Ketika mendengar kata “antibiotik,” kebanyakan orang langsung memikirkan obat yang diberikan dokter ketika sakit. Namun, di dunia peternakan, antibiotik memiliki peran yang jauh lebih luas. Selain digunakan untuk mengobati hewan yang sakit, antibiotik juga sering dipakai untuk mencegah penyakit menyebar di kandang, bahkan untuk mempercepat pertumbuhan hewan ternak.
Praktik ini sudah berlangsung selama puluhan tahun dan dianggap sebagai salah satu faktor yang membantu produksi daging, susu, dan telur dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia. Namun, di balik manfaatnya, penggunaan antibiotik yang berlebihan justru menyimpan ancaman besar: antibiotik bisa kehilangan efektivitasnya.
Fenomena ini dikenal sebagai antibiotic resistance (resistensi antibiotik), yaitu ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik sehingga penyakit pada manusia maupun hewan menjadi sulit diobati. WHO bahkan menyebut resistensi antibiotik sebagai salah satu ancaman kesehatan terbesar abad ini.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
Fakta Baru: Prediksi Penggunaan Antibiotik Hingga 2040
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Nature Communications tahun 2025 oleh Alejandro Acosta dan tim internasionalnya mencoba memprediksi bagaimana tren penggunaan antibiotik di peternakan dunia hingga tahun 2040. Hasilnya cukup mengejutkan.
Jika dunia terus berjalan dengan pola business-as-usual (tidak ada kebijakan baru yang signifikan untuk mengendalikan antibiotik) maka pada tahun 2040 penggunaan antibiotik global di sektor peternakan bisa mencapai 143.481 ton. Angka ini naik hampir 30% dibandingkan tahun 2019 (sekitar 110.777 ton).

Namun, studi ini juga menyajikan skenario alternatif. Dengan berbagai strategi pengurangan, proyeksi penggunaan antibiotik bisa turun drastis hingga 56,8%, atau sebaliknya justru naik sedikit (+14,2%), tergantung bagaimana kebijakan, teknologi, dan praktik peternakan diterapkan di berbagai negara.
Mengapa Angka Ini Begitu Penting?
Mungkin muncul pertanyaan: apa dampaknya kalau penggunaan antibiotik naik?
Bayangkan bakteri yang terus “dilatih” untuk melawan antibiotik setiap hari karena dosis yang berlebihan di kandang sapi, ayam, atau babi. Lama-kelamaan, bakteri yang mampu bertahan hidup akan semakin kuat, berkembang biak, dan bisa menyebar ke manusia melalui makanan, lingkungan, atau kontak langsung.
Jika ini terjadi, antibiotik yang biasa digunakan untuk menyelamatkan nyawa. Misalnya untuk mengobati infeksi paru-paru atau luka operasi bisa menjadi tidak efektif lagi. Menurut WHO, resistensi antibiotik bisa menyebabkan 10 juta kematian per tahun pada 2050 jika tidak dikendalikan.
Metode Baru: Livestock Biomass Conversion
Salah satu kontribusi besar dari penelitian ini adalah pengembangan metode baru yang disebut Livestock Biomass Conversion.
Selama ini, menghitung berapa banyak antibiotik yang digunakan di sektor peternakan tidak mudah. Data seringkali bias karena hanya berdasarkan jumlah hewan, tanpa memperhitungkan ukuran tubuh, jenis ternak, atau sistem pemeliharaan.
Metode Livestock Biomass Conversion menawarkan cara yang lebih akurat dengan menghitung biomassa (total bobot hidup seluruh ternak) sebagai indikator. Dengan cara ini, kita bisa mengetahui seberapa intensif antibiotik digunakan per satuan bobot ternak, bukan hanya per ekor hewan.
Metode ini penting untuk memberikan gambaran yang lebih jelas bagi pembuat kebijakan, peternak, dan masyarakat tentang sejauh mana penggunaan antibiotik sebenarnya.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mengurangi Ketergantungan Antibiotik?
Para peneliti menekankan bahwa menurunkan penggunaan antibiotik di peternakan bukanlah hal mustahil. Beberapa solusi yang sedang dan bisa diterapkan antara lain:
- Perbaikan Manajemen Kandang
Lingkungan yang bersih, ventilasi yang baik, dan kepadatan ternak yang wajar bisa mencegah penyebaran penyakit sehingga kebutuhan antibiotik berkurang. - Nutrisi dan Pakan yang Lebih Baik
Memberikan pakan berkualitas tinggi dengan tambahan probiotik atau suplemen alami bisa meningkatkan daya tahan tubuh hewan tanpa perlu antibiotik rutin. - Vaksinasi
Sama seperti manusia, vaksin bisa melindungi ternak dari penyakit tertentu sehingga tidak perlu pengobatan antibiotik. - Teknologi Presisi
Dengan sensor dan AI, peternak bisa memantau kesehatan hewan secara real-time, sehingga pengobatan bisa diberikan lebih tepat sasaran dan tidak berlebihan. - Regulasi dan Edukasi
Pemerintah perlu memperketat aturan penggunaan antibiotik, misalnya melarang pemakaian untuk sekadar mempercepat pertumbuhan, serta memberikan pelatihan kepada peternak.

Menariknya, sebagian besar pertumbuhan penggunaan antibiotik diperkirakan akan terjadi di negara-negara berkembang, di mana konsumsi daging meningkat pesat seiring pertumbuhan penduduk dan pendapatan.
India, Cina, Brasil, hingga beberapa negara Afrika diproyeksikan akan menjadi pusat konsumsi antibiotik terbesar di masa depan. Karena itu, strategi global harus memperhatikan konteks lokal: regulasi yang ketat di Eropa tidak cukup jika negara lain tidak ikut berkomitmen.
Harapan ke Depan
Artikel ini menunjukkan bahwa masa depan antibiotik di peternakan sangat bergantung pada pilihan yang kita buat sekarang. Jika dibiarkan begitu saja, penggunaan antibiotik bisa melonjak drastis dan memperparah krisis resistensi global. Namun, jika langkah-langkah pengendalian diambil dengan serius. Mulai dari teknologi, kebijakan, hingga perubahan perilaku peternak, maka justru peluang untuk mengurangi ketergantungan antibiotik terbuka lebar.
Antibiotik adalah penemuan luar biasa yang telah menyelamatkan jutaan nyawa sejak ditemukan. Namun, penggunaannya yang berlebihan di sektor peternakan bisa menjadi bumerang yang mengancam kesehatan manusia dan hewan di seluruh dunia.
Masa depan antibiotik bukan hanya soal obat, tapi soal pilihan manusia, bagaimana kita memelihara hewan, mengatur pangan, dan melindungi kesehatan global.
Jika dunia bisa bersatu untuk menekan emisi karbon demi iklim, maka hal yang sama juga bisa dilakukan untuk menjaga efektivitas antibiotik: sebuah aset berharga yang tidak boleh hilang hanya karena kelalaian kita.
Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan
REFERENSI:
Acosta, Alejandro dkk. 2025. The future of antibiotic use in livestock. Nature communications 16 (1), 2469.


