Matahari, Partner Baru Peternak: Solusi Hijau untuk Protein Dunia

Tahukah Anda bahwa setidaknya 14,5% dari total emisi gas rumah kaca dunia berasal dari sektor peternakan? Dari kandang sapi hingga pengolahan pakan, aktivitas peternakan menyumbang cukup besar terhadap perubahan iklim. Padahal, kebutuhan protein hewani manusia dari daging, telur, dan susu terus meningkat.

Di sinilah muncul pertanyaan besar: bagaimana cara membuat peternakan tetap produktif, tetapi tidak merusak lingkungan? Jawabannya bisa datang dari sesuatu yang sederhana dan selalu ada di sekitar kita: matahari.

Matahari bukan hanya sumber cahaya, tetapi juga sumber panas yang bisa dimanfaatkan melalui teknologi surya termal (solar thermal technologies). Teknologi ini bekerja dengan cara mengubah sinar matahari menjadi panas yang bisa digunakan langsung untuk berbagai kebutuhan di peternakan.

Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk

Menurut kajian terbaru yang diterbitkan di jurnal Solar Energy (2025), ada tiga aplikasi utama panas matahari di bidang peternakan:

  1. Pengeringan Pakan Ternak (animal feed)
    Banyak pakan ternak berasal dari limbah pertanian seperti dedak padi atau tongkol jagung. Proses pengeringan sangat penting agar pakan tahan lama dan tidak berjamur. Dengan sinar matahari, pakan bisa dikeringkan tanpa harus bergantung pada bahan bakar fosil.
  2. Pengeringan Produk Hewani (animal products)
    Produk seperti ikan, daging, atau susu bubuk membutuhkan proses pengeringan agar awet. Energi surya bisa menggantikan oven berbahan bakar minyak atau listrik konvensional yang boros energi.
  3. Pemanas (heating)
    Peternakan sering memerlukan panas, misalnya untuk menghangatkan anak ayam (chicken brooder) atau menjaga suhu ruangan agar ternak tetap sehat. Teknologi surya bisa menyuplai panas ini secara berkelanjutan.
Gambar berbagai rancangan pengering tenaga surya yang menggunakan kolektor panas, kipas konveksi, dan sistem kontrol untuk mengeringkan bahan secara efisien dengan energi matahari.

Mengapa Ini Penting?

Menggunakan energi matahari di peternakan membawa manfaat ganda:

  • Ramah lingkungan: Mengurangi ketergantungan pada batu bara, minyak, dan gas yang menghasilkan emisi karbon.
  • Hemat biaya: Setelah instalasi, energi matahari gratis. Peternak tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk listrik atau bahan bakar.
  • Kualitas produk lebih baik: Pengeringan dengan sistem surya lebih higienis dan bisa dikontrol, berbeda dengan penjemuran tradisional yang tergantung cuaca.
  • Memanfaatkan potensi tropis: Negara-negara tropis seperti Indonesia memiliki sinar matahari melimpah hampir sepanjang tahun.

Apa Kata Penelitian?

Kajian yang dilakukan para peneliti menekankan beberapa temuan kunci:

  1. Potensi Besar di Tropis
    Sebagian besar penelitian pengeringan dengan tenaga surya masih terfokus pada pakan dari limbah pertanian di wilayah tropis. Padahal, potensinya jauh lebih luas, termasuk untuk produk hewani seperti daging sapi, ikan, dan unggas.
  2. Kesenjangan Riset
    Masih sedikit studi yang mengkaji bagaimana teknologi ini bisa diterapkan untuk kebutuhan pemanas khusus, misalnya kandang ayam. Padahal, ini sangat relevan bagi peternakan rakyat.
  3. Peran Sistem Hibrida
    Di Eropa, riset lebih banyak membahas sistem gabungan antara surya termal dan surya fotovoltaik (PV). Gabungan ini memungkinkan peternakan mendapat panas sekaligus listrik dari matahari.
  4. Standarisasi Emisi
    Penelitian menyoroti perlunya standar internasional untuk mengukur seberapa besar pengurangan emisi per kilogram protein yang dihasilkan. Ini penting agar konsumen bisa yakin bahwa produk hewani benar-benar lebih ramah lingkungan.
Gambar rancangan pengering surya tipe kabinet dengan pemanas udara tenaga matahari, blower, dan ruang bertray berinsulasi untuk mengeringkan kopra melalui aliran udara panas yang dikontrol.

Tantangan di Lapangan

Meski menjanjikan, penerapan teknologi surya di peternakan masih menghadapi sejumlah kendala:

  • Kontinuitas Panas: Pengeringan membutuhkan suhu stabil. Cuaca berawan atau hujan bisa mengganggu proses.
  • Teknologi dan Manajemen: Diperlukan perhitungan matang tentang kebutuhan energi dan model pengeringan agar hasil optimal.
  • Biaya Awal: Meski energi matahari gratis, investasi awal untuk membangun sistem surya termal masih relatif mahal bagi peternak kecil.
  • Kurangnya Pengetahuan: Banyak peternak belum terbiasa dengan sistem baru dan lebih memilih cara tradisional.

Solusi yang Bisa Ditempuh

Para peneliti menawarkan beberapa langkah untuk mengatasi hambatan tersebut:

  1. Riset dan Inovasi Lanjutan
    Fokus pada pengembangan teknologi pengeringan untuk produk hewani (daging, ikan, susu), bukan hanya pakan.
  2. Integrasi Energi Surya Hibrida
    Menggabungkan surya termal dan fotovoltaik agar kebutuhan panas dan listrik bisa dipenuhi sekaligus.
  3. Dukungan Kebijakan
    Pemerintah dapat memberikan subsidi, insentif, atau kredit murah untuk peternak yang beralih ke energi surya.
  4. Edukasi dan Pelatihan
    Peternak perlu didampingi agar bisa mengoperasikan teknologi ini dengan benar, termasuk cara menghitung kebutuhan energi dan merawat alat.
  5. Pengukuran Emisi
    Penting untuk membuat standar penghitungan jejak karbon, sehingga produk hewani berlabel “rendah emisi” bisa dipercaya pasar.

Bayangkan Masa Depan Peternakan

Bayangkan sebuah peternakan ayam di pedesaan Indonesia. Anak ayam tetap hangat dengan pemanas tenaga surya, pakan dari limbah pertanian dikeringkan dengan sistem surya, dan ikan hasil panen dijemur di ruang pengering bertenaga matahari yang higienis.

Biaya listrik turun drastis, lingkungan lebih bersih, dan produk bisa dijual lebih mahal karena mendapat label “green protein”.

Inilah masa depan peternakan berkelanjutan: produktif, hemat, dan ramah lingkungan.

Peternakan adalah salah satu pilar pangan dunia, tetapi juga penyumbang besar gas rumah kaca. Dengan memanfaatkan energi matahari, kita bisa mengubah wajah peternakan menjadi lebih hijau.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi surya termal punya potensi besar, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Meski masih ada tantangan, dengan dukungan riset, kebijakan, dan edukasi, teknologi ini bisa menjadi salah satu kunci menuju ketahanan pangan yang berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, setiap gigitan daging, telur, atau susu yang kita konsumsi tidak hanya soal gizi, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga bumi untuk generasi mendatang.

Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C

REFERENSI:

Ramadhani, Umar Hanif dkk. 2025. Review of solar thermal technologies in sustainable animal agriculture farms: Current and potential uses. Solar Energy 291, 113374.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top