Rahasia di Balik Sapi: Mengapa Cara Beternak Tidak Bisa Sama di Setiap Negara

Ketika mendengar istilah peternakan sapi atau ternak ruminansia (hewan pemamah biak seperti kambing, domba, dan kerbau) banyak orang biasanya langsung mengaitkannya dengan produk yang akrab di kehidupan sehari-hari. Misalnya, daging sapi yang dijual di pasar, susu segar yang tersaji di meja sarapan, atau sate kambing yang menjadi hidangan khas saat lebaran. Gambaran itu memang benar, tetapi hanya terlihat di permukaan.

Di balik produk-produk yang kita konsumsi itu, ternyata ada sebuah sistem yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memberi makan hewan lalu memeliharanya di dalam kandang. Peternakan ruminansia melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan: mulai dari pemilihan bibit hewan yang unggul, pemberian pakan bergizi seimbang, manajemen kesehatan agar ternak bebas dari penyakit, hingga pengelolaan lingkungan supaya limbah tidak mencemari alam.

Selain itu, peternakan juga harus memperhatikan efisiensi biaya, kesejahteraan hewan, dan tuntutan pasar. Artinya, dunia peternakan modern bukan hanya urusan menjaga hewan tetap hidup, tetapi juga seni mengelola sumber daya alam, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk menghasilkan pangan yang sehat, berkelanjutan, dan dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Produksi ternak ruminansia adalah salah satu sektor penggunaan lahan terbesar di dunia. Ia punya dampak besar terhadap lingkungan, ekonomi, dan sosial. Dari satu sisi, sektor ini menyediakan protein hewani penting bagi miliaran orang. Dari sisi lain, ia juga sering dikritik karena menghasilkan gas rumah kaca, membutuhkan lahan yang luas, dan kadang memicu konflik penggunaan lahan.

Wilayah yang diarsir dan diberi nomor pada peta menunjukkan geografi studi kasus.

Inilah sebabnya mengapa para ilmuwan menyebut peternakan ruminansia sebagai sektor yang “paling bervariasi, kompleks, dan kontroversial” dalam sistem pangan global.

Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan

Tantangan Keberlanjutan

Banyak seruan agar industri ternak menjadi lebih berkelanjutan. Artinya, kita ingin produksi daging dan susu tetap mampu memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tanpa merusak lingkungan atau mengorbankan kesejahteraan sosial. Sayangnya, menurut penelitian terbaru, kemajuan dalam hal ini masih sangat terbatas.

Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena solusi yang ditawarkan sering kali terlalu umum dan tidak memperhitungkan perbedaan konteks lokal. Cara beternak sapi di Norwegia tentu tidak bisa begitu saja diterapkan di Kenya. Begitu juga sistem peternakan domba di Australia tidak bisa dipaksakan di Amerika Latin.

Konteks Itu Penting

Artikel dalam Global Food Security menekankan bahwa kunci untuk menemukan solusi yang efektif adalah memahami konteks. Konteks di sini meliputi:

  • Lingkungan alam: iklim, kondisi tanah, ketersediaan air, dan padang rumput.
  • Sosial dan budaya: kebiasaan makan, tradisi beternak, hingga peran ternak dalam kehidupan sehari-hari.
  • Ekonomi: akses peternak terhadap pasar, harga pakan, dan biaya transportasi.
  • Kebijakan dan regulasi: aturan pemerintah tentang kesehatan hewan, lingkungan, dan perdagangan.

Tanpa mempertimbangkan faktor-faktor ini, rekomendasi untuk memperbaiki sistem peternakan bisa jadi tidak relevan atau sulit dilaksanakan.

Studi Kasus dari Berbagai Negara

Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kualitatif komparatif dari sepuluh studi kasus yang dipimpin oleh para ahli di berbagai wilayah dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun semua orang bicara soal sustainability (keberlanjutan), strategi yang cocok di satu tempat belum tentu berhasil di tempat lain.

Contohnya:

  • Afrika Timur: sapi bukan hanya sumber daging, tapi juga simbol status sosial dan tabungan keluarga. Program peningkatan produktivitas harus sensitif terhadap nilai budaya ini.
  • Amerika Selatan: lahan peternakan sering berkompetisi dengan perkebunan kedelai dan tebu. Di sini, isu utama bukan hanya efisiensi pakan, tapi juga konflik penggunaan lahan.
  • Eropa Utara: teknologi canggih seperti digital twin atau sensor kesehatan hewan mulai digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan hewan. Namun, biaya investasi tinggi membuatnya sulit diterapkan di negara berkembang.
Dinamika perubahan manajemen ternak di seluruh studi kasus.

Salah satu pesan penting penelitian ini adalah perlunya keseimbangan antara perspektif lokal dan global.

  • Terlalu lokal: solusi mungkin relevan, tapi sulit digeneralisasi untuk kebijakan global.
  • Terlalu global: solusi mungkin terdengar bagus di atas kertas, tapi tidak cocok dengan realitas di lapangan.

Maka, dibutuhkan pendekatan yang cukup spesifik agar sesuai dengan kondisi setempat, namun juga cukup luas agar bisa menjadi dasar kebijakan internasional.

Dampak Bagi Kebijakan dan Masyarakat

Mengapa ini penting bagi kita, orang awam? Karena cara kita mengatur produksi ternak akan memengaruhi:

  1. Harga pangan: jika sistem tidak efisien, harga daging dan susu bisa melambung.
  2. Lingkungan: peternakan yang tidak dikelola dengan baik bisa mempercepat perubahan iklim dan merusak ekosistem.
  3. Kesehatan manusia: penggunaan antibiotik berlebihan dalam peternakan dapat memicu resistensi antimikroba yang berbahaya bagi manusia.
  4. Ketahanan pangan: di banyak negara berkembang, sapi atau kambing adalah sumber protein utama dan juga aset ekonomi penting.

Dengan memahami konteks, kita bisa membuat kebijakan yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan.

Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Bagaimana caranya? Para peneliti menyarankan beberapa langkah:

  • Riset berbasis lapangan: tidak cukup hanya data global; kita perlu memahami kondisi nyata peternak kecil di berbagai daerah.
  • Kolaborasi lintas disiplin: ahli hewan, agronom, ekonom, dan sosiolog perlu bekerja bersama.
  • Keterlibatan masyarakat lokal: solusi harus melibatkan peternak dan masyarakat yang benar-benar merasakan dampaknya.
  • Pendekatan bertahap: tidak ada solusi instan; yang ada adalah serangkaian inovasi kecil yang terus diperbaiki.

Peternakan ruminansia adalah tulang punggung pangan dunia, tetapi juga tantangan besar bagi keberlanjutan planet ini. Artikel “Context is key to understand and improve livestock production systems” mengingatkan kita bahwa tidak ada resep tunggal untuk memperbaiki sistem ini.

Kuncinya ada pada konteks: memahami perbedaan lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya di setiap wilayah. Dengan begitu, kita bisa merancang solusi yang benar-benar relevan, efektif, dan adil. Bukan hanya untuk peternak, tapi juga untuk konsumen, lingkungan, dan generasi masa depan.

Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C

REFERENSI:

Kazanski, Clare E dkk. 2025. Context is key to understand and improve livestock production systems. Global Food Security 45, 100840.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top