Salmon dikenal sebagai salah satu ikan paling bernilai di dunia. Permintaan pasar yang tinggi, terutama di Eropa, Amerika, dan Asia, membuat peternakan salmon (salmon aquaculture) tumbuh pesat, khususnya di Norwegia. Negara ini bahkan menjadi salah satu eksportir utama salmon dunia.
Namun, di balik peluang besar tersebut, ada tantangan yang jarang dibicarakan: lokasi tambak. Ternyata, letak tambak salmon, khususnya jaraknya dengan tambak lain, sangat memengaruhi kesehatan ikan, biaya produksi, hingga keuntungan peternak.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di Aquaculture Economics & Management (2025) oleh Kamila Kulmambetova dan Ragnar Tveterås, mengungkap bahwa kedekatan tambak salmon satu sama lain bisa membawa dampak ekonomi yang signifikan, baik positif maupun negatif.
Baca juga artikel tentang: Mengurangi Gas Rumah Kaca dari Sapi: Solusi Mengejutkan dari Ampas Kopi
Jarak Dekat, Risiko Tinggi
Tambak salmon biasanya berbentuk keramba jaring apung di laut terbuka. Ketika satu tambak berdekatan dengan tambak lain, ada kemungkinan lebih besar terjadinya penyebaran penyakit dan parasit.
Salah satu masalah serius adalah kutu laut (salmon lice), parasit kecil yang menempel di tubuh salmon. Jika satu tambak terkena serangan kutu laut, tambak di sekitarnya berisiko tinggi ikut tertular, terutama bila jaraknya terlalu dekat.

Selain itu, penyakit ikan juga lebih cepat menyebar ketika tambak-tambak berada dalam radius yang sempit. Gelombang laut, arus air, dan faktor hidrodinamika lain menjadi “jalur transportasi” alami bagi parasit maupun patogen.
Artinya, semakin padat dan berdekatan lokasi tambak salmon, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan, pengobatan, hingga pencegahan penyakit.
Biaya Produksi Bisa Melonjak
Penelitian ini menggunakan data panel dari sejumlah tambak salmon di Norwegia. Hasilnya menunjukkan bahwa kedekatan dengan tambak lain cenderung meningkatkan biaya produksi secara signifikan.

Ada dua indikator yang digunakan untuk mengukur kepadatan spasial tambak:
- Jarak rata-rata ke tambak terdekat – semakin dekat jaraknya, risiko eksternalitas biologis (seperti penyakit) makin tinggi.
- Jumlah tambak dalam radius 20 km – semakin banyak tambak dalam jarak ini, semakin besar pula potensi biaya tambahan.
Dengan kata lain, bukan hanya manajemen internal tambak yang penting, tapi juga kondisi lingkungan sekitar dan siapa tetangganya.
Eksternalitas: Efek Domino dari Tambak Tetangga
Dalam ilmu ekonomi, ada istilah eksternalitas, yaitu dampak yang ditimbulkan suatu aktivitas terhadap pihak lain di luar pelaku utama.
Pada tambak salmon, eksternalitas biologis bisa berupa:
- Penyebaran kutu laut.
- Penularan penyakit antar-tambak.
- Dampak kualitas air laut yang tercemar pakan atau limbah.
Masalahnya, eksternalitas ini tidak hanya merugikan satu tambak, tetapi bisa menjalar ke banyak tambak lain. Akibatnya, biaya tambahan harus ditanggung bersama, entah dalam bentuk obat, teknologi pengendalian, atau kerugian karena ikan mati.
Implikasi Ekonomi dan Sosial
Penelitian ini menekankan bahwa struktur lokasi tambak salmon berpengaruh pada kesejahteraan ekonomi. Tambak yang lokasinya terlalu padat justru bisa membuat biaya melonjak, sehingga keuntungan menurun.
Sebaliknya, tambak yang jaraknya lebih jauh satu sama lain bisa menurunkan risiko penyebaran penyakit, meskipun tantangan logistik (seperti distribusi pakan atau hasil panen) mungkin meningkat.
Bagi pemerintah dan pengambil kebijakan, temuan ini menjadi penting untuk merancang aturan zonasi tambak salmon. Dengan pengaturan lokasi yang lebih baik, diharapkan bisa mengurangi eksternalitas negatif, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan keberlanjutan industri akuakultur.
Belajar dari Norwegia, Relevan untuk Dunia
Norwegia memang menjadi fokus penelitian ini, tetapi pelajaran yang bisa diambil berlaku untuk banyak negara lain yang mengembangkan akuakultur salmon maupun ikan laut bernilai tinggi lainnya.
Di Chili, Skotlandia, Kanada, hingga Tiongkok, peternakan salmon menghadapi tantangan serupa: bagaimana menyeimbangkan kepadatan tambak dengan risiko penyakit dan biaya produksi.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan bahwa akuakultur modern tidak bisa dipandang hanya sebagai bisnis individu. Ia adalah ekosistem besar, di mana keberhasilan satu tambak sangat dipengaruhi oleh kondisi dan praktik tambak tetangga.
Menuju Akuakultur yang Lebih Berkelanjutan
Lalu, apa solusinya? Peneliti menyarankan beberapa langkah:
- Pengaturan Zonasi yang Tepat
Pemerintah bisa mengatur jarak minimal antar-tambak untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit. - Kolaborasi Antar-Peternak
Alih-alih bersaing semata, peternak salmon perlu bekerja sama dalam memantau penyakit, berbagi informasi, dan menerapkan standar kesehatan ikan. - Teknologi Pemantauan
Sensor kualitas air, sistem deteksi dini penyakit, hingga pemodelan arus laut berbasis komputer bisa membantu mengantisipasi risiko eksternalitas. - Diversifikasi Lokasi
Mengembangkan tambak di area baru (misalnya lepas pantai) dapat membantu mengurangi kepadatan spasial di wilayah lama.
Penelitian Kamila Kulmambetova dan Ragnar Tveterås membuka mata kita bahwa lokasi tambak salmon bukan hanya soal logistik atau akses pasar, tetapi juga soal kesehatan ikan, biaya produksi, dan keberlanjutan ekonomi.
Industri akuakultur masa depan harus memperhatikan bukan hanya apa yang terjadi di dalam keramba, tetapi juga interaksi antar-tambak dalam skala lebih luas.
Dengan perencanaan lokasi yang lebih bijak, kolaborasi yang lebih erat, dan pemanfaatan teknologi canggih, peternakan salmon bisa menjadi lebih produktif, berkelanjutan, dan menguntungkan, bukan hanya untuk peternak, tetapi juga untuk lingkungan dan masyarakat luas.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Kulmambetova, Kamila & Tveterås, Ragnar. 2025. Spatial density, externalities, and productivity of salmon aquaculture farms. Aquaculture Economics & Management, 1-25.


