Perubahan iklim kini menjadi tantangan besar bagi seluruh sektor kehidupan manusia, termasuk pertanian dan peternakan. Di wilayah semi-kering Afrika bagian selatan, tantangan ini terasa lebih berat. Kekeringan panjang, curah hujan yang tidak menentu, dan meningkatnya suhu membuat keberlangsungan hidup ternak serta keamanan pangan masyarakat semakin terancam. Padahal, ternak adalah salah satu penopang utama perekonomian dan ketahanan pangan di kawasan tersebut.
Di banyak wilayah Afrika selatan, peternakan tidak hanya soal daging dan susu. Hewan ternak juga menyediakan pupuk, tenaga kerja (misalnya sapi yang digunakan membajak ladang), hingga menjadi tabungan hidup bagi keluarga. Namun, semua fungsi itu bisa runtuh jika hewan tidak cukup makan atau sakit akibat cuaca ekstrem.
Ketersediaan pakan tradisional seperti rumput lapangan dan biji-bijian makin terbatas karena perubahan pola musim. Rumput mudah kering di musim kemarau, sementara harga pakan komersial meningkat tajam. Situasi ini mendorong para peneliti mencari cara baru untuk memastikan ternak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup tanpa bergantung penuh pada pakan konvensional.
Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C
Konsep Climate-Smart Nutrition
Climate-smart livestock nutrition adalah pendekatan yang menggabungkan ilmu gizi hewan, bioenergetika, dan agroekologi untuk menciptakan sistem pakan yang lebih adaptif terhadap iklim. Intinya, bukan hanya memberi makan ternak, tetapi juga memberi makan dengan cara yang lebih pintar, hemat, dan tahan banting.
Ada tiga tujuan utama, yakni:
- Meningkatkan ketahanan ternak terhadap panas dan penyakit
Misalnya dengan memberi pakan tambahan yang dapat membantu tubuh ternak mengatur suhu lebih baik atau meningkatkan daya tahan. - Menggunakan sumber pakan lokal yang tahan iklim ekstrem
Seperti tanaman biji-bijian yang bisa tumbuh di lahan kering, atau legum yang tahan panas. - Mengurangi ketergantungan pada pakan impor atau pakan komersial yang mahal
Dengan memanfaatkan bahan-bahan alternatif dari alam sekitar, petani dapat menghemat biaya sekaligus lebih mandiri.

Penelitian terbaru mengidentifikasi sejumlah tanaman dan bahan alami yang bisa dijadikan pakan ternak ramah iklim:
- Serealia tahan kering: Sorgum (Sorghum bicolor) dan millet mutiara (Pennisetum glaucum), yang bisa bertahan meski dengan sedikit air.
- Kacang-kacangan lokal: Seperti kacang bambara (Vigna subterranea) atau marama bean (Tylosema esculentum), sumber protein alami yang baik.
- Pohon pakan liar: Termasuk Vachellia, Colophospermum mopane, dan marula (Sclerocarya birrea), yang daunnya kaya mineral dan tetap hijau lebih lama.
- Sumber pakan non-konvensional: Serangga seperti larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) atau protein dari alga (Spirulina, Chlorella), yang semakin populer sebagai alternatif protein masa depan.
- Produk sampingan pertanian: Ampas buah, limbah kacang macadamia, dan hasil sampingan pertanian lain yang biasanya terbuang dapat diolah menjadi pakan tambahan.
Dengan beragam pilihan ini, peternak bisa lebih fleksibel dalam memberi makan ternaknya sesuai kondisi musim dan ketersediaan sumber daya lokal.

Selain sumber energi dan protein, pakan ramah iklim juga bisa diperkaya dengan zat tambahan yang membantu ternak bertahan dari tekanan lingkungan:
- Antioksidan untuk melawan stres panas.
- Probiotik dan prebiotik untuk menjaga kesehatan usus dan meningkatkan penyerapan nutrisi.
- Elektrolit yang penting untuk mencegah dehidrasi saat suhu tinggi.
Kombinasi ini tidak hanya menjaga ternak tetap hidup, tapi juga membuat mereka lebih produktif dalam menghasilkan susu, daging, atau tenaga.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Pendekatan nutrisi pintar ini bukan sekadar soal kesehatan hewan. Ia juga berhubungan erat dengan keamanan pangan, kesejahteraan petani, dan stabilitas ekonomi desa.
Jika ternak sehat, maka:
- Petani memiliki sumber pendapatan yang stabil.
- Anak-anak mendapatkan gizi dari susu dan daging.
- Masyarakat tidak perlu bergantung pada impor makanan.
Sebaliknya, jika pakan langka dan ternak mati, maka rantai kehidupan pedesaan ikut runtuh.
Tantangan yang Harus Diatasi
Meskipun prospeknya menjanjikan, ada beberapa hambatan nyata:
- Kurangnya pengetahuan – Banyak petani belum tahu cara memanfaatkan pakan alternatif.
- Keterbatasan riset lokal – Perlu lebih banyak penelitian untuk menguji bahan pakan baru dalam skala besar.
- Biaya awal – Beberapa inovasi seperti pakan serangga atau probiotik masih mahal dan sulit diakses.
- Dukungan kebijakan – Pemerintah perlu mendorong adopsi melalui pelatihan, insentif, dan regulasi yang jelas.
Masa Depan Peternakan Ramah Iklim
Jika pendekatan nutrisi pintar ini berhasil diterapkan secara luas, bukan tidak mungkin peternakan di Afrika bagian selatan akan menjadi contoh global tentang bagaimana mengatasi krisis pangan di era perubahan iklim.
Bayangkan sebuah desa di mana ternak diberi makan biji-bijian lokal yang tahan kekeringan, dilengkapi dengan suplemen probiotik alami, dan dipelihara dengan sistem yang hemat air. Ternak sehat, petani sejahtera, dan bumi pun lebih lestari.
Perubahan iklim adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari, namun manusia punya kemampuan untuk beradaptasi. Climate-smart livestock nutrition adalah salah satu jawaban penting, terutama di wilayah rawan seperti Afrika selatan. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, mengadopsi teknologi baru, dan memperkuat dukungan kebijakan, peternakan bisa tetap produktif sekaligus ramah lingkungan.
Inovasi ini tidak hanya menyelamatkan ternak, tapi juga menjaga masa depan pangan jutaan orang.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Fushai, Felix dkk. 2025. Climate-smart livestock nutrition in semi-arid Southern African agricultural systems. Frontiers in Veterinary Science 12, 1507152.


