penggembalaan yang terlalu intens justru bisa merusak fungsi ekosistem padang rumput.

Hasil analisis menemukan bahwa:

  • Produktivitas tanaman menurun hingga 26%.
  • Konservasi air berkurang sekitar 18%.
  • Penyerapan karbon menurun 19%.

Angka ini bukan sekadar statistik. Bayangkan tanah yang semakin gersang, air hujan yang lebih cepat menguap, dan kemampuan tanah untuk menyimpan karbon melemah. Itu artinya lebih banyak gas rumah kaca yang tertinggal di atmosfer, memperparah pemanasan global.

Gambar ini menunjukkan bahwa penggembalaan ternak secara umum menurunkan biomassa tanaman, kandungan karbon, air, dan nutrien tanah, tetapi meningkatkan biomassa mikroba, nutrien daun, dan sedimen tanah.

Yang menarik, efek penggembalaan ternak ternyata berbeda-beda tergantung di mana dan bagaimana ternak digembalakan.

  • Di daerah kering (arid): Penggembalaan ringan bisa meningkatkan penyimpanan karbon tanah, yang baik untuk iklim.
  • Di daerah semi-kering: Efek positif itu justru hilang, bahkan bisa memperburuk kerusakan.
  • Dengan cuaca makin panas dan kering akibat perubahan iklim, dampak buruk penggembalaan diprediksi akan makin parah, terutama jika tidak ada aturan pengelolaan yang jelas.

Artinya, tidak ada resep tunggal. Cara terbaik mengelola ternak di satu wilayah bisa jadi tidak cocok di tempat lain.

Jenis Ternak dan Cara Gembala Juga Berpengaruh

Selain faktor lingkungan, jenis ternak dan cara menggembala juga menentukan hasilnya. Misalnya, menggembalakan campuran beberapa jenis hewan (misalnya sapi dan kambing sekaligus) bisa lebih baik dibanding hanya satu jenis. Hal ini karena tiap jenis hewan punya pola makan berbeda, sehingga tekanan pada tanaman lebih merata.

Selain itu, durasi dan intensitas penggembalaan sangat krusial. Padang rumput yang diberi waktu untuk “istirahat” biasanya bisa pulih lebih baik dibanding padang rumput yang terus-menerus digembalakan tanpa jeda.

Faktor iklim, tekstur tanah, dan jenis padang rumput memengaruhi produksi, ketersediaan air, karbon, nutrien, dan dekomposisi dalam sistem penggembalaan ternak dengan intensitas dan jenis pengelolaan berbeda.

Dari penelitian ini, pesan utamanya jelas: ternak bisa menjadi sahabat atau musuh lingkungan, tergantung pada cara kita mengelolanya. Penggembalaan yang bijak dapat menjaga ekosistem tetap sehat sekaligus mendukung ketahanan pangan manusia. Sebaliknya, penggembalaan berlebihan bisa mempercepat degradasi tanah, mengurangi cadangan air, dan memperburuk perubahan iklim.

Bagi petani dan peternak, kuncinya adalah menemukan titik keseimbangan: berapa banyak ternak yang bisa ditampung oleh lahan tanpa merusaknya, kapan waktu yang tepat untuk memberi lahan beristirahat, dan bagaimana mengombinasikan berbagai jenis hewan agar manfaatnya maksimal.

Apa Artinya Bagi Kita?

Mungkin kita bertanya, “Lalu apa hubungannya dengan saya, orang yang tidak menggembala sapi di padang rumput?” Jawabannya: banyak sekali.

Setiap kali kita makan daging sapi, kambing, atau produk olahan seperti susu dan keju, kita ikut “memilih” bagaimana ekosistem padang rumput dikelola. Jika permintaan terlalu tinggi dan tidak diimbangi pengelolaan yang bijak, maka tekanan terhadap padang rumput akan semakin besar.

Karena itu, mendukung pertanian berkelanjutan, memilih produk ternak dari peternakan yang ramah lingkungan, atau sekadar mengurangi pemborosan makanan adalah langkah nyata yang bisa kita lakukan.

Masa Depan: Peternakan yang Lebih Pintar

Para peneliti juga menekankan perlunya pendekatan baru dalam mengelola padang rumput. Misalnya:

  • Teknologi satelit dan sensor tanah untuk memantau kondisi lahan secara real-time.
  • Rotasi penggembalaan agar tanah punya waktu pulih.
  • Integrasi dengan tanaman sehingga padang rumput tidak hanya jadi pakan ternak, tapi juga membantu menyerap karbon dan menjaga keanekaragaman hayati.

Dengan langkah-langkah ini, kita bisa memastikan bahwa ternak tetap menjadi sumber pangan penting tanpa harus mengorbankan kesehatan planet kita.

Dari hasil penelitian global ini, satu hal jadi jelas: cara kita menggembala ternak tidak hanya menentukan nasib padang rumput, tetapi juga masa depan iklim, air, dan udara yang kita hirup.

Jika dikelola dengan bijak, ternak bisa menjadi bagian dari solusi keberlanjutan. Namun jika diabaikan, penggembalaan bisa menjadi bom waktu ekologis.

Jadi, lain kali saat kita menikmati segelas susu hangat atau sepiring sate kambing, ingatlah bahwa di balik rasa nikmat itu ada cerita panjang tentang bagaimana manusia, ternak, dan alam saling bergantung. Dan di tangan kita juga, ada kesempatan untuk memastikan cerita itu berakhir indah.

Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk

REFERENSI:

Niu, Weiling dkk. 2025. Global effects of livestock grazing on ecosystem functions vary with grazing management and environment. Agriculture, Ecosystems & Environment 378, 109296.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top